Thursday, June 18, 2015

Fiksi: Tablet Ayah



“Nduk, bisa kemari sebentar?” Suara ayah yang dalam dan hangat terdengar dari ruang tamu. Ayu pun menghentikan kegiatannya mencacah bawang dan menghampiri sang ayah.

“Ada apa, Yah?” Ayu menghampiri dan duduk bersimpuh di sisi pria paruh baya itu.

Ayahnya mengangsurkan sebuah tablet yang tak asing lagi bagi remaja seusia Ayu. Namun bagi orangtua kolot seperti ayahnya, mengoperasikan benda canggih semacam itu rasanya seperti disuruh mengulang sekolah dari SMP hingga tamat. Terlalu banyak hal rumit yang tak ia pahami. Terlalu banyak tombol ganjil dengan fungsi yang tak lazim dan harus ia hafal. Rasanya dahulu menghafal nama-nama seluruh menteri dalam kabinet tak sesulit menghafal fungsi tiap panel yang ada dalam benda ini.

Dengan dahi berkerut, ayahnya berkata, “Gini, Nduk, ayah mau balas BBM Pakdhe-mu kok nggak bisa bisa? Kenapa ya? Apa pulsanya habis?”

Ayu tersenyum maklum dan meraih tablet itu. Ia pandangi sebentar, meneliti di mana letak permasalahannya seperti mantri sedang memeriksa pasien. Tak sampai lima detik Ayu langsung tahu sebab musababnya.

“Ya gimana mau kekirim, Yah? Lha wong tabletnya dalam kondisi flight mode.” Ayu menyodorkan kembali tablet itu ke tangan ayahnya. “Lihat nih, kalau di atas sini ada gambar pesawat, artinya tablet ini dalam kondisi flight mode. Semua koneksi terputus, jadi ayah nggak bisa kirim SMS, telepon, browsing internet, bahkan BBM pun nggak bisa. Ayah tadi pasti nggak sengaja pencet sana sini. Nih, sudah Ayu betulkan, sekarang coba lagi.”