Friday, November 27, 2015

Review Buku “Magnus Chase & The Gods of Asgard #1”: Lahirnya Pahlawan Baru


Ah, I was thrilled when this book was finally released last month! Karya-karyanya Rick Riordan sudah kunikmati dari era Percy Jackson and The Olympians. Sebagai seorang guru yang mendalami Bahasa Inggris dan Sejarah, Uncle Rickbegitulah dia biasa disapamampu mengangkat kisah berbagai mitologi yang saling tumpang tindih menjadi sebuah cerita yang padu. Setelah berhasil mengguncang para fantasy junkie dengan seri Percy Jackson and The Olympians, The Kane Chronicles, serta The Heroes of Olympus, Uncle Rick kembali ‘melahirkan’ sosok pahlawan baru.

Dialah Magnus Chase; remaja 16 tahun yang hidup terkatung-katung di jalanan kota Boston semenjak kematian sang ibu dua tahun silam. Entah bagaimana ceritanya, Magnus berhasil bertahan hidup di jalanan selama itu. Padahal jalanan Boston jauh dari kata ramah untuk gelandangan, apalagi yang masih di bawah umur seperti Magnus. Patroli siswa bolos, mahasiswa mabuk, relawan komunitas, atau pecandu yang mencari mangsa lemah untuk dipalak; sebut saja, Magnus bisa mengatasi orang-orang seperti itu.

Monday, November 23, 2015

Review Buku “Under The Blue Moon”: Memburu Jejak Bayangan dan Si Penyair



“Aku ingin bertabrakan. Aku ingin berlari menabrak Shadow dan membiarkan daya benturannya menumpahkan pikiran kami. Sehingga kami bisa saling memungut dan mengembalikan pikiran satu sama lain yang seperti tumpukan batu-batu mengilap.”

Baris di atas bisa kalian temui di bagian pembukaan, dan hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah: “Okay, this book deserves to get more attention.” Aku suka sekali dengan ide tentang ‘pikiran yang saling berbenturan’ serta ‘saling memungut dan mengembalikan pikiran satu sama lain’. Pertemuan dua pikiran yang saling berkelindan terasa jauh lebih intim ketimbang kontak fisik dalam bentuk apapun. Jadi, meski sedari awal sudah bisa ditebak bahwa novel ini sarat akan romansa, pasti ada hal tak biasa yang ingin disampaikan si penulis.

Tersebutlah seorang gadis bernama Lucy Dervish, remaja tanggung yang sedang menyusun rencana studi setelah ia lulus dari sekolah menengah. Lucy ingin menjadi seniman, beberapa tahun terakhir ia bekerja paruh waktu di studio pembuatan kaca yang dimiliki oleh Al, guru sekaligus bosnya. Tak banyak hal bagus dari sudut kota tempat Lucy tinggal, kecuali satu hal: grafiti karya seniman jalanan misterius yang bernama Shadow—bayangan. Sudah lama sekali Lucy mengagumi karya-karya Shadow yang tersebar di seluruh penjuru kota. Di tembok-tembok gedung tinggi, di tepian jalan tol, di pinggiran rel kereta, di dalam karavan tua yang nyaris menjadi rongsokan. Sebut saja tempat-tempat yang bisa terpikirkan olehmu, mungkin tempat itu sudah terjamah oleh tangan Shadow.

Tuesday, September 22, 2015

Fiksi: Jangan Sakiti Jingga Lagi



“Mbak? Mbak? Loh gimana sih, saya ajak bicara kok malah bengong. Tagihan saya gimana kelanjutannya? Saya keberatan kalau harus bayar sebesar ini!” Suara cempreng seorang wanita membuyarkan lamunanku. Astaga. Sudah berapa lama aku termenung?

Kurapikan berkas yang berserakan di atas meja untuk mengurangi ketegangan. “Mohon maaf, Ibu, saya minta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan pimpinan saya.” Tanpa menunggu respon darinya aku pun bangkit, dengan sedikit terseok-seok aku berhasil mencapai ruang belakang.

