Bermalam di Kampung Awan Megamendung


Bulan Mei kemarin, beberapa minggu sebelum ulang tahun si anak kecil, entah dapat ilham dari mana tiba-tiba suami ngajak liburan di camping ground. Padahal kami nggak punya peralatan berkemah sama sekali, terlebih lagi kami juga nggak ada pengalaman berkemah membawa anak kecil. Tapi suami terus meracuni dengan video-video di Youtube soal Kampung Awan, sebuah camping ground khusus keluarga yang terletak di kawasan Megamendung, Puncak. Saya pun akhirnya termakan bujuk rayu dan memberi lampu hijau. 😌 Tadinya kami berencana mau memberi balance bike sebagai kado ulang tahun kedua, tapi kemudian suami berubah pikiran. Katanya masih terlalu dini, nanti aja kalau mau ulang tahun yang ketiga. Hmmm, baiklah.... Akhirnya budget yang sudah disiapkan untuk balance bike kami alokasikan untuk membeli perlengkapan dasar berkemah.

Dengan budget seadanya, kami prioritaskan untuk membeli tenda berkapasitas 3 orang. Tadinya kami mau pinjam tenda milik teman suami, tapi setelah dicoba, tenda dengan kapasitas 2 orang terlalu sempit untuk kami tempati bertiga. Selain tenda, kami juga membeli sleeping bag khusus untuk dipakai anak kami, karena kami nggak tau seberapa dingin suhu di malam hari. Prinsip kami yang penting anak nyaman & hangat, kalau untuk saya dan suami sih masih bisa pakai jaket dan selimut.


Selain tenda dan sleeping bag, peralatan berkemah yang kami bawa pun masih ala kadarnya banget. Untungnya suami punya kompor gas kecil bekas jaman bujang waktu dia masih ngekost. Tenda kami bahkan belum dilengkapi dengan alas tenda dan flysheet. Kami hanya menggunakan alas piknik untuk melindungi tenda agar tidak langsung kena tanah. Tapi kalau sampai hujan, wah panik lah kami, soalnya hanya tenda yang bisa kami jadikan tempat berlindung.

Agar terhindar dari kemacetan dan buka tutup satu arah di jalur Puncak, kami berangkat setelah sholat Jumat dan tiba di Kampung Awan sekitar pukul setengah empat sore. Syukurlah saat kami tiba di sana, hujan deras baru saja berhenti. Kami disambut oleh penanggung jawab lapangan di Kampung Awan yang kami panggil si Om. Sore itu area perkemahan tidak terlalu penuh, hanya ada sekitar 5 mobil yang tersebar di area perkemahan. Iya, karena konsepnya family camping ground, kita bisa mendirikan tenda persis di sebelah mobil. Gak perlu khawatir barang-barang dan makanan mau ditaruh di mana, semua aman tersimpan di mobil.


Menurut penuturan penanggung jawab lapangan, seluruh area camping ground ini bisa menampung hingga 1000 orang. Fasilitas yang ditawarkan pun sangat lengkap. Ada aula besar yang bisa jadi tempat berteduh jika terjadi hujan badai, ada kolam renang, toilet dan kamar mandi, ada juga musholla dan tempat wudhu. Selain itu juga ada beberapa area yang dilengkapi colokan listrik dan lampu outdoor. Jadi kalau berencana menginap di sini, jangan lupa membawa kabel gulung supaya kita nggak perlu khawatir kekurangan sumber listrik. Gambar di bawah ini menunjukkan area perkemahan yang letaknya lebih rendah. Pepohonan pun nampak berjajar rapi dan tumbuh subur, semakin menambah keindahan juga hawa sejuk di area perkemahan. Pasti bakal seru mengadakan acara family gathering di tempat ini!


Terus, gimana kalau mau camping tapi nggak punya tenda atau peralatan berkemah lainnya? Nggak perlu khawatir, karena Kampung Awan menyediakan berbagai pilihan paket liburan. Meski udah ada paket yang menyediakan tenda, kami tetap memutuskan untuk membeli tenda dengan pertimbangan ke depannya kami akan lumayan sering berkemah. Jadi kami memilih paket Reguler A seharga Rp100.000,-/orang per malam. Dengan harga segitu sudah termasuk sewa tempat untuk tenda sekaligus mobil, air mineral galon, colokan listrik di dekat tenda, lampu outdoor, akses kolam renang dan kamar mandi, serta aula untuk berlindung pada situasi darurat. Kalau dibandingkan dengan area perkemahan lain, mungkin biaya Rp100.000,- terasa sedikit mahal. Namun percayalah begitu sudah merasakan pengalaman menginap di Kampung Awan, harga tersebut sebanding dengan fasilitas dan pelayanan dari para kru lapangan yang bertugas. Mereka sangat sigap membantu sejak kami tiba di sana. Bahkan tanpa harus kami minta, mereka menanyakan langsung apa kami butuh dibantu untuk mendirikan tenda. Pokoknya selama di sana kami merasa aman dan nyaman meski tidur di bawah langit. Nah kalau mau tahu pilihan paket lain yang lebih lengkap, bisa dilihat pada brosur di bawah ini.


Meski area perkemahan ini cukup luas, perlu kami tekankan bahwa di masa pandemi seperti ini alangkah bijaksana kalau kita memilih hari kerja ketimbang di akhir pekan. Karena di akhir pekan pengunjung yang datang berkali lipat dari hari Jumat saat kami baru tiba dan agak sulit untuk menjaga jarak. Dalam kondisi ramai seperti itu juga pasti akan sulit memilih lokasi strategis, mau tidak mau kita hanya bisa memilih area yang kosong. Lain halnya kalau kita datang di hari kerja, mau pilih lokasi di manapun masih leluasa.


