Tuesday, August 18, 2015

Fiksi: Jangan Sakiti Jingga



“Selamat ulang tahun, Ayah. Jingga sayang Ayah…”

Klik, kutekan tombol kirim pada layar ponselku, lalu cepat-cepat kumasukkan lagi ke dalam saku blazer. Waktuku tak banyak, antrean pelanggan sudah mengular di ruang tunggu, nyaris menyamai antrean sembako gratis. Pimpinanku takkan senang mendapati salah satu petugas garda depannya menghabiskan waktu terlalu lama di ruang belakang.

Tepat sebelum membuka daun pintu yang menghubungkan ruang belakang dengan ruang pelayanan, aku mematut diri sekali lagi di hadapan cermin. Palsu! Aku memaki diriku sendiri. Semua yang kukenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya palsu. Jilbab segi empat yang dililit terlalu ketat hingga mencekik leherku, setelan blazer mahal rancangan Oscar Lawalata yang khusus dipesankan untukku, hingga sepatu tumit tinggi yang berpotensi menimbulkan varises di kakiku. Dan tak ketinggalan, senyum simetris yang harus selalu kupasang di wajah, tak peduli meski pelanggan yang sedang kulayani menghardikku sembari menggebrak meja.

Menyenangkan bukan, caraku mengais rezeki?

Untungnya, meski pelanggan yang kulayani jumlahnya hampir dua kali lipat dari hari-hari biasa, hingga jam kerjaku usai tak sekali pun aku menerima komplain keras. Puji Tuhan, aku hanya menerima kasus ringan dan remeh temeh yang bisa kukerjakan meski tangan dan kaki harus terikat ke meja. Mungkin Tuhan tahu, ini hari istimewa bagiku. Ia tak sampai hati kalau harus mengejutkanku dengan ledakan-ledakan kecil.

Aku bergegas berganti pakaian dengan salah satu setelan terbaikku. Malam ini, aku punya janji kencan dengan laki-laki nomor satu di dunia. Taksi biru yang telah kupesan sebelumnya mengantarku ke sebuah restoran di pusat kota. Aku tiba 30 menit lebih awal dari waktu yang telah disepakati. Sejak kecil aku dididik untuk selalu datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan, kebiasaan ini sudah mendarah daging. “Jangan buat orang lain menunggumu, Jingga. Orang yang selalu membuat orang lain menunggu, dialah orang yang sombong…” Demikian nasihat ayahku.

Lima belas menit kemudian, ia datang. Ayahku yang tampan. Teman kencanku malam ini, yang baru saja menginjak usia separuh abad. Aku berdiri menyambutnya, memberinya pelukan singkat dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Ah, aku rindu sekali laki-laki berkumis tipis ini.

“Kamu kenapa cepat sekali datangnya? Ayah kira Ayah yang terlambat datang,” ujarnya sambil menyesap minuman pembuka.

Aku tak kuasa menahan senyum, “Jingga nggak mau Ayah yang menunggu. Makanya Jingga sengaja datang lebih awal dari Ayah.” Aku mengangsurkan sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus kertas perak. “Selamat ulang tahun Ayah… Maaf baru ini yang bisa Jingga kasih.”

Ayah menerimanya, lalu dengan wajah penasaran yang dibuat-buat, ia menggoyang kotak itu di dekat telinganya, berusaha menerka apa yang ada di dalam kotak. “Ah, curang kamu, pasti hadiahnya dilem kuat-kuat supaya Ayah nggak bisa nebak!”

“Hehehe…. Ayah kayak anak kecil, ah. Jangan dibuka sekarang, nanti aja di rumah.”

“Ya sudah…” Ayah kembali meletakkan hadiahnya di meja.

Sebentar saja, kami sudah terlarut dalam perbincangan yang seru. Aku bercerita tentang perkembangan studiku di kelas malam yang baru berjalan beberapa minggu, tentang hari-hariku sebagai budak korporat yang menempa mentalku habis-habisan, juga tentang Nila, adikku yang diam-diam ternyata bermain sebagai pemeran utama dalam sebuah sendratari di kampusnya. Kini aku bisa menjadi teman diskusi yang sepadan dengan Ayah. Aku bukan lagi gadis kecilnya yang tak paham apa-apa tentang ilmu manajerial, konspirasi politik, manipulasi data, atau soal kebijakan fiskal. Ayah memastikan aku tak hanya mendapat asupan gizi yang cukup untuk tubuhku, ia juga memastikan putrinya membekali diri dengan wawasan yang luas sehingga tak seorang pun dapat menganggapku remeh.