Tanganku sedikit gemetar, berusaha mengingat ocehan terakhir pelangganku sebelum aku memasuki kondisi trans. Ya, Ibu tadi marah karena tagihan nomor pascabayarnya membengkak selama ia bepergian di Eropa. Ah, salahnya sendiri, main pergi saja ke luar negeri, membawa ponsel canggih tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan penyedia jasa telekomunikasi. Satu lagi pelanggan dari kelas menengah yang berlomba-lomba membeli ponsel paling canggih namun tidak membekali diri dengan informasi terkini seputar teknologi, alias gaptek.

Tuesday, August 18, 2015

Fiksi: Jangan Sakiti Jingga



“Selamat ulang tahun, Ayah. Jingga sayang Ayah…”

Klik, kutekan tombol kirim pada layar ponselku, lalu cepat-cepat kumasukkan lagi ke dalam saku blazer. Waktuku tak banyak, antrean pelanggan sudah mengular di ruang tunggu, nyaris menyamai antrean sembako gratis. Pimpinanku takkan senang mendapati salah satu petugas garda depannya menghabiskan waktu terlalu lama di ruang belakang.

Tepat sebelum membuka daun pintu yang menghubungkan ruang belakang dengan ruang pelayanan, aku mematut diri sekali lagi di hadapan cermin. Palsu! Aku memaki diriku sendiri. Semua yang kukenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya palsu. Jilbab segi empat yang dililit terlalu ketat hingga mencekik leherku, setelan blazer mahal rancangan Oscar Lawalata yang khusus dipesankan untukku, hingga sepatu tumit tinggi yang berpotensi menimbulkan varises di kakiku. Dan tak ketinggalan, senyum simetris yang harus selalu kupasang di wajah, tak peduli meski pelanggan yang sedang kulayani menghardikku sembari menggebrak meja.

Menyenangkan bukan, caraku mengais rezeki?

Thursday, June 18, 2015

Fiksi: Tablet Ayah



“Nduk, bisa kemari sebentar?” Suara ayah yang dalam dan hangat terdengar dari ruang tamu. Ayu pun menghentikan kegiatannya mencacah bawang dan menghampiri sang ayah.

“Ada apa, Yah?” Ayu menghampiri dan duduk bersimpuh di sisi pria paruh baya itu.

Ayahnya mengangsurkan sebuah tablet yang tak asing lagi bagi remaja seusia Ayu. Namun bagi orangtua kolot seperti ayahnya, mengoperasikan benda canggih semacam itu rasanya seperti disuruh mengulang sekolah dari SMP hingga tamat. Terlalu banyak hal rumit yang tak ia pahami. Terlalu banyak tombol ganjil dengan fungsi yang tak lazim dan harus ia hafal. Rasanya dahulu menghafal nama-nama seluruh menteri dalam kabinet tak sesulit menghafal fungsi tiap panel yang ada dalam benda ini.

Dengan dahi berkerut, ayahnya berkata, “Gini, Nduk, ayah mau balas BBM Pakdhe-mu kok nggak bisa bisa? Kenapa ya? Apa pulsanya habis?”

Ayu tersenyum maklum dan meraih tablet itu. Ia pandangi sebentar, meneliti di mana letak permasalahannya seperti mantri sedang memeriksa pasien. Tak sampai lima detik Ayu langsung tahu sebab musababnya.

“Ya gimana mau kekirim, Yah? Lha wong tabletnya dalam kondisi flight mode.” Ayu menyodorkan kembali tablet itu ke tangan ayahnya. “Lihat nih, kalau di atas sini ada gambar pesawat, artinya tablet ini dalam kondisi flight mode. Semua koneksi terputus, jadi ayah nggak bisa kirim SMS, telepon, browsing internet, bahkan BBM pun nggak bisa. Ayah tadi pasti nggak sengaja pencet sana sini. Nih, sudah Ayu betulkan, sekarang coba lagi.”