Oh iya, kalau bisa selama di Kampung Awan sempatkan juga untuk berkeliling ke bagian lain dari area perkemahan. Karena area perkemahan ini cukup luas, kami berjalan cukup jauh hingga ke bawah bukit. Tadinya kami kira, bagian bawah bukit itu sudah bukan area Kampung Awan lagi, tapi ternyata areanya memang seluas itu. Jika cuaca cerah dan tidak berkabut, dari tepi bukit seharusnya kita bisa melihat ke area Bogor kota. Namun siang itu cuaca kurang cerah jadi pemandangannya pun tertutup awan.


Gimana, tertarik untuk merasakan pengalaman seru berkemah di Kampung Awan? Buat yang ingin tau lebih lanjut, bisa hubungi langsung penanggung jawab lapangannya Om Adiarta di nomor 0811954533, atau bisa juga lihat galeri foto di akun Instagram mereka. Selamat berlibur![]
Share:

(Tidak Ada) Hobi yang Terlambat

Wow, nggak terasa 2020 udah berjalan separuhnya, dan hampir 5 bulan blog ini hiatus tanpa tulisan terbaru mengenai apapun. Terus terang aja, saya kesulitan menemukan waktu untuk menulis. Jangankan menulis, memikirkan apa yang hendak saya tulis aja saya hampir nggak ada waktu. Padahal udah hampir setahun lho saya resmi menyandang status sebagai ibu rumah tangga. Memangnya, sesibuk apa sih seorang ibu rumah tangga sampai-sampai menulis satu halaman aja nggak mampu?

Weits, jangan coba-coba kalian utarakan pertanyaan keramat itu kepada para ibu rumah tangga ya, kalau nggak mau dilempar pakai seember baju kotor, setumpuk cucian piring, seonggok sampah yang belum diangkut, sisa makanan semalam yang nggak habis dimakan, atau belanjaan yang belum disimpan rapi pada tempatnya. Yes, we are THAT busy if you really want to know. Mungkin kelihatannya yang kami lakukan itu hanya hal remeh temeh. Tapi hal remeh temeh jika dikumpulkan menjadi satu dan diakumulasi sepanjang hari, percayalah yang kami lakukan itu nggak bisa disebut CUMA. :)

Jauh sebelum saya menyandang status sebagai istri sekaligus ibu, saya hanyalah gadis biasa yang senang menghabiskan waktu dari balik lensa kamera, sesekali saya suka membaca buku sendirian di pojokan kedai kopi, sekali waktu saya suka jalan-jalan sendiri di trotoar atau taman kota yang cantik. Sekarang? Hidup saya berputar pada poros yang sama, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Baju yang saya pakai nggak jauh dari baju rumahan yang itu-ituuuu terus. :) Kadang kalau lagi mejeng di halaman bersama anak bayi dan melihat tetangga saya sesama ibu-ibu yang berpakaian rapi, saya sedikit iri. Kapan ya saya bisa berdandan rapi lagi untuk diri saya sendiri?

Berhubung pertanyaan itu belum mampu saya jawab, saya pun mencoba melihatnya dari sudut pandang baru: nggak apa-apa kalau saya belum bisa berdandan rapi untuk diri sendiri, setidaknya saya bisa mempercantik rumah agar nyaman ditinggali.

Pucuk merah, si cantik yang nggak manja.

Dulu, saya paling benci sama yang namanya bercocok tanam. Bukan berarti saya nggak suka lihat pemandangan yang hijau-hijau ya, justru saya suka banget. Tapi saya paling nggak mau kalau disuruh turun tangan dan mengerjakan sendiri. Eeewww... Alasan terbesarnya karena saya takut banget sama cacing tanah. Sekarang ngerti kan kenapa saya nggak suka bercocok tanam? 🙂

Setelah punya rumah sendiri, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa punya halaman yang cantik itu, cost-nya besar. Nggak cuma dari segi materi, tapi juga waktu dan tenaga yang harus dicurahkan untuk menjaga halaman saya senantiasa cantik dan enak dipandang. Ternyata, kami nggak sanggup melakukan semuanya. Halaman yang sudah kami percantik dengan rumput gajah, krokot merah, pucuk merah, dan bunga airis, lama kelamaan terkikis rumput liar dan bentuknya pun semakin nggak beraturan.

Tembok depan rumah yang ambruk diterjang hujan badai.

Apalagi di awal tahun 2020 dinding pembatas halaman bagian depan ambruk diterpa hujan besar. Sebelum longsornya makin parah, kami memutuskan langsung membangun pagar sekaligus merenovasi garasi dan teras. Proses renovasi yang berlangsung hampir sebulan, makin meluluhlantakkan halaman kami yang cuma seuprit itu. Tanaman-tanaman kecil hancur tak bersisa, entah karena terinjak para tukang atau tertimbun pasir dan batu. Pokoknya setelah proses renovasi selesai, tanaman yang tersisa cuma 2 pohon pucuk merah yang tingginya sudah mencapai 2 meter lebih serta 3 buah pot tanaman lidah mertua yang terbukti impossible to kill.


Lidah mertua, si paling tangguh di segala kondisi.

Sejak suami saya bekerja dari rumah karena pandemi, kami jadi punya banyak waktu luang untuk menata ulang rumah. Meski sempat kapok dan berucap nggak akan mau beli tanaman lagi, pada akhirnya tangan kami gatal juga. 😅 Sadar diri kalau saya takut cacing, saya memutuskan untuk memelihara tanaman di media pot gantung. Udah jelas kan, pot gantung letaknya pasti jauh dari tanah gak mungkin para cacing itu mampu bermigrasi ke dalam pot. 🤪 Hal lain yang juga saya sadari, wawasan saya seputar dunia flora masih sangat sedikit, walaupun saya jebolan kampus pertanian di Bogor. 🙈 Maka saya pilih jenis tanaman yang paling low maintenance. Dari berbagai sumber yang saya baca, keluarga sirih gading bisa jadi pilihan bagi mama plants pemula.

Sirih gading brazil, yang paling bongsor di antara saudara-saudaranya.