Obrolan kami terhenti saat seorang pelayan mendekat dan mohon izin membersihkan peralatan makan yang sudah tak terpakai. Aku menghela napas panjang sebagai wujud rasa syukurku atas makan malam yang dipenuhi aroma kebahagiaan ini. Aku dan Ayah tak lagi tinggal di bawah atap yang sama sejak setahun terakhir. Sebuah kisah terlampau pilu yang telah dimulai bertahun-tahun silam, akan kusimpan untuk lain hari. Singkat kata, aku tak mampu mengubah pendiriannya, apalagi menggagalkan kepergiannya. Pun demikian ibuku. Aku tahu betul watak Ayah. Keras bagai batu, sama seperti putri sulungnya. Meski dihujani air mata, kurelakan kepergian Ayah, memisahkan diri dari bahtera yang telah dipimpinnya selama lebih dari dua dekade.

Suara Ayah memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa detik. “Jingga, bagaimana kabar Biru? Kalian masih berhubungan, kan?”

“Eh, nggg….” Aku sedikit tergagap ditodong pertanyaan seperti itu. Tak biasanya Ayah bertanya tentang lelaki yang menambatkan hatiku. “Kabarnya baik, Yah. Minggu lalu Mamaknya ke Jakarta, sempat ketemu dengan Jingga sebentar.”

“Baguslah,” Ayah menyesap minumannya sebelum melanjutkan, “titip pesan untuk Biru, kapan-kapan mainlah ke rumah, temani Ayah main catur. Sudah lama Ayah nggak punya lawan yang sebanding.”

Aku mengangguk dengan canggung, “Iya, nanti Jingga sampaikan ke Biru.”

“Kalian….” kata-kata Ayah menggantung sesaat, “belum ada rencana menikah?”

Dheg. Kenapa pembicaraan tentang ini tiba-tiba mencuat ke udara? Aku membatin.

“Biru masih harus menyelesaikan studinya, Yah. Jingga juga ‘kan baru mulai sekolah lagi. Kenapa harus buru-buru?” Aku berusaha terdengar diplomatis.

“Rezeki pasangan yang sudah menikah berbeda dengan kalian yang masih lajang. Ayah rasa alasan tentang studi itu terlalu mengada-ada. Menurut Ayah, Biru sudah cukup mapan.”

Tanganku mulai berkeringat dingin. Aku kehabisan kata-kata. Bagaimana caraku menjelaskan ini pada Ayah? Sejujurnya, pembicaraan tentang hal ini pernah mengemuka di antara aku dan Biru. Tapi, aku selalu berusaha menghindar dan terus menghindar. Memikirkannya saja sudah membuatku bergidik. Bukan 'ku tak sayang. Biru laki-laki terbaik yang pernah 'ku kenal. Aku tak pernah membayangkan akan menua bersama orang lain selain Biru.

Tapi, tak bisa kuingkari, perpisahan kedua orangtuaku masih membayang di pelupuk mata. Mengapa Ayah bertanya tentang hal ini seolah-olah setahun yang lalu ia tak pernah berdebat dengan Ibu di hadapan mediator? Aku di sana. Aku dan Nila ada di sana saat dua orang yang paling kami kasihi di dunia, beradu mulut dengan sengit. Hati siapa yang tak retak, melihat pertengkaran antara dua insan yang pernah saling mengasihi. Aku dan Nila adalah buah dari cinta kasih itu. Namun ternyata keberadaan kami saja tak cukup untuk membuat keduanya bertahan.

Seakan bisa membaca isi kepalaku yang rumit, Ayah berkata, “Nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Seharusnya Ayah nggak mendesakmu, Jingga.” Aku mendongak dan menatap wajah Ayah yang tersenyum kaku.

Atmosfer di sekeliling kami mendadak terasa ganjil. Sesuatu dalam perutku berusaha memberi tahu ada yang aneh, seolah hal buruk diam-diam menanti di ujung kebahagiaan. Ke mana perginya kehangatan yang sedari tadi mengelilingi kami? Aku menatap wajah Ayah lekat-lekat. Raut wajahnya menyadarkanku bahwa Ayah sedang berusaha menguatkan diri. Aku tahu. Aku tahu yang akan Ayah katakan berikutnya bisa jadi menyakitiku.

Ayah takut menyakiti aku…

Kalau begitu jangan katakan Ayah… Jangan—

“Jingga….” Ayah menatapku lekat-lekat, "boleh, Ayah menikah lagi?”[]


Tulisan ini dibuat untuk dikirimkan kepada Logika Rasa, sebuah komunitas kreatif yang menyediakan ruang untuk bercerita, telah dimuat pada tanggal 12 Agustus 2015. Artikel asli bisa dilihat di sini.

No comments:

Post a Comment