Monday, January 9, 2017

Review Film “The Girl On The Train”: Is It Really The Next Gone Girl?

Sempat dikabarkan nggak akan tayang di Indonesia sejak diluncurkan pada bulan Oktober 2016, akhirnya penikmat film dalam negeri bisa bernapas lega karena film bergenre thriller yang diangkat dari novel bestseller karya Paula Hawkins ini masuk ke Indonesia. Kita patut berterima kasih pada jaringan CGV Blitz yang bersedia menghadirkan film yang dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Emily Blunt dan Luke Evans.

Sesaat sebelum pemutaran film The Girl On The Train.

Saya mendapat kesempatan emas untuk menikmati premiere film ini atas undangan dari Noura Books (ahey!). Tanggal 30 Desember 2016, dua hari sebelum pergantian tahun, saya bela-belain menerjang macet dari kantor saya di kawasan Lebak Bulus ke Grand Indonesia di daerah Jakarta Pusat. Biasanya kalau datang ke acara premiere film saya pasti lagi on duty jadi kurang bisa menikmati jalannya acara. Tapi kali ini saya datang sebagai undangan yang tinggal duduk manis dan menikmati film. Ah senangnyaaa… :’D

Tiket nonton premiere film The Girl On The Train di CGV Blitz Grand Indonesia

Ternyata, lumayan banyak orang yang tertarik untuk nonton film ini. Antrean penonton sampai mengular di depan pintu auditorium. Dan karena premiere ini free seated, begitu pintu auditorium dibuka para penonton langsung berhamburan ke dalam dan berlomba-lomba menempati bangku yang paling enak. Hahaha... Untungnya saya dapat tempat persis di tengah-tengah, baris keempat dari atas. Entah bagaimana koordinasi antara pihak penyelenggara dengan undangan maupun penonton umum lainnya, ketika film akan diputar ada beberapa penonton yang nggak kebagian tempat duduk. Hmmm, harusnya sih udah pas, apalagi ada beberapa teman saya yang batal datang meski namanya udah dicatat, bukankah semestinya masih ada bangku yang tersisa? Whatever... Yang jelas pertunjukan film malam itu full house. Yeaaay!

Suasana antrean pengunjung sesaat sebelum pintu studio dibuka.

The Girl On The Train diceritakan dari tiga sudut pandang yang berbeda, yakni Rachel, Megan, dan Anna. Rachel adalah seorang pecandu alkohol yang mengalami depresi pasca bercerai dengan suaminya dan kehilangan pekerjaan karena ketergantungannya pada alkohol yang mempengaruhi kinerjanya di kantor. Anna, di lain sisi adalah ibu rumah tangga yang memiliki satu anak dan telah menikah dengan Tom, mantan suami Rachel. Anna menempati rumah yang sama dengan yang dulu ditempati oleh Rachel dan Tom. Meski ia mendapatkan apa yang tidak bisa dimiliki oleh Rachel, hidup Anna sama sekali tidak tenang karena ia selalu dibayang-bayangi sosok Rachel. Sementara Megan memiliki seorang suami yang amat mencintainya dan menerima masa lalunya yang kelam, namun tetap saja ia tidak merasa bahagia dengan pernikahannya. Sampai-sampai ia harus menjalani konsultasi dengan seorang psikiater untuk menyembuhkan depresinya.

Hidup ketiga wanita ini saling berkelindan. Rachel yang sudah tak memiliki pekerjaan, setiap hari tetap menaiki kereta menuju New York untuk menutupi kondisi sebenarnya dari Cathy, teman sekamarnya. Setiap pagi dia berangkat di jam orang pergi kerja, dan malamnya dia kembali ke apartemen di jam orang pulang kerja. Lalu apa yang Rachel lakukan di sela-sela jam kerja? Minum-minum, keluyuran, apapun yang bisa ia kerjakan. Menyedihkan ya? Setiap hari, kereta yang dinaiki Rachel selalu berhenti di persimpangan, tepat di depan sebuah rumah bergaya Victoria yang ditempati oleh pasangan suami istri yang tidak ia ketahui namanya namun ia sebut Jess & Jason. Di mata Rachel, pasangan suami istri itu begitu bahagia, persis seperti kehidupan yang Rachel dambakan. Hingga suatu hari, Rachel melihat Jess bercumbu di balkon rumah dengan lelaki yang bukan Jason. Sesuatu dalam dirinya merasa terluka dan terkhianati. Bayang-bayang indahnya tentang kehidupan pasangan suami istri itu langsung runtuh seketika.