Selain sirih gading, saya juga naksir tanaman lee kuan yew, alias janda merana. Saya pertama kali melihat tanaman ini lewat foto salah satu hotel di Jogja yang nuansanya serba hijau. Saya kebayang pasti cantik banget kalau tanaman ini ada di rumah, batangnya menjuntai seperti tirai.

Pucuk daun lee kuan yew di pekarangan rumah kami.

Kenapa sih mau melihara tanaman aja ribet banget pertimbangannya? Padahal kan tinggal ke tukang taman terus pilih mana yang disukai.

Sekali lagi, bagi saya tanaman juga makhluk hidup. Sama halnya seperti ketika memutuskan memelihara binatang, bagi saya memelihara tanaman juga dibutuhkan komitmen serta dedikasi. Saya nggak mau tanaman yang saya bawa ke rumah berujung kering dan mati karena saya nggak sanggup menjaga komitmen untuk merawatnya sepenuh hati. Itu sebabnya saya mengumpulkan referensi sebanyak mungkin tentang karakteristik tanaman yang hendak saya adopsi.

Sirih gading variegata, salah satu anak-anak hijau yang kami pelihara.

Singkat cerita, setelah satu bulan mengadopsi keluarga sirih gading serta lee kuan yew dan ternyata mereka baik-baik saja (at least nggak ada yang mati 😅), saya dan suami memberanikan diri untuk menambah koleksi anak-anak hijau kami. Kini di pekarangan rumah kami ada tambahan 3 pohon pucuk merah yang masih remaja, berjajar di halaman samping dengan harapan kalau udah setinggi kakak-kakaknya bisa menghalau matahari sore yang lumayan terik dari arah barat. Lee kuan yew yang terbukti nggak rewel dan paling cepat pertumbuhannya dibanding keluarga sirih gading akhirnya bikin saya yakin untuk menambah 5 pot sekaligus. 😅 Meski belum ada fotonya, saya juga mengadopsi lili paris yang kalau udah gondrong saya yakin bakal cantik banget. Ada juga si cantik airis kuning yang ditanam memanjang di dekat tembok pagar. Kami sengaja menanam kembali airis kuning karena dia termasuk tanaman yang mati saat proses renovasi dulu. Padahal waktu lagi ranum-ranumnya, bunga kuning bermotif macan tutul ini cantik sekali.

Airis kuning di halaman kami sebelum renovasi pagar.

Senang rasanya kembali punya hobi yang bisa saya tekuni di sela-sela keseharian saya mengurus rumah dan keluarga. Jadi, untuk para ibu di luar sana, nggak ada kata terlambat untuk memulai hobi baru. Kalau orang-orang bilang, "Motherhood is not a hobby, it is a calling."

Yes, it is.

But sometimes mother's need hobbies too, you know. 🙂 To keep our sanity. To let us stretch a little bit so we can take care our family with lots of love.[]
Share:

Pengalaman Sunat Bayi di Omah Sunat: Pagi Sunat Sore Main Kuy!

Halo, akhirnya setelah berbulan-bulan saya baru punya waktu lagi untuk nulis di blog. Maaf kalau hiatusnya kelamaan. 😅 Sebenarnya ada banyak draft tulisan yang saya buat, tapi nggak ada satu pun yang berhasil saya selesaikan. Jadi saya bertekad untuk yang satu ini, harus berhasil saya tulis.

Jadi, jauh sebelum saya melahirkan, saya udah berniat mau menyunat anak laki-laki kami saat ia masih bayi. Saya juga udah berdiskusi dengan suami dan ia pun setuju, karena berdasarkan hasil riset kecil-kecilan kami menemukan bahwa lebih banyak manfaat yang didapat dari menyunat saat bayi. Tapi ketika anaknya udah lahir ke dunia, ealah kok nggak tega. 🤦🏻‍♀️🤣 Padahal kami udah tau bahwa waktu optimal menyunat bayi itu saat periode neonatus. Tapi kami malah menunda-nunda dengan alasan nggak tega. Waktu terus bergulir dan nggak kerasa anak kami udah bisa berguling dan merangkak. Barulah kami ketar-ketir takut dia keburu bisa jalan, lari, dan kabuuur.... 🏃‍♂️💨

Dokter Arif dari Omah Sunat saat melakukan tindakan.

Akhirnya setelah mengumpulkan niat, kami memberanikan diri untuk menyunat anak kami. Pilihan pun jatuh pada Omah Sunat, yang merekomendasikan teknik sunat klamp untuk bayi yang setiap hari memakai pospak. Kebetulan teman suami saya, anaknya juga sunat di sana dengan metode klamp dan dia sangat puas dengan hasilnya. Maka kami pun semakin yakin untuk menyunat anak kami di sana.

Saya menghubungi nomor kontak Omah Sunat untuk registrasi dan langsung mendapat jadwal sunat pada hari Minggu, 26 Januari 2020. Tapi kemudian saya melihat pengumuman di Instagram ternyata mereka sedang mengadakan giveaway sunat bayi gratis di tanggal cantik 2 Februari 2020. Hmmm, setelah pikir-pikir nggak ada salahnya mencoba, siapa tau ini rejeki anak kami. 😅 Selain itu kami juga mempertimbangkan kondisi rumah kami yang saat itu sedang direnovasi, khawatir akan mengganggu waktu istirahat anak kami pasca disunat. Kalau kami undur waktu sunatnya ke awal Februari, insya Allah renovasi sudah selesai dan kondisi rumah pun lebih kondusif. Untungnya, pihak Omah Sunat tidak keberatan saya membatalkan pendaftaran sunat. 🙈 Penantian selama seminggu membuahkan hasil, ternyata program giveaway itu sepi peminat, hanya kami satu-satunya yang ikut serta jadi otomatis kami yang memenangkan giveaway tersebut. Alhamdulillah! Rejeki mah nggak kemana. 🤣

Ruang tunggu Omah Sunat yang dilengkapi permainan untuk anak-anak.

