Tuesday, January 26, 2016

Laki-laki Bernama Ove: Pahlawan Teraneh yang Akan Kaukenal


Dan, Ove memutuskan ia akan menjadi lelaki yang semirip mungkin dengan ayahnya. Ayah Ove bekerja di perusahaan jawatan kereta api. Ia adalah lelaki pendiam namun baik hati, ia sangat disukai oleh teman-teman kerjanya. Pernah suatu hari Ove diperbolehkan ikut ke sebuah pesta besar yang dihadiri oleh teman-teman ayahnya dari perusahaan jawatan kereta api. Ayahnya ditantang untuk ikut kompetisi panco. Ove belum pernah melihat lelaki sebesar itu duduk mengangkangi bangku. Namun, ayahnya mengalahkan mereka semua. Ketika mereka pulang malam itu, ayahnya merangkul bahu Ove dan berkata:

“Ove, hanya bajingan yang menganggap ukuran dan kekuatan adalah hal yang sama. Ingat itu.”

Dan, Ove tidak pernah melupakannya.

Ibu Ove meninggal saat ia masih kecil. Dahulu, Ove biasa duduk di bawah jendela dengan buku matematika di pangkuan, dan dia ingat, dirinya suka mendengarkan ibunya. Dia mengingatnya. Tentu saja, suara ibunya parau dan nada ganjil itu lebih sumbang dibandingkan yang disukai orang. Namun, dia ingat, dirinya tetap saja suka.

Setelah kematian sang ibu, ayahnya menjadi semakin pendiam. Seakan ibu Ove membawa pergi segelintir kata yang dimiliki ayahnya. Jadi, Ove dan ayahnya tidak pernah bicara secara berlebihan, tapi mereka saling menyukai. Mereka duduk dalam keheningan di masing-masing sisi meja dapur, dan punya cara-cara untuk terus menyibukkan diri.

Ayah Ove tidak pernah menyelesaikan sekolah dan tidak terlalu memahami hitung-hitungan dalam buku-buku sekolah Ove. Namun, dia memahami mesin. “Mesin memberimu apa yang patut kau peroleh,” jelasnya dulu. “Jika kau memperlakukan mesin dengan hormat, dia akan memberimu kebebasan; jika kau berperilaku seperti bajingan, dia akan merampas kebebasan itu darimu.”

Ove baru menginjak usia enam belas ketika ayahnya meninggal. Dia tertabrak gerbong yang meluncur tak terkendali di rel. Ove tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik hal yang terjadi kepadanya pada hari kematian ayahnya. Namun, Ove berhenti menjadi bahagia. Dia tidak bahagia selama beberapa tahun setelah itu.

Menjadi yatim piatu di usia enam belas tahun adalah sesuatu yang aneh. Kehilangan keluarga, lama sebelum kau sempat menciptakan keluargamu sendiri untuk menggantikannya adalah rasa kesepian yang sangat spesifik. Hari-hari Ove berlalu seperti ini, lambat dan teratur. Lalu suatu pagi, dia melihat perempuan itu, dengan rambut cokelat, mata biru, sepatu merah, dan jepit kuning besar di rambutnya. Lalu, tidak ada lagi ketenangan dan kedamaian bagi Ove.

Membaca kisah tentang Ove, ternyata menimbulkan efek roller coaster tersendiri. Kurasa setiap orang yang sudah baca pasti setuju, beberapa bab pertama, Ove adalah tua bangka yang menyebalkan! Bagaimana dia selalu menggerutu, berbicara dengan nada ketus dan bahkan menyelipkan umpatan kasar pada setiap orang yang ditemuinya. Praktis setiap pagi selama 40 tahun terakhir Ove selalu melakukan rutinitas yang sama. Ia bangun pukul 5.45, melakukan inspeksi di kawasan perumahannya, memastikan tidak ada aturan yang dilanggar, meneriaki setiap orang yang tidak mematuhi peraturannya.

Ove sangat meyakini beberapa hal: keadilan, kesetaraan, kerja keras, dan dunia yang menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena dia ingin mendapat medali, diploma, atau tepukan di punggung, tapi hanya karena memang begitulah seharusnya.

Orang-orang selalu berkata bahwa Ove dan istrinya bagaikan malam dan siang. Tentu saja Ove sadar sepenuhnya bahwa dialah yang disebut malam. Itu tak masalah baginya. Ove tidak pernah mengerti alasan istrinya memilih dirinya. Istrinya hanya menyukai benda-benda abstrak seperti musik, buku, dan kata-kata aneh. Ove adalah lelaki yang dipenuhi seluruhnya dengan benda-benda nyata. Dia menjalani hidup dengan tangan dimasukkan mantap ke saku. Istrinya menjalani hidup sambil menari.

“Mencintai seseorang bisa disamakan dengan pindah ke sebuah rumah.” Itulah yang dulu biasa dikatakan istrinya. “Mulanya kau jatuh cinta dengan semua barang barunya, setiap pagi merasa takjub karena semuanya ini milikmu, seakan khawatir seseorang akan mendadak masuk untuk menjelaskan bahwa telah terjadi kesalahan mengerikan, seharusnya kau tidak tinggal di tempat seindah ini. Lalu, bertahun-tahun kemudian, dinding rumahnya menjadi lapuk, kayunya pecah di sana sini, dan kau mulai mencintai rumah itu bukan karena semua kesempurnaannya, tapi lebih karena ketidaksempurnaannya. Kau mulai mengenal semua sudut dan celahnya. Bagaimana cara menghindari kunci tersangkut di lubangnya ketika udara di luar dingin. Papan-papan lantai mana yang sedikit meleyot ketika diinjak, atau bagaimana cara membuka pintu lemari pakaian tanpa berderit. Semuanya ini adalah rahasia kecil yang menjadikan rumah itu sebagai rumahmu.”

Ove tidak pernah ditanya bagaimana hidupnya sebelum berjumpa dengan perempuan itu. Namun jika ada yang bertanya, Ove akan menjawab bahwa dia tidak hidup.

Kurasa, setiap orang yang baru mulai membaca kisah tentang Ove pasti setuju, ia adalah tua bangka yang menyebalkan. Dan kurasa, tak ada seorang pun yang sampai di halaman terakhir buku ini yang hatinya tidak dipenuhi kehangatan dan rasa sayang pada laki-laki bernama Ove. :')


Judul Buku
Penulis
Penerjemah
Penyunting
Penerbit
ISBN
Jumlah halaman
Ukuran
Harga
: Ingrid Nimpoeno
: Jia Effendy
: 978-602-385-023-5
: 448
: 14 x 21 cm
: Rp 79.000,-

No comments:

Post a Comment