Rachel pun menenggelamkan diri lebih dalam bersama alkohol, hari-harinya lebih banyak dilalui dalam keadaan mabuk ketimbang sadar. Suatu malam, Rachel berada dalam kondisi terburuknya. Ia ingat sempat turun di stasiun yang dekat dengan kediaman pasangan Jess dan Jason, namun ia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya. Yang Rachel tahu, ia terbangun di dalam kamar mandi apartemennya dalam keadaan berantakan. Pakaiannya berserakan di lantai, ia bahkan mengompol, dan yang terburuk: kepalanya berlumuran darah.

Ia lalu melihat di berita bahwa Jess, yang ternyata bernama Megan dilaporkan telah hilang pada malam di mana Rachel kehilangan kesadaran. Begitu kembali ke apartemen, pihak kepolisian telah menantinya untuk mendengar kesaksian Rachel. Ia memang tak punya alibi yang kuat, namun Rachel benar-benar tidak ingat apa yang terjadi pada malam itu. Ia juga harus menghadapi kemarahan Cathy, roommate-nya yang marah karena Rachel menyembunyikan fakta bahwa satu tahun ke belakang ia menjadi pengangguran.

Cover buku The Girl On The Train keluaran tahun 2015 dan versi movie tie in.

Sama seperti novelnya, film The Girl On The Train memiliki alur maju mundur. Kalau di buku, terus terang saya sampai bingung dan kadang harus baca ulang ke belakang supaya ada di jalur yang benar. Ketika melihat trailer-nya saya sedikit kecewa, karena Emily Blunt terlalu cantik untuk menjadi Rachel yang dalam bayangan saya penampilannya menyedihkan dan sedikit gemuk. Tapi setelah menonton filmnya baru terasa perbedaan yang mencolok antara Rachel di masa sekarang dan Rachel versi flashback ketika ia masih hidup bahagia bersama Tom. Saya suka sekali bagaimana Emily Blunt memerankan tokoh Rachel.

Di bagian awal film mungkin banyak yang ngerasa gemes banget liat Rachel. Sebagai tokoh utama protagonis, dia sama sekali nggak bisa dibanggakan. Kita akan dibuat kesal melihat betapa rapuhnya dia, dua tahun berlalu dan masih belum bisa move on dari mantan suaminya yang sama sekali nggak pantes buat diperjuangkan. Tapi percayalah, pengembangan karakter di buku/film ini bakal bikin kita tercengang. Salut untuk Paula Hawkins & Tate Taylor. :)

Sebagai pembaca buku dan penikmat film, mau nggak mau saya sulit mengenyahkan kebiasaan membanding-bandingkan film dan buku, walau saya paham betul film dan buku adalah dua produk seni yang proses kreatifnya tentu saja berbeda. Selain latar tempat yang beda banget—versi buku di London, versi film di New York—saya nggak menemukan perbedaan lain yang terasa menganggu. Bahkan menurut saya ini salah satu film adaptasi buku yang paling mirip. Well, after all, mungkin The Girl On The Train nggak seberapa thrilling buat para adrenaline junkie. Tapi buat movie maniac, ini film yang layak ditonton dan dinikmati. Enjoy![]

Penting nggak penting sih sebenernya, tapi daripada dibilang No Pict Hoax. :D

1 comment:

  1. Gone girl lebih ga disangka ngetwistnya kl menurut gw, soalnya muka innocent rosamund pike kayanya 'cukup mustahil' jadi pemeran antagonis,,, tp girl on the train seru jg sih..

    ReplyDelete