Hari Minggu pagi, rombongan pengantar sunat pun tiba di Omah Sunat. Maklum, anak kami cucu pertama dari dua keluarga, makanya kakek neneknya sama-sama protektif. 💆🏻‍♀️😂 Semua ingin menyaksikan dan mendampingi cucu kesayangannya disunat. Dari sekian banyak orang yang mengantar, hanya sedikit yang bertahan di dalam ruang tindakan, sisanya melipir ke luar ruangan karena nggak tega. Saya juga sebenarnya nggak tega, tapi saya berusaha menguatkan diri demi anak saya.

Saya tahu betul, anak saya paling nggak betah ditaruh di atas ranjang asing. Jangankan ranjang operasi, ditaruh sebentar di atas timbangan posyandu aja dia udah nangis kejer. 💆🏻‍♀️ Jadi kebayang kan waktu dia baru dibaringkan di atas ranjang sementara dokter dan asisten dokter bersiap-siap? Tangisannya menggelegar sampai ke lantai bawah. 💆🏻‍♀️😂

Diajak main mobil-mobilan sama Eyang tapi nggak bisa enjoy, sepertinya udah mulai curiga.

Sebelum melakukan tindakan, dokter Arif yang menangani anak kami memeriksa kondisi anak kami terlebih dulu. Dan ternyata, anak kami nggak bisa disunat dengan metode klamp karena dia kegendutan. 😢☹️ Dokter menyarankan jika ingin mendapat hasil maksimal, sebaiknya menggunakan metode laser dan kami pun menyetujuinya. Dokter juga sempat menunjukkan kondisi di balik kulup penisnya yang dipenuhi kotoran. 😢 Aduh, saya pikir selama ini saya udah cukup telaten membersihkan anak saya, tapi ternyata saya masih kecolongan. Entah apa jadinya kalau kami menunda sunat anak kami, mungkin kotoran yang bertumpuk ini bisa menjadi sumber penyakit. 😰

Dokter dan asisten dokter menyiapkan peralatan dan sebagainya kurang lebih selama 10 menit. Dan selama itu pula kami harus menguatkan hati melihat si anak bayi menangis meraung-raung minta digendong. 😢 Jujur aja saya termasuk ibu-ibu yang lumayan tega sama anak. Saya nggak pernah nangis kalau anak saya disuntik saat imunisasi, bahkan saat lidahnya harus diinsisi karena tongue tie pun saya masih tegar. Tapi di dalam ruangan itu rasanya hati saya ambyar. 😢😭 Saya cuma bisa mengusap-usap kepala anak saya sambil memegang tangannya. Beberapa kali saya mencoba melantunkan shalawat di telinganya tapi tangisan saya malah pecah. 😢 Huhuuu, maafin Bunda ya. Kami tau keputusan ini untuk kebaikannya, tapi melihat anak menangis sampai segitunya rasanya tetep aja sulit. 😭

Saya berusaha menghibur sang bos kecil yang menangis minta digendong :')

Setelah melewati menit demi menit yang terasa panjang, anak saya selesai disunat dan langsung ditenangkan oleh neneknya sementara saya dan suami menghadap dokter untuk diberi informasi terkait perawatan pasca sunat. Kami diberi goodie bag yang berisi obat pereda nyeri, antibiotik, salep, spray antiseptik, kasa steril, dan obat tetes. Luka pasca sunat harus dijaga agar kondisinya tetap lembab namun tidak terlalu lembab. Anak kami boleh mandi satu hari setelah disunat tapi tidak boleh berendam, harus diguyur agar tidak terlalu lama kena air.

Terus terang aja kami belum ada persiapan apapun terkait perawatan pasca sunat laser, karena kami memang berencana akan sunat dengan metode klamp, makanya kami cukup kewalahan. Begitu sampai di rumah, anak kami menangis selama tiga jam. 💆🏻‍♀️ Posisi apapun kayaknya salah, udah digendong sama siapapun kayaknya tetep aja nangis. Yaudah lah ya, kuncinya cuma gendong dan sabar. Lama kelamaan ia pun lelah dengan sendirinya, lalu saya susui dan ia tidur sekitar 1 jam. Begitu bangun, anak kami mulai tampak ceria dan kembali bermain seperti biasa. Sisa-sisa rewelnya masih ada sih, tapi udah nggak kayak pas baru banget pulang dari klinik.

Setelah 15 menit menangis, anak kami mulai lelah dan tertidur.

Karena khawatir penisnya sakit kalau terkena gesekan celana, suami saya membeli celana sunat anak-anak yang batoknya dilepas dan dikecilkan sesuai ukuran bayi. Batok itu lalu dipasang di dalam popok, jadi anak kami bisa leluasa bergerak. Cara ini lumayan berhasil sepertinya. Semalaman dia tidur dengan nyenyak, baru terbangun jam setengah 4 pagi dan langsung ngajak main. 💆🏻‍♀️ Padahal saya udah prepare kalau-kalau harus begadang menemani anak bayi yang menangis. 😂

So far, saya sangat puas dengan pelayanan Omah Sunat dan sangat merekomendasikan kepada orangtua yang masih bingung hendak menyunatkan anak mereka di mana. Dokter dan stafnya sangat ramah dan komunikatif, ruang praktiknya pun bersih dan ada permainan anak-anak di ruang tunggu. Sebagai pemenang giveaway sunat bayi di tanggal cantik, saya merasa harus turut serta membangun kesadaran masyarakat tentang berbagai manfaat sunat bayi. Karena saya pun menyadari masih banyak orangtua (terutama kakek dan nenek sih 🙈) yang menentang sunat bayi dengan alasan nggak tega. Tapi bagi saya pribadi, saya malah merasa lebih nggak tega kalau harus menyunat anak saya di usia yang lebih besar, khawatir meninggalkan trauma seperti yang dialami suami saya. Kalau menurut pendapat Dokter Apin yang saya kutip dari website Parentalk, manfaat menyunat saat bayi antara lain: mengurangi resiko infeksi saluran kemih (ISK), melindungi bayi dari resiko infeksi jamur, resiko komplikasi pembedahan lebih rendah, resiko komplikasi bius lebih rendah, prosedur sunat yang lebih mudah, serta mencegah ketakutan disunat di kemudian hari.

