Wednesday, February 5, 2014

Saudara dari Asia Selatan

Sesampainya saya di Madinah, saya langsung merasakan ada semacam ikatan tidak terlihat antara jamaah Indonesia dengan jamaah dari beberapa negara di Asia Selatan, terutama Pakistan, India, dan Srilanka. Awalnya saya bingung, mengapa mereka relatif ramah terhadap kami yang notabene bukan negara tetangga. Contohnya, ibu saya sempat dihampiri oleh seorang gadis muda yang wajahnya seperti orang Pakistan saat di masjid Nabawi. Gadis itu memberi isyarat sambil menunjuk kedua pipinya bergantian. Ibu saya bingung hingga gadis itu pun memberi isyarat seperti ingin mencium. Oh, ternyata gadis itu meminta izin untuk mencium pipi ibu saya yang lantas mengiyakan. Gadis itu tampak luar biasa senang setelah diberi izin.
Masjid Nabawi tampak luar
Lain halnya saat kami berada di Mekkah. Tetangga sebelah kamar kami di hotel adalah jamaah dari Srilanka. Suatu waktu saya keluar dari kamar melewati mereka yang sedang mengobrol. Lalu salah satu dari mereka tiba-tiba menegur, "Apa kabar?" Meski dengan tatapan bingung saya pun menjawab salam mereka sambil tersenyum. Hari berikutnya mereka kembali menyapa saat saya sedang bersama ibu saya, masih dengan kalimat yang sama. Kami pun berbincang-bincang sedikit. Saya jadi malu karena mereka bisa berbahasa Indonesia meskipun hanya sebatas sapaan pendek, sedangkan saya tidak tahu bahasa mereka sama sekali.

Salah satu menara Masjid Nabawi