Thursday, August 11, 2016

Mengenal Profesi Digital Marketing


Beberapa waktu yang lalu, Ruang Pegawai menghubungi saya melalui Linkedin dan meminta kesediaan saya untuk diwawancarai terkait profesi Digital Marketing. Mulanya saya ragu karena merasa masih awam tentang profesi yang baru saya tekuni kurang dari satu tahun ini. Tapi akhirnya saya pun menyanggupi. Hehehe... Pemaparan saya pastinya masih jauh dari ruang lingkup Digital Marketing yang sesungguhnya, tapi mudah-mudahan bisa sedikit memberi pencerahan bagi teman-teman yang ingin menggeluti profesi ini. Selamat membaca! :D

Friday, April 8, 2016

Ullen Sentalu: Pelita dalam Gulita

Akhir bulan Maret kemarin saya dan tiga orang teman lainnya berkesempatan dolan ke Yogyakarta selama tiga hari dua malam. Sebetulnya, ini kali kedua saya ke sana, tapi karena dulu saya berkunjung ke Jogja saat masih kecil dan nggak banyak kenangan yang saya ingat, rasanya seperti baru pertama kali. Saya nggak akan cerita keseluruhan perjalanan secara runut karena bisa makan waktu berhari-hari, hehehe, tapi ada satu bagian, porsi kecil dari perjalanan kami yang ingin saya bagi. Dari penginapan kami yang terletak di pusat kota Yogyakarta, kami sempatkan jauh-jauh ke Kaliurang untuk berkunjung ke museum yang diresmikan tahun 1997 ini.

Tanah lapang di depan pintu masuk museum.
Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit (blencong) yang merupakan cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini didirikan oleh salah seorang bangsawan Yogyakarta yang dikenal sangat dekat dengan keluarga keraton Surakarta dan Yogyakarta. (Wikipedia)

Tuesday, April 5, 2016

Red Queen: Anomali yang Mematikan

Ngomong-ngomong, udah lama juga saya nggak nulis di sini. Kali ini mau cerita sedikit tentang buku yang baru selesai saya baca. Satu lagi novel fantasi yang sarat nuansa Dystopian. Katanya sih, selera pembaca mulai bergeser, dan era Dystopian mungkin bakal ditinggalkan. Tapi buku yang satu ini layak diberi kesempatan. 😎

Bagi penyuka fantasi/sci-fi, setelah melewati beberapa bab pertama pasti bakal langsung ngeh bahwa buku ini gabungan The Hunger Games, Divergent, dan Avatar The Legend of Aang dikumpulkan jadi satu. Sama halnya seperti Katniss & Tris dari seri The Hunger Games & Divergent, tokoh utama Red Queen adalah seorang Alpha Female.


Masyarakat terbagi menjadi dua golongan: Kaum Merah & Kaum Perak. Kaum Merah adalah sekelompok manusia biasa—berdarah merah tentunya—yang nggak memiliki kemampuan istimewa sama sekali. Kaum Perak di lain pihak, adalah golongan berdarah Perak—benar-benar berwarna perak—yang memiliki kemampuan super: Penyembuh, Pembisik, Pengendali Logam, Pengendali Api, Pengendali Air atau Nymph, Pengendali Bayangan, Penyenandung, Lengan Perkasa, Penghijau, Telky, Teleporter, dan masih banyak lagi jenisnya.

Tuesday, January 26, 2016

Laki-laki Bernama Ove: Pahlawan Teraneh yang Akan Kaukenal


Dan, Ove memutuskan ia akan menjadi lelaki yang semirip mungkin dengan ayahnya. Ayah Ove bekerja di perusahaan jawatan kereta api. Ia adalah lelaki pendiam namun baik hati, ia sangat disukai oleh teman-teman kerjanya. Pernah suatu hari Ove diperbolehkan ikut ke sebuah pesta besar yang dihadiri oleh teman-teman ayahnya dari perusahaan jawatan kereta api. Ayahnya ditantang untuk ikut kompetisi panco. Ove belum pernah melihat lelaki sebesar itu duduk mengangkangi bangku. Namun, ayahnya mengalahkan mereka semua. Ketika mereka pulang malam itu, ayahnya merangkul bahu Ove dan berkata:

“Ove, hanya bajingan yang menganggap ukuran dan kekuatan adalah hal yang sama. Ingat itu.”

Dan, Ove tidak pernah melupakannya.

Ibu Ove meninggal saat ia masih kecil. Dahulu, Ove biasa duduk di bawah jendela dengan buku matematika di pangkuan, dan dia ingat, dirinya suka mendengarkan ibunya. Dia mengingatnya. Tentu saja, suara ibunya parau dan nada ganjil itu lebih sumbang dibandingkan yang disukai orang. Namun, dia ingat, dirinya tetap saja suka.

Setelah kematian sang ibu, ayahnya menjadi semakin pendiam. Seakan ibu Ove membawa pergi segelintir kata yang dimiliki ayahnya. Jadi, Ove dan ayahnya tidak pernah bicara secara berlebihan, tapi mereka saling menyukai. Mereka duduk dalam keheningan di masing-masing sisi meja dapur, dan punya cara-cara untuk terus menyibukkan diri.