Isi goodie bag berupa perlengkapan untuk perawatan pasca sunat

Ketika saya membagikan pengalaman menyunat anak kami yang masih bayi, Instagram saya dipenuhi pertanyaan dari teman-teman yang juga punya anak laki-laki namun belum disunat. Saya berusaha menjawab semampu saya dan memberikan testimoni sejujur-jujurnya. Semoga lebih banyak lagi orangtua yang memiliki kesadaran tentang manfaat menyunat bayi.[]
Share:

Satu Tahun Melangkah

Our mandatory pose after akad

Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja saya melihat foto-foto lawas saya dan suami waktu pertama kali bertemu, tepatnya di sebuah event fotografi di daerah Pluit. Saya berusaha mengingat-ingat lagi setiap detail dari momen tersebut, apa nama tempat diselenggarakannya event tersebut, mall apa yang kami datangi setelah pulang dari sana untuk berganti baju, film apa yang kami tonton sore itu, dan seterusnya. Ah, pillow talk memang salah satu kegiatan favorit saya setelah menikah.

Saya baru sadar cara kerja otak kita itu luar biasa istimewa ya? Seringkali kita menyimpan memori di sudut pikiran yang paling dalam dan nyaris melupakan keberadaannya. Untuk memanggil kembali memori tersebut hanya butuh satu pancingan kecil, dan semua kenangan pun langsung membanjiri pikiran kita. Itulah yang terjadi pada suami saya malam itu. Karena tanpa sengaja membahas tentang Pluit, dia langsung teringat kembali sebuah kenangan yang selama ini ia lupakan.

"Aku baru ingat, waktu kita ke Pluit itu sebenernya aku ketemu sama temen motret aku. Nggak terlalu deket sih, kita kenalan di event fotografi waktu di Kota Tua, sempet saling tukeran kamera juga jadi aku nyobain kamera Canon punya dia yang lensanya sapu jagad."

"Masa sih? Aku nggak ingat kamu ngobrol sama orang lain selain aku di sana."

"Kamu waktu itu lagi sibuk motret model yang seksi kalau nggak salah, cuma beberapa meter dari aku kok. Nah, waktu itu dia nanya, aku ke sana sama siapa. Aku belum sempet jawab cuma ngelirik ke arah kamu aja, tau-tau dia ngomong, 'Oh, sama istri lo ya? Istri lo bisa motret juga?' Terus aku jawab aja, 'Iya sama istri gue.' Begitu dia pergi baru deh aku istighfar, 'Astaghfirullah, apa-apaan barusan main ngaku-ngaku aja, kalau nih cewek denger bisa kabur dia.'" 😰

"Hah? Seriusan kamu ngomong gitu? Ih geer amat sih kayak udah yakin aja aku bakal mau sama kamu."

"Loh tapi bener kan? Buktinya kita emang jodoh. 😜"

Aamiin Allahuma Aamiin... 😇

Konsep jodoh ternyata memang sedemikian misterius ya? 😊 Sesederhana celetukan yang diucapkan tanpa sadar, ternyata diamini semesta dan dikabulkan oleh Allah Swt. Sampai saat ini saya masih takjub dengan jalan hidup yang saya lalui. Ternyata semua jatuh bangun, sakit hati, senang, susah, bahagia, tangisan tersembunyi, pada akhirnya mengarah ke satu titik. Bahkan titik yang sedang saya alami saat ini pun akan mengarah pada hal lain yang belum saya ketahui.

Hari ini, tepat satu tahun yang lalu, kami memulai perjalanan baru sebagai suami istri. Jika pernikahan ibarat manusia yang lahir dan bertumbuh, saat ini kami masih berada pada fase tertatih dan belajar jalan. Nggak mudah memang menjalani hidup rumah tangga. Apalagi kami langsung dikaruniai amanah seorang putra yang harus kami didik sebaik-baiknya. Belum puas kami belajar saling mengenal satu sama lain sebagai individu, sudah hadir individu lain yang memaksa kami belajar hal baru dengan tingkat kesulitan naik level dari pasangan suami istri menjadi orangtua. Apapun tantangan yang mungkin akan kami hadapi di kemudian hari, saya bersyukur akan menjalaninya bersama pasangan yang telah saya pilih. I don't want anyone else but you.💖

Karena momentumnya lagi pas, saya jadi punya alasan kuat buat posting foto-foto nikahan yang belum sempat saya bagikan. Hehehe.... Sekali-sekali PDA nggak apa-apa dong. 😜









"Terima kasih karena terus berusaha menjadi suami sekaligus ayah yang baik. Semoga apapun keadaannya kita bisa terus bersama dan menjadi penyejuk hati untuk satu sama lain." 💗
Share:

Cerita Persalinan: Ketika Kami Terlahir sebagai Orangtua


Bayiku pintar, bayiku sehat, bayiku sempurna.

Bayiku tahu kapan waktu yang tepat untuk lahir, aku cuma perlu lebih peka membaca pertanda dan bahasa cintanya.


Kalimat ini yang terus menerus saya gaungkan menjelang Hari Perkiraan Lahir tiba. Saya mengambil cuti melahirkan 3 minggu lebih cepat dari tanggal HPL, bukan tanpa alasan. Waktu tempuh yang lumayan panjang serta jarak dari rumah ke kantor yang cukup jauh membuat saya khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun ternyata sampai dengan usia kehamilan saya memasuki minggu ke-39 saya belum juga merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Percaya atau engga, saya bahkan sampai googling "seperti apa rasanya kontraksi palsu". 😂 Saking saya bingung dan clueless khawatir melewatkan tanda-tanda yang penting. Sejujurnya sejak bulan ke-8 perut saya udah sering terasa kencang. Saking seringnya yang tadinya saya merasa agak ngilu lama-lama jadi kebal. Tapi saya yakin kalau perut kencang itu nggak berarti persalinan akan segera tiba.

Saya mulai dilanda kekhawatiran apalagi melihat di lini social media banyak yang baru saja melahirkan, entah itu teman-teman ataupun public figure. Pokoknya saya tahu siapa-siapa aja yang hamilnya barengan sama saya dan hampir semuanya udah launching. Mulai dari Tya Ariestya, Tasya Kamila, istrinya Raditya Dika, sampai Meghan Markle. 😂 Sebagai upaya memperlancar proses persalinan, hari Minggu tanggal 19 Mei 2019 saya ikut prenatal yoga sekaligus kontrol kehamilan di klinik Bidan Erie. Untuk pertama kalinya saya diperiksa dalam dan ternyata menurut Bidan Erie saya udah pembukaan 1 dengan posisi kepala bayi yang sudah masuk panggul. Saya pun diberi racikan homeopathy dan diminta untuk lebih sering melakukan induksi alami yang tidak menggemukkan karena bayi saya udah cukup besar. 🙈😂 Beliau optimis kalau saya bisa melahirkan di minggu itu. Pulang dari klinik saya melakukan apa yang disarankan Bidan Erie.
 
Dua hari kemudian, saya bangun dan menyiapkan sahur seperti biasa untuk suami saya walaupun saya nggak ikut puasa. Saat itu saya belum merasakan apapun. Tapi setelah sholat Subuh dan saya ketiduran, antara sadar dan engga saya merasakan sensasi mulas ringan. Karena rasanya belum terlalu intens, saya minta suami saya tetap masuk kerja seperti biasa karena bisa jadi ini hanya kontraksi palsu. Nggak lama setelah dia berangkat, saya baru sadar kalau HP-nya ketinggalan. 😑🤦 Akhirnya dalam keadaan hamil besar dan kaki sakit, saya jalan cepat mengejar suami sebelum dia keburu jauh. Wong harusnya dia siaga dan bisa dihubungi kapan aja, ini malah HP-nya ditinggal-tinggal. 💆

Setelah drama pengejaran itu, saya kembali ke rumah dan ups... tiba-tiba kontraksi terasa semakin kencang. Untuk memastikan bahwa ini memang kontraksi sungguhan, saya menghitung durasi dan jeda kontraksi lewat aplikasi Kontraksi Nyaman. Dan hasilnya udah bukan pola 5-1-1 lagi, tapi udah pola 3-1-1. 💆😂 Saya tunggu sampai 30 menit dan belum ada tanda-tanda hilang, akhirnya saya bilang ke suami dan minta dia untuk pulang lagi. 😅 Saat itu suami saya udah naik kereta dan baru sampai Stasiun Tebet, akhirnya dia nggak jadi ke kantor deh. 🤣

Sambil menunggu suami pulang, saya berusaha mengatur nafas dan bermain gym-ball untuk mengurangi rasa sakit. Sesekali saya bergoyang mengikuti 'perintah' tubuh dan hasilnya memang rasa sakit jauh berkurang ketimbang saya diam saja. Suami tiba di rumah sekitar pukul 10.30 dan kami langsung bergegas ke klinik Bidan Erie. Satu hal yang saya sesali adalah, kenapa saya nggak banyak makan di fase mulas itu. Saya cuma minum susu dan makan sedikit roti. Harusnya saya makan lebih banyak karena ke depannya saya butuh banyak energi. Kami pun tiba di klinik sekitar pukul 12.00 WIB, langsung cek pembukaan dan ternyata udah mau bukaan 3. Kami dipersilakan untuk menempati kamar 1 dan saya diminta istirahat, kalau bisa bahkan tidur aja di sela-sela kontraksi.

Kami langsung menghubungi pihak keluarga saat itu. Butuh waktu bagi ibu dan ayah saya untuk menyusul kami dari Bogor ke Citayam. Apalagi saat itu ibu masih di sekolah sedangkan ayah saya lagi rapat bersama walikota Bogor. 😅 Padahal pagi harinya, ayah saya baru aja menanyakan kabar via WhatsApp. Saat itu dengan yakinnya saya bilang, "Belum terasa pak, nanti dikabari kok." Ibu saya baru tiba di klinik pukul 15.00, sedangkan ayah saya menyusul satu jam kemudian. Sementara keluarga suami saya yang di Sumedang baru bisa ke Bogor keesokan harinya.

Selama berjam-jam merasakan mulas, saya terus menerus diingatkan untuk makan. Tapi ya gimana mau makan, tiap kali makan nggak berapa lama kemudian saya langsung mual luar biasa lalu muntah. Seolah perut saya menolak semua makanan bahkan air putih sekalipun, padahal saya nggak punya asam lambung. Karena terus menerus muntah, saya jadi lemas dan cuma bisa berbaring. Di sela-sela kontraksi yang timbul tenggelam, saya masih sempat-sempatnya ketiduran. Saya bersyukur selama proses yang melelahkan itu suami saya selalu ada di samping. Walaupun nggak ada insiden teriak-teriak heboh sambil cakar sana sini, tapi lumayan juga tuh tangan dan lengannya saya cengkeram agak keras. 🤣 Selama itu pula tim bidan yang berjaga di sana saling bergantian memantau perkembangan saya. Mereka memantau pembukaan hanya dengan meraba perut saya saat kontraksi, sama sekali nggak melakukan pemeriksaan dalam kecuali saat saya baru tiba di klinik. Jadi saya nggak tahu udah bukaan berapa karena mereka juga nggak ngasih tau. 😅 Oh iya meski saya hanya berbaring, tapi saya diminta berbaring menghadap kanan sambil menaruh peanut ball di antara kedua kaki saya seperti guling. Hal itu dimaksudkan untuk membantu agar panggul semakin membuka dan memudahkan bayi untuk mencari jalan keluar.

Sekitar pukul 16.30, saya mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk bangkit dan main gym-ball di ruang yoga ditemani suami. Dan saat itulah kekacauan terjadi, saya muntah buanyaaaak banget di ruang yoga tanpa sempat lari ke kamar mandi. Baju saya berlumuran muntah sampai mengotori lantai dan saya semakin lemas. Setelah itu semuanya terasa berlalu dengan cepat. Yang saya ingat saya langsung kembali ke kamar untuk ganti baju dan pakai sarung, lalu kembali berbaring dengan posisi menjepit peanut ball. Rasa mulasnya udah makin nggak karuan, suami dan ibu saya bergantian mendampingi sambil saya remas-remas tangannya. Sebetulnya saya sudah latihan nafas untuk membantu persalinan, tapi entah kenapa saat rasa sakit semakin menjadi semua ilmu nafas yang saya pelajari buyar semua. 😂

Saya nggak ingat kapan tepatnya peanut ball ditarik dari kaki saya, tau-tau ada bidan yang ditugaskan untuk bergantian memegangi kaki kiri saya agar tetap di atas karena saya udah lemas banget. Entah ada berapa bidan yang mengelilingi saya, semuanya berusaha menyemangati. Padahal saya yakin mereka juga lelah dan lapar, apalagi udah menjelang waktunya berbuka puasa. Ketika adzan Maghrib berkumandang, ruangan mendadak sepi karena mereka bergantian berbuka puasa sekaligus shalat Maghrib. Kebetulan kontraksi juga lagi agak kalem, mungkin bayi saya tahu kalau saat itu semuanya lagi butuh waktu untuk istirahat sebentar. 😂 Nggak berapa lama kemudian Bidan Erie tiba, entah sugesti atau bukan saya serasa dapat suntikan energi positif hanya dengan mendengarnya bicara. Saya nggak ingat berapa kali tepatnya saya berusaha mengejan namun berhenti karena kehabisan tenaga. Tapi saya ingat pada usaha terakhir, saya berusaha 'memanggil' anak saya, "Dede Bilal ayo bantuin Bunda!" diiringi erangan yang panjang (dan agak memalukan setelah saya tonton ulang videonya 🙈😂). Nggak lama kemudian, lahirlah putra pertama kami tepat pukul 18.46 WIB. :')

Bilal usia 1 hari, difoto oleh Bidan Erie kesayangan kami 🤗

Bilal Ar Razi Irawan.

Terima kasih sudah memilih kami sebagai orangtuamu. Pada detik kamu lahir, saat itu juga kami terlahir kembali sebagai orangtua.

Tangisan pertama anak kami langsung terdengar memenuhi seisi ruangan. Bidan Erie lalu meletakkan tubuh mungilnya di dada saya. Ia masih berlumur cairan ketuban, tali pusatnya pun masih terhubung ke plasenta. Dan saya langsung memeluknya erat-erat sambil mengucap syukur tanpa henti. :') Alhamdulillah, alhamdulilah alhamdulilah, terima kasih ya Allah atas anugerah serta amanah yang Kau titipkan pada kami. Anak kami sehat dan sempurna, seperti doa yang tak henti kami rapalkan setiap hari berulang kali. Di pelukan saya berbaring manusia kecil yang harus kami didik untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di muka bumi.

Kami beruntung bisa mengabadikan momen bersejarah ini meski dengan kamera seadanya. Suami saya masih sempat menaruh action cam di pojokan ruangan beberapa menit sebelum anak kami lahir. Semua perasaan dan emosi yang tumpah di dalam ruangan itu pun berhasil direkam. Ketika kami sedang dilanda euforia dan tangis bahagia, rupanya para bidan sedang mati-matian berusaha menyelesaikan pekerjaan mereka yang juga nggak kalah penting: membenahi kembali jalan lahir yang baru saja dilewati anak saya. 🙈😂 Persalinan gentle birth memang tidak mengenal prosedur menggunting perineum dengan sengaja (alhamdulilah! 😂). Semua dikembalikan pada kemampuan sang ibu dalam mengatur nafas, seberapa besar ukuran bayi, bagaimana posisi tubuh bayi sebelum dan saat melewati jalan lahir, serta bagaimana sang ibu mempersiapkan tubuhnya. Itulah beberapa faktor yang akan menentukan apakah akan terjadi robekan atau tidak pada perineum. Kalau saya, karena sempat kehabisan tenaga dan juga nafas yang terlalu pendek, saya sempat berhenti mengejan di tengah jalan. 🙈😂 Padahal kepala anak saya udah hampir keluar tapi malah masuk lagi. Gara-gara itu di kepalanya terlihat ada lekukan bekas proses mengejan yang kurang terlatih, untungnya bekas lekukan itu sekarang udah hilang. 🙈😂

Lahirnya sang penerus Avengers di masa depan 😂

Yang jelas saya merasa beruntung bisa melahirkan di klinik ini, bersama Bidan Erie beserta timnya yang luar biasa sabar dan baik hati. Membaca banyak kisah persalinan para ibu di luar sana, saya menyadari bahwa bisa mengalami persalinan gentle birth merupakan sebuah kemewahan. Nggak sedikit ibu-ibu yang persalinannya mengalami terlalu banyak intervensi hingga menyisakan trauma. Belum lagi yang harus berdebat dengan keluarga inti karena berbeda pendapat mengenai metode persalinan. Atau yang merasa cemas karena kehamilannya divonis A-B-C oleh provider-nya padahal ketika ditelisik lagi, masih banyak cara untuk mengupayakan persalinan yang nyaman bagi sang ibu. Alhamdulillah saya nggak salah pilih, seolah semesta mendukung pilihan saya untuk melahirkan di Bidan Erie. Setelah melihat sendiri bagaimana proses persalinan yang saya alami, keluarga saya bahkan sampai memuji-muji pelayanan yang diberikan di klinik Bidan Erie.

Setelah persalinan, saya diminta menginap selama 2 malam di sana untuk observasi ibu dan bayi, memastikan tidak ada gejala serius ataupun komplikasi. Menjalani rawat inap di sana lebih terasa seperti menginap di rumah saudara, sama sekali nggak terasa seperti di klinik. Kamar yang saya tempati terdiri dari 1 kasur single, 1 boks bayi, 1 lemari baju, 1 sofa bed, 1 meja kecil, dilengkapi AC dan kamar mandi dalam. Kalau di rumah sakit, setidaknya saya mungkin harus menjadi pasien kelas VIP untuk mendapatkan fasilitas seperti itu. 😅

Sebelum kami pulang ke rumah, foto dulu sama Bidan Erie 😅

Butuh waktu 40 hari lebih bagi saya sebelum berhasil menuntaskan cerita persalinan ini. Siapapun yang pernah melalui fase melahirkan dan menyusui newborn pasti paham bagaimana rasanya. 😅 Apalagi pasca melahirkan saya langsung pulang ke rumah sendiri, bukan ke rumah orangtua. Keluarga suami memang menemani kami di rumah tapi hanya sampai seminggu setelah kami pulang. Selebihnya saya dan suami yang 'babak belur' menyesuaikan pola tidur serta manajemen waktu bersama anak bayi yang konon posesifnya melebihi semua mantan dijadiin satu. Hahahaha.... 😂 Saya bersyukur anak kami lahir sesaat sebelum libur lebaran, jadi suami punya waktu lebih banyak untuk menemani saya di rumah dan turun tangan langsung dalam mengurus anak. Sekarang, insya Allah kami berdua semakin solid mengurus anak, udah nggak se-clueless dulu. Si anak bayi juga udah lebih kalem ketimbang minggu-minggu pertama usianya. Ketika melalui fase begadang dan kurang tidur, rasanya memang waktu berjalan sangat lama. Tapi sekarang ketika rumah mulai terasa sepi dari suara tangisan bayi, saya jadi kangen masa-masa dia masih bayi merah. 😂 Wajahnya terus berubah-ubah di setiap perkembangan usianya, tingkahnya pun makin ada-ada aja. Rasanya ingin terus mengabadikan setiap detik kebersamaan kami. :')

Hai dunia, perkenalkan anggota baru keluarga kami, Bilal namanya. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, sholeh, baik hati dan budi pekertinya, serta bisa membawa kebaikan bagi diri sendiri serta orang-orang di sekitarnya. Aamiin.... 😇🙏

Foto keluarga pertama kami, beberapa hari sebelum Idul Fitri.

Share:

Surat untuk Jagoan Kecilku #3

Sumber ilustrasi: Freepik

Halo sayangku yang lagi sibuk cari jalan lahir... 😘

Nggak terasa ya sekarang usia kandungan Bunda udah mencapai 39 minggu. Waktu terakhir USG dokter bilang berat badan kamu udah 3,5 kilogram! 😱 Kamu mau nyaingin Ayah ya sayang? 😅 Dulu Ayah lahir dengan berat 4 kilogram dan sempat jadi pemegang rekor bayi baru lahir terbesar di kampungnya. 🤣 Tapi kalau bisa, kamu jangan sebesar itu ya. 🙈😂 Yang penting kamu sehat dan berat badan udah cukup.

Gimana keadaan di dalam sana sayang? Apa air ketubannya masih cukup untuk kamu leluasa bergerak? Apa nutrisi yang disalurkan kakak plasenta cukup untuk kebutuhan kamu? Apa ukuran panggul Bunda udah cukup lebar untuk kamu masuki? Apa kamu kesulitan menemukan jalan lahir? Atau justru kamu masih betah tinggal di perut Bunda? 😚

Persiapan Ayah dan Bunda dalam rangka menyambut kamu udah lengkap lho. Barang-barang kebutuhan kamu udah tertata rapi di dalam lemari. Baju, kain bedong, selimut, handuk, dan semua keperluan kamu udah dicuci bersih dan siap dipakai. Hospital bag yang akan dibawa ke tempat persalinan juga udah tersusun rapi di dalam mobil. Vaksin spesial yang akan langsung disuntikkan ke tubuh kamu sesaat setelah lahir juga udah siap sedia. Pokoknya, kapan pun kamu mau lahir, Ayah dan Bunda langsung sigap meluncur ke tempat Budhe Erie.

Sementara itu sambil menunggu gelombang cinta datang, yang bisa Bunda lakukan cuma terus berlatih di atas gym ball dan mempraktikkan gerakan yoga agar kamu lekas masuk ke panggul. Kalau selama ini Bunda sering mengeluh sakit pinggang dan sakit punggung, bukan berarti Bunda menyalahkan kamu ya, Nak. 😣 Bunda cuma seneng aja melihat kesigapan Ayah merawat Bunda dan berusaha mengurangi ketidaknyamanan yang Bunda rasakan. Hehehe... 🙈 Kalau sering dimanjain sama Ayah, hormon oksitosin rasanya langsung meningkat dan semoga dengan begitu kami pun semakin dekat dengan momen kelahiranmu. 🥰

Selama dua minggu terakhir Bunda menikmati masa-masa cuti, Bunda diberi banyak waktu untuk meresapi banyak hal yang patut disyukuri. Selain kehadiran kamu yang akan menjadi pusat alam semesta kami, Bunda bersyukur Ayah lah yang akan menemani hari-hari Bunda ke depannya. Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang Bunda tunjukkan di depannya, nggak sedikit pun mengurangi kasih sayang dan perhatian yang Ayah curahkan untuk Bunda. Kita beruntung Nak, punya lelaki sepertinya di keluarga ini. Lelaki yang setiap hari menyapa kamu lewat perut Bunda. Lelaki yang dalam doanya tak pernah luput memohon keselamatan kita berdua. Lelaki yang nggak peduli seberat apapun harinya, selelah apapun tubuhnya, selalu bersedia menjadi tempat Bunda berkeluh kesah. Kamu beruntung, karena dia lelaki yang kelak akan kamu panggil Ayah. 💖

Sampai jumpa di dunia luar sayangku. Bunda dan Ayah udah nggak sabar ingin memeluk kamu dengan erat. 🤗


Salam sayang,

Bunda
Share: