Showing posts with label liburan hemat. Show all posts
Showing posts with label liburan hemat. Show all posts

Krabi: Mengenal Thailand dari Pesisir Laut Andaman (Part 2)

Sepintas agak mirip Wayag di Raja Ampat ya? 😅

Well, balik lagi ke cerita tentang perjalanan ke Krabi nih. Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, hari kedua kami di Krabi diisi dengan island-hopping ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Krabi. Sejujurnya, saya awalnya agak bingung memilih paket tur yang mana karena rasanya semua pulau sama-sama bagus dan memiliki pantai yang cantik. 😂 Tapi saya mendapat sedikit pencerahan setelah membaca tulisan dari Tripzilla ini. Untuk mempermudah penjelasan, bisa dilihat peta wisata Krabi di bawah ini ya. Sejauh pengamatan saya, ada 4 macam paket tur berdasarkan kelompok pulau yang didatangi. Paket tur pertama adalah Phi Phi Islands Tour, yang mencakup Phi Phi Island & Bamboo Island (lihat gambar). Paket tur kedua adalah Four Islands Tour yang mencakup Phra Nang, Koh Poda, Chicken Island dan Koh Tup (lihat peta). Paket tur ketiga adalah Hong Islands, inilah paket tur yang saya ambil. Di beberapa penyelenggara paket wisata ada juga yang menawarkan paket tur James Bond Islands. 😅 Saya juga kurang tahu pulau mana saja yang jadi destinasi paket tur ini, tapi sepertinya paket ini lebih populer dari kawasan Phuket ketimbang dari Krabi.

Sumber foto: Tripzilla
Biasanya tersedia dua macam opsi kendaraan yang digunakan dalam paket tur ini: speedboat atau long-tail boat. Kalau mau lebih murah dan merasakan sensasi naik kapal tradisional khas Thailand, bisa pilih long-tail boat dengan resiko perjalanan agak lebih lama. Tapi kalau mau yang lebih cepat dan lebih nyaman, dengan jumlah peserta tur yang nggak terlalu banyak, bisa pilih speedboat, tentu saja harus bersedia rogoh kocek lebih dalam. Saya dan Nuni cukup beruntung bisa mendapatkan paket tur Hong Islands seharga 800 baht (sekitar Rp 315.000) belum termasuk biaya masuk taman nasional seharga 300 baht (sekitar Rp 135.000). Kalau melihat pilihan paket tur speedboat yang ada di website, rata-rata mereka menawarkan harga mulai dari 1100 baht (sekitar Rp 495.000). Catatan tambahan juga nih buat yang mau traveling ke Krabi, jangan terburu-buru memesan paket tur lewat website ya, siapa tau malah menemukan paket dengan harga yang lebih bersaing. 😉

Kami dijemput oleh mobil van sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari situ, mobil van tersebut masih harus menjemput peserta tur lain dari beberapa hotel yang ada di sekitar Ao Nang. Setelah terkumpul sekitar 8 orang termasuk kami, mobil van tersebut melaju ke dermaga lain di luar kawasan Ao Nang. Dermaganya sepi banget, cuma ada satu speedboat yang bertengger di ujung dermaga. Tapi air lautnya bening dan biru banget. 😍 Sebelum naik speedboat kami diminta membayar uang masuk taman nasional dan bertemu dengan pemandu yang akan menemani kami sepanjang perjalanan. Mas-mas pemandu ini berkata dia baru pertama kali mendapat peserta tur dari Indonesia, dan berkerudung pula macam saya dan Nuni. Dia menjelaskan kalau paket tur ini sudah termasuk makan siang dan dijamin halal, jadi kami nggak perlu khawatir. 😁

Dermaga tempat kami bertolak ke Hong Islands.

Selain saya dan Nuni, peserta lainnya terdiri dari pasangan India berumur 28 tahun, dan dua pasang bule paruh baya beserta pacar mereka yang kelihatannya sih cewek-cewek Thailand. Kami nggak terlalu banyak mengobrol, saya lebih sering komunikasi dengan mas-mas pemandunya aja. Speedboat yang kami tumpangi ukurannya nggak terlalu besar, tapi kami berdelapan + satu orang pemandu dan kru kapal aja kondisinya masih lengang banget. Kami bisa duduk pindah-pindah ke mana aja, nggak berdesak-desakan.

Pulau pertama yang kami datangi adalah Koh Lao La Ding. Garis pantainya nggak terlalu lebar karena didominasi oleh tebing batu kapur yang nggak memungkinkan buat didaki. Bibir pantai cuma cukup memuat beberapa kapal, sisanya untuk lokasi berenang para turis. Sejujurnya di pulau ini saya agak mati gaya karena pantainya lumayan penuh, mau berenang pun nyaris jadi kayak cendol. 😂 Tapi yang saya suka, di sini banyak ikan yang bergerombol dan tampaknya nggak takut sama manusia. Saya cuma perlu nyemplung sedikit dari pinggir pantai, kedalaman airnya pun nggak sampai sepinggang, udah ada ikan (nggak tau apa namanya) berukuran sedang yang berenang ke sana-sini di antara para turis. Lucu banget! 💖

Turis-turis di Koh Lao La Ding

Dari Koh Lao La Ding, kami pindah tempat ke pulau berikutnya yaitu Phakbia Island. Masih sama seperti di pulau pertama, Phakbia Island juga garis pantainya nggak terlalu luas. Sebenarnya kalau nggak dipenuhi oleh turis, pantai ini bakal jadi surganya fotografer landscape karena cantiiiiik banget. Pasir pantainya putih dan pantainya tersambung dengan gugusan bukit kapur di pulau sebelah. Iya, kalau saya memotret landscape itu lebih suka nggak ada objek manusianya sama sekali. Hahaha curang banget ya? 😂🙈

Para wisatawan yang berkeliaran di pulau-pulau ini memang didominasi oleh orang bule yang berpakaian renang super minim. Nggak jarang saya dan Nuni mendapat pandangan aneh karena kami berpakaian lengkap di tempat seperti ini. Kalau mereka mungkin cuma pakai one piece atau two pieces, saya dan Nuni istiqomah tetep pakai six pieces. Hahaha.... 😂 Tapi semakin jauh kami berjalan, ternyata banyak juga kami menemui sesama muslimah yang memakai baju renang panjang & tertutup. Sepintas tampaknya mereka adalah turis berwajah Arab serta turis dari Malaysia karena wajahnya masih serumpun.

Lunch with a view

Seperti yang dijelaskan oleh tour guide kami sebelum naik speedboat, makan siang yang disediakan oleh pihak pengelola tur dijamin halal. Kami pun menikmati makan siang di pulau terakhir sekaligus yang terbesar, yaitu Hong Island. Menu makan siang kami adalah nasi; sayur-sayuran yang terdiri dari campuran wortel, kol, jagung muda, nanas, dan mentimun (agak mirip acar, rasanya enak banget sumpah); dan ayam yang dibumbui mirip kari. Porsinya banyaaak banget, bahkan dibagi berdelapan pun kita masih bisa ambil sepuasnya. Sang tour guide juga menyediakan buah-buahan seperti nanas dan semangka yang baru dikupas di lokasi. Yang saya salut, meskipun perintilan konsumsinya lumayan banyak, awareness mereka dalam menjaga kebersihan juga sangat tinggi. Kulit buah yang habis dikupas, sisa makanan dan tulang-tulang dari piring kotor, semuanya dengan sigap langsung masuk ke dalam trash bag, sehingga nggak ada sampah yang berserakan. Salut! 👍

Suasana pantai Hong Island yang cukup ramai tapi nggak terlalu padat.


Turis-turis yang berjemur di pantai Hong Island

Nah, kalau di pulau-pulau sebelumnya waktu kami relatif singkat untuk menikmati keindahan pantai, di Hong Island ini kami diberi waktu lebih lama yaitu sekitar 2 jam. Banyak turis yang memilih berjemur di pinggir pantai. Kalau saya dan Nuni sih nggak usah ditanya ya, kayaknya kami udah cukup tanned tanpa harus berjemur. 😂 Di sini kami lebih banyak bermain air dan pasir di pinggir pantai sambil mengabadikan momen. Kalau boleh jujur, agak menyesal juga sih kenapa kami nggak prepare untuk nyebur. Pertimbangan kami saat itu karena sama-sama lagi halangan, jadi pasti rempong. Di sisi lain juga kami berdua sama-sama nggak bisa berenang jadi rasanya agak takut kalau harus snorkeling tanpa orang lain yang bisa diandalkan. Paket tur Hong Island ini memang lebih cocok buat yang cuma berani kecipak kecipuk di air dangkal. Makanya banyak juga keluarga yang membawa anak-anak kecil maupun orangtua yang udah lumayan sepuh. Kalau kalian seorang adrenaline junkie, kayaknya lebih baik pilih paket tur yang lain aja deh. 😂

Sumpah, ini bukan hasil Photoshop! 😂

Kalau ditanya, mau nggak balik lagi ke Thailand? Mau bangeeet! Makanannya enak banget dan cocok di lidah orang Indonesia. Tapi mungkin untuk trip selanjutnya ke Thailand, saya mau coba city tour aja misalnya ke Bangkok. Karena sepertinya memang benar, biaya hidup di Krabi ini jauh lebih mahal ketimbang di Bangkok. 💆

“We leave something of ourselves behind when we leave a place, we stay there, even though we go away. And there are things in us that we can find again only by going back there.” ― Pascal Mercier, Night Train to Lisbon
Share:

Krabi: Mengenal Thailand dari Pesisir Laut Andaman (Part 1)

Salah satu pantai di Hong Island

Waktu saya bilang mau liburan ke Thailand, banyak yang bertanya, "Wah pasti mau ke Bangkok/Phuket/Phi Phi ya?" Hmmm, tebakan yang gampang banget ditebak, padahal potensi wisata Thailand nggak cuma itu aja sih. 😅 Ada satu daerah tujuan wisata bernama Krabi di Thailand yang mungkin belum sepopuler Phuket. Tapi justru itu yang saya cari, daerah wisata yang belum terlalu dikenal wisatawan asing. Karena saya nggak terlalu suka kawasan wisata yang saking populernya sampai penuh sesak dan jadi kurang bisa menikmati suasana. Makanya Phuket dan Phi Phi nggak masuk ke dalam bucket list saya.

Saya sudah merencanakan trip ke Krabi ini sejak bulan September 2017 bersama siapa lagi kalau bukan teman jalan saya Nuni. 😂 Mungkin banyak yang mikir, perasaan baru kemarin posting saya habis lamaran, lho kok sekarang udah jalan-jalan lagi aja bukannya sibuk persiapan menuju hari H. Ya mau gimana lagi, enam bulan lalu mana saya tahu kalau saya bakal dilamar? 😂 Sedangkan kalau trip ini dibatalkan rasanya sayang banget, biaya yang udah saya keluarin buat tiket pesawat dan booking hotel kan lumayan gede. Jadi saya putuskan trip harus jalan terus. 😁

Saya berangkat dari Jakarta hari Rabu, 28 Maret 2018 setelah jam pulang kerja menuju Kuala Lumpur terlebih dahulu. Karena untuk Air Asia, semua penerbangan menuju Krabi pasti harus transit di Kuala Lumpur. Oh iya, saya beli tiketnya terpisah ya, jadi tiket pesawat pulang pergi CGK-KUL saya beli dulu, baru tiket KUL-KBV saya beli terpisah lagi. Kenapa nggak beli yang sekaligus aja? Karena perbedaan harganya lumayan jauh, meskipun maskapainya sama-sama Air Asia dan transitnya pun sama-sama di Kuala Lumpur. Total harga tiket yang saya bayar untuk semua tiket sekitar Rp 1.500.000, sedangkan kalau saya beli tiket CGK-KBV langsung (bukannya masing-masing CGK-KUL, KUL-KBV) harganya sekitar Rp 2.500.000. Jauh banget kan selisih harganya? Mending saya pakai buat biaya makan di sana. 😂

Resikonya memang saya harus bermalam di bandara klia2 karena mengejar penerbangan ke Krabi yang paling pagi sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Saya cuma sempat tidur sekitar 2 jam di ruang tunggu dekat gate P & Q Terminal 2 bandara klia2. Meskipun duduk di sofa, tapi lumayan lah bisa merem sebentar. Sebelum terbang ke Krabi, saya sempatkan mandi kilat di shower room yang terletak di toilet dekat situ. 😁

Kami sampai di Krabi International Airport sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Meskipun bandara internasional, tapi ukurannya agak kecil, mungkin karena bukan bandara utama. Bahkan duty free-nya pun very very small, nyaris seukuran kios-kios kecil di bandara klia2. 😂 Dari sana kami naik minivan yang akan mengantarkan kami ke Ao Nang, salah satu distrik di wilayah Krabi yang cukup terkenal karena keindahan pantainya, di situlah kami memilih lokasi hotel. Ada beberapa opsi kendaraan yang bisa kita pilih untuk menuju ke lokasi hotel dari bandara. Kami memilih minivan karena harganya paling murah, hanya 150 baht (sekitar Rp 67.500 dengan asumsi kurs 1 baht = Rp 450). Kalau memilih naik taksi memang bisa lebih cepat sampai karena taksi nggak perlu ikut mengantar tamu-tamu lain ke lokasi hotelnya, namun biayanya cukup mahal 500 baht (sekitar Rp 225.000).

Paradise Hotel tempat kami menginap. Sumber foto: Agoda.

Kesan saya ketika sampai di kawasan Ao Nang adalah... sepi banget! 😂 Serius, untuk ukuran wisata pantai, Ao Nang ini nggak se-hectic Senggigi, Gili Trawangan, atau mungkin Kuta (maaf ya saya belum pernah ke Kuta sih, pernahnya ke Lombok doang 😂). Mungkin karena kami sampai di sana masih relatif pagi, sekitar pukul 09.00 jadi kebanyakan toko dan restoran lokal belum buka. Apalagi para bule-bule itu pasti masih tidur karena malamnya habis party, mungkin lho ini. 😝 Saya dan Nuni akhirnya cuma keliling sebentar cari sarapan sambil lihat-lihat toko souvenir, lalu sekitar jam 10.30 kami kembali ke hostel untuk istirahat karena semalam sama-sama kurang tidur. Kami terbangun sekitar jam 02.00 dalam keadaan lapar, padahal sebelum tidur kan baru aja makan. 😂 Mandi sebentar lalu ganti baju, kami pun siap menjelajah pesisir pantai Ao Nang!

Sebenarnya, ada beberapa kawasan wisata pantai yang bisa dipilih di wilayah Krabi. Selain Ao Nang, yang cukup terkenal ada Railay Beach dan juga Noppharat Thara Beach. Awalnya, saya dan Nuni memesan hotel di kawasan Krabi Town, agar lebih dekat ke pusat kota. Tapi setelah mengobrol dengan seorang kawan yang pernah berkunjung ke Krabi, dia merekomendasikan untuk memilih penginapan di sekitar Ao Nang Beach. Pantainya cukup indah, dekat dengan pusat keramaian khas wisatawan tapi juga nggak terlalu hectic. Sayangnya agak sulit menemukan hotel di Ao Nang Beach  yang masuk ke budget kami, tapi beruntung kami menemukan Paradise Hotel. Biaya penginapan untuk 2 malam hanya Rp 477.000,- sudah termasuk satu kamar double bed dengan kamar mandi dalam & dapat kipas angin, cocok lah buat budget traveler macam kami ini. Dengan budget segitu yang lokasinya dekat pantai, paling-paling kami cuma dapat kamar dorm campuran, sedangkan kami lagi nggak kepengen berbagi kamar sama siapapun. 😂 Apalagi habis basah-basahan di pantai, eeew pasti nggak nyaman banget kan. Walaupun resikonya, kami harus perang melawan sekawanan kecoak di kamar mandi yang bikin kami jerit-jerit tengah malam. Huffft, agak disayangkan sih. Kalau nggak ada kecoak, mungkin saya rela kasih rating 7,5/10 untuk Paradise Hotel ini. Tapi karena ada insiden kecoak, cukup saya kasih rating 6/10 aja ya. 😂

Sore hari itu kami berjalan menyisiri pantai Ao Nang. Sepanjang jalan cuma kelihatan beberapa bule yang lagi berjemur atau sekedar berenang santai di pinggir pantai. Trotoar di sepanjang jalan menuju pantai cukup lebar dan nyaman dilewati pejalan kaki, mengingatkan saya dengan suasana di Malioboro. Hanya saja di sini kios-kiosnya berjajar rapi di pinggir jalan, trotoar yang cukup lebar membuat kita leluasa berjalan dan nggak sampai sikut-sikutan dengan pejalan lain. Dan yang bikin happy, setiap beberapa puluh meter ada tong sampah serta trash bag yang diletakkan di pinggir jalan. Makanya kawasan ini bersiiiiiih banget, pokoknya jauh dari kesan kumuh. Saya juga nggak kebingungan harus buang sampah ke mana karena hampir di setiap sudut ada trash bag. Wah, Indonesia harus belajar banyak nih dari Thailand.

Pantai Ao Nang ini adalah pantai sunset, meskipun saya nggak tau soal itu sebelumnya, tapi saya langsung kegirangan ambil tripod dan memotret dari pinggir pantai, bersyukur banget bisa menyaksikan sunset yang indah dari pantai Ao Nang. Sebetulnya, kondisi pantai sore itu lumayan ramai. Banyak pengunjung pantai yang berlomba-lomba pengen selfie paling depan. Hadeeeeh ~ 😣 #tepokjidat. Saya pun harus pinter-pinter ngatur angle dan timing supaya bisa mendapatkan foto pantai sekaligus sunset yang bersih tanpa ada wujud manusia. 😂

Golden hour di pantai Ao Nang. No filter needed!

Untuk urusan makanan halal kita nggak perlu khawatir karena komunitas Muslim di Krabi ini cukup banyak. Bahkan di sana ada beberapa mesjid besar yang jadi daerah tujuan wisata, walaupun saya nggak sempat ke sana sih. Di sekitar pantai Ao Nang ada banyak restoran lokal yang menunjukkan logo halal. Mulai dari restoran seafood, Thai-food, Indian-food, sampai Arabian-food juga ada. Hari pertama kami di Krabi, kami menikmati makan malam di PS Cafe & Restaurant yang menyajikan makanan khas Thailand. Saya memesan nasi goreng tom yum yang rasanya agak pedas dan kaya akan bumbu rempah, serta traditional spring roll yang harga per porsinya masing-masing 95 baht (sekitar Rp 42.750,-). Dari segi harga, harus saya akui biaya hidup di Krabi memang lebih mahal dibandingkan Bangkok sih. Di Krabi biaya sekali makan berat di restoran berkisar antara 100-200 baht (sekitar Rp 45.000 - Rp 90.000). Apalagi kalau makan seafood, harga berkisar antara 200-300 baht (sekitar Rp 90.000 - Rp 135.000). Sedangkan kalau mau lebih murah bisa makan di food stall dengan kisaran harga 40-80 baht (sekitar Rp 18.000 - Rp 36.000). Bandingkan dengan biaya hidup di Bangkok, dengan nominal yang sama mungkin kita udah bisa beli beberapa jenis makanan sampai perut begah. 😂 Tapi harus saya akui, makanan lokal Thailand itu nggak ada yang nggak enak! 😂 Aseli deh, saya cobain berbagai makanan mulai dari jajanan kaki lima sampai restoran tepi laut, semuaaaaaanya enak! 😋

Beberapa menu restoran halal yang saya datangi.

Saran saya, selama di Thailand jangan coba-coba makan di restoran fast food franchise deh. Saya nggak tau sih franchise yang lain gimana, tapi saya sempat makan B*rg*r K*ng yang ada di kawasan Ao Nang karena waktu itu sebagian besar warung makan belum buka di bawah jam 10 pagi, sumpah harganya mahal banget astaga. 😓 Saya dan Nuni sengaja milih makan di situ karena bingung, warung makan rata-rata masih tutup, kalau pun ada yang buka hanya beberapa restoran yang dari luar tampak mahal. Karena takut zonk makanya kami memilih restoran fast food, yang ternyata malah jauh lebih zonk. Bayangkan, untuk menu breakfast paling murah yang isinya cuma orange juice (gelasnya kecil banget nggak sesuai gambar 😑), hash brown potato, omelette, dan daging burgernya aja (itu pun tipis), kami harus membayar 159 baht (sekitar Rp 71.000) per porsinya. Astaga. Kalau bukan karena udah kelaparan belum makan dari semalam, nggak bakal deh kami mau makan di situ. Cukup sekali itu aja kami salah pilih tempat makan, selebihnya sih kami puas banget! 😋

Nasi goreng tom yum super pedas tapi enak!
Oiya, karena kami berencana mengambil paket tur island-hopping untuk hari kedua, kami pun menghabiskan sore itu dengan berkeliling mencari paket tur dengan penawaran terbaik dan tentunya sesuai budget. 😂 Sebelum hari keberangkatan, kami udah lihat-lihat berbagai website yang menawarkan paket tur island-hopping, rata-rata kisaran harganya di atas 1000 baht (sekitar Rp 450.000). Sempat mau pesan, tapi saya baca di beberapa blog justru banyak yang menyarankan lebih baik pesan paket tur langsung di Krabi saja, karena biasanya malah lebih murah ketimbang pesan melalui website. Kami menyusuri kios-kios yang menampilkan papan harga paket tur, kok ya nggak nemu yang murah. Setelah bolak balik beberapa kali, sampailah kami di kios yang dijaga oleh mbak-mbak Thailand berkulit hitam manis dengan perawakan mirip Atun adiknya Bang Doel (duh kan jebakan umur 😂). Cara penyampaiannya lucu banget, ngomongnya agak nyablak dengan bahasa Inggris khas Thailand. Karena saya dan Nuni sama-sama nggak mau snorkeling, si mbak itu menyarankan kami mengambil paket tur yang ke Hong Island aja, karena kegiatan snorkeling-nya lebih sedikit dibanding paket lain. Untuk paket tur ke 4 pulau, kami cuma perlu membayar 700 baht (sekitar Rp 315.000) dengan menumpang speedboat! Wow ~ 😲😍 Di kios-kios lain, apalagi yang di website, harga segitu paling cuma bisa naik long-tail boat (kapal tradisional Thailand) yang waktu tempuhnya lebih lama. Kami sampai nanya berkali-kali apa benar ini paket untuk speedboat dan bukannya long-tail boat? Habis rasanya kok too good to be true! 😂😂😂

Well, sampai di sini dulu ya cerita perjalanan hari pertama saya di Krabi. Karena hari kedua tampaknya akan terlalu panjang untuk diceritakan di sini, sampai jumpa di posting-an berikutnya![]
Share:

Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part II)

Marina Bay Skyline

Yak, sesuai janji saya di postingan sebelumnya, saya mau melanjutkan cerita trip Singapura-Malaysia bagian kedua. Salah satu keputusan yang nggak saya sesali saat trip ke Singapura kemarin adalah memilih Meadows Hostel sebagai tempat berlabuh. Hehehe... Kebetulan Nuni yang bertugas pesan hotel, kalau nggak salah dia pesan lewat Hotels.com dengan harga 95 ringgit (sekitar 150 ribu) untuk 2 orang. Sebenarnya saya anaknya nggak neko-neko dalam memilih penginapan. Apalagi waktu saya traveling sendirian di Surabaya, meskipun waktu itu difasilitasi oleh kantor, ketimbang tidur di hotel yang agak bagus saya lebih memilih tidur di hostel dorm karena saya anaknya penakut kalau harus tidur sendirian. Hahaha...

So far, udah dua kali saya menginap di hostel dorm tapi selalu yang model kapsul (bukan tempat tidur tingkat biasa, melainkan ada sekat dan tertutup tirai), alhamdulillah saya nggak pernah mengalami hal yang nggak enak. Yang penting tetap waspada terhadap barang bawaan dan manfaatkan fasilitas loker untuk menyimpan barang berharga. Meadows Hostel yang kami tempati sebenernya agak anomali, karena lingkungan sekitarnya bukan tempat lazim bagi backpacker. Kami cukup beruntung bisa dapat hostel bagus, bersih, dekat stasiun MRT, sudah termasuk sarapan pula dengan harga di bawah 15 SGD.

Bagian dalam Meadows Hostel (Source: Booking.com)

Anyway, di hari kedua ini jadwal kami agak sempit, karena jam 14.30 kami harus naik bus yang akan mengantar kami dari Singapura ke Kuala Lumpur. Niat awal, kami mau ke Merlion Park sambil mengitari Marina Bay, makan es krim di Orchard Road, lalu ke Mustofa untuk belanja oleh-oleh, baru kembali ke hostel untuk mengambil ransel dan menuju ke pool bus di Golden Mile Complex. Kenyataannya? Marina Bay ternyata terlalu luas untuk dilewati dengan berjalan kaki dan terlalu banyak spot foto cantik untuk diabaikan begitu aja. Prediksi awal paling lama cuma 1,5 jam aja kami mengitari kawasan itu termasuk foto-foto di Merlion Park, realitanya molor sampai hampir 3 jam! Hahaha...

Untuk menghemat waktu, akhirnya kami batal ke Mustofa. Dari Merlion Park kami naik MRT ke Orchard Road untuk makan es krim (ini ngidamnya Nuni lho, bukan saya, hehehe… :p), sedangkan untuk belanja oleh-oleh kami mampir ke Lucky Plaza yang masih terletak di kawasan Orchard Road. Lagi-lagi, karena keasyikan belanja akibatnya kami harus berkejaran dengan waktu saat kembali ke hostel. Sambil bawa kantong belanjaan, kami setengah berlari menyusuri jalanan. Saya yang biasanya butuh waktu lama buat mikir harus naik MRT di jalur mana, belok ke mana, turun eskalator di mana; mendadak pintar multitasking dan bisa berpikir cepat. Memang ya, kita nggak pernah tau batas kemampuan kita kecuali saat di bawah tekanan. Hahaha…

Hijab street ala-ala di Orchard Road.
Sebenarnya, jarak antara Meadows Hostel dengan Golden Mile Complex nggak terlalu jauh, cuma sekitar 1,6 km. Untuk standar di Singapura, mestinya bisa dicapai dalam waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi karena waktunya benar-benar mepet dan ransel kami lumayan berat, terpaksa kami sewa Uber. Agak nyesek sih, jarak cuma 1,6 km harus merogoh kocek 6,5 SGD (sekitar 65 ribu rupiah). Kalau di Jakarta, dengan uang segitu mungkin kita bisa naik Uber dari Jakarta Selatan sampai ke Jakarta Pusat. T^T

Sebelumnya saya udah pernah ke Kuala Lumpur, tapi menyebrang dari Singapura ke Kuala Lumpur dengan naik bus, well itu pengalaman baru buat saya. FYI, Nuni udah pesen duluan tiketnya lewat website, saya lupa apa nama website-nya. Sama halnya seperti di Indonesia, perjalanan Singapura – Kuala Lumpur dengan bus dilayani oleh beberapa perusahaan. Kita bisa memesan lewat website, mau naik bus dari perusahaan apa, jam berapa, dan durasi perjalanannya berapa lama. Di sini agak sedikit tricky, meski sama-sama jurusan Singapura – Kuala Lumpur, kayaknya tempat pemberhentian serta rute yang mereka lewati beda-beda, karena waktu tempuh setiap bus juga berbeda. Waktu tempuh tercepat sekitar 4 jam, namun ada juga yang keterangannya 5 jam, 6 jam, 8 jam, bahkan lebih dari itu. Dengan harga 18 SGD (sekitar 180 ribu rupiah), harga segitu termasuk yang termurah di antara harga bus lain. Kami agak takjub saat melihat bus yang akan kami tumpangi, karena ternyata busnya tingkat dua dengan formasi tempat duduk 2 – 1. Tempat duduknya pun dilengkapi sandaran kaki yang bisa dinaik-turunkan, dan ada mode kursi pijat walaupun pas dicoba cuma geter-geter aja. Hahaha… Sumpah saya norak banget karena ekspektasi saya paling cuma dapat bus antar kota-antar provinsi kayak di Indonesia yang duduknya sempit-sempitan formasi 3 – 2. Nggak taunya, dapat bus yang mevvah banget, alhamdulillah… :’)

Bagian dalam bus Transtar tingkat 2.
Tadinya juga saya pikir jembatan lintas laut yang menghubungkan Singapura dengan Malaysia itu kurang lebih sama seperti jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Ternyata jembatan yang dikenal sebagai Tuas Second Link ini panjangnya nggak sampai 2 km, sedangkan Suramadu panjangnya lebih dari 5 km. Tips aja sih, ada baiknya kita nggak tidur dulu sebelum sampai di daratan Malaysia, soalnya kita masih harus melewati proses imigrasi di perbatasan dan mau nggak mau harus turun dari bus. Nggak mau kan lagi enak-enak tidur, diteriakin sama kondektur gara-gara kita baru bangun dan geraknya serba lelet? Kalau udah lewat dari perbatasan sih, mau tidur sambil nyeker juga terserah.

Perjalanan lintas negara yang kami lewati makan waktu hampir 7 jam padahal seharusnya hanya sekitar 5 jam. Agak di luar dugaan sih karena ternyata di tol ada kecelakaan, akibatnya terjadi kemacetan panjang sampai berkilo-kilo meter. Kami sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 21.30 waktu setempat dan langsung meluncur ke KL Sentral dalam keadaan lapar. Iya, saya dan Nuni yang doyan makan, selama di Singapura justru malah kuat nggak makan seharian, paling cuma diganjal roti dan air putih. Makanya begitu sampai di KL Sentral yang pertama kami lakukan adalah makan besar. Lupakan sejenak deh aturan nggak boleh makan besar di atas jam malam, karena saya tau beberapa jam berikutnya akses terhadap makanan pasti susah.

Kami sampai di apartemen Nuni yang terletak di Petaling Jaya tepat jam 12 malam. Rasanya badan campur aduk; capek, ngantuk, pegal, lengket, panas, dsb. Belum lagi harus packing ulang barang-barang bawaan supaya masuk semua di ransel saya yang cuma 30 liter. Usai mandi dan packing, saya sempatkan tidur sebentar walau cuma 1 jam, karena jam 3 pagi saya harus mengejar bus pertama menuju KLIA. Meski saya udah bangun tepat waktu, pesan GrabCar di jam segitu ternyata bukan perkara gampang. Hampir 20 menit saya nunggu di lobi apartemen dan nggak ada satu pun GrabCar yang nyantol. Saya udah ketar ketir karena busnya jalan tepat jam 03.30 pagi. Kalau saya melewatkan bus yang itu, jadwal bus berikutnya baru ada jam 05.00, gimana caranya saya bisa ngejar pesawat jam 07.40?

Begitu dapat GrabCar yang mau pick-up, kami langsung minta driver-nya buat ngebut biar gimana caranya bisa sampai di Paragon Mall dalam waktu kurang dari 10 menit. Biasanya saya paling gampang panik kalau berhubungan sama ketepatan waktu, tapi entah kenapa waktu itu saya cuma bisa pasrah dan ketawa-ketawa aja, mungkin efek kurang tidur makanya pikiran agak gesrek. Hahaha…

Perjalanan menuju bandara dini hari itu relatif lancar, jadi bus yang saya naiki pertama-tama berhenti dulu di KLIA2, baru setelah itu menuju perhentian terakhir di KLIA dengan biaya 12 ringgit (sekitar 36 ribu rupiah). Saya sampai di KLIA sekitar jam 04.30, tadinya saya pikir saya bakal kecepetan dan punya sisa waktu banyak untuk leyeh-leyeh di ruang tunggu. Ternyata… antrian check in di konter singa terbang aja makan waktu 2,5 jam! Dari jam 5 saya baru bisa melewati konter imigrasi sekitar jam 7. Yang saya nggak habis pikir, kenapa sih mereka nggak memberlakukan web check in untuk meminimalisir antrian kayak gini? Dari awal saya beli tiket saya langsung ancer-ancer untuk web check in. Menurut keterangan di website resminya, check in baru bisa dilakukan 24 jam sebelum keberangkatan. Oke, saya tunggu. Tapi begitu tiba waktunya, keterangan yang saya baca ternyata penerbangan ini cuma bisa check in langsung di bandara. Astaga, kesalnya bukan main.

Antrian mengular di konter check in.
Selama mengantri berjam-jam saya udah ngobrol sama entah berapa penumpang saking bosannya. Belum lagi kelakuan khas orang Indonesia yang suka potong antrean seenaknya. Tapi kondisi antrean pun udah terlalu ruwet untuk diperbaiki tanpa bantuan petugas. Di sana saya ketemu sama pasangan suami istri TKI yang mau pulang ke Indonesia tapi beda arah. Sang suami langsung terbang ke Surabaya, sedangkan istrinya transit di Jakarta lalu terbang ke Lampung karena harus mengurus sesuatu. Mereka berbaik hati memperbolehkan saya numpang nyimpen ransel di troli mereka. Mungkin mereka kasian liat cewek sendirian bawa ransel kayak tempurung kura-kura, sedangkan antrean geraknya cuma selangkah-selangkah.

Lewat dari konter imigrasi, kami jalan bertiga sampai akhirnya berpisah karena sang suami menuju Gate C 31, sedangkan kami harus ke Gate C 13. Saya bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan lain apalagi kepo sebenernya, jadi saya agak awkward setelah pisah dari suaminya, si istri jalan tapi nggak berhenti nangis. Sedangkan waktu juga udah kelewat mepet untuk ngajak dia duduk dan menenangkan diri karena gate udah hampir ditutup. Yang ada saya malah jadi pengen ikutan nangis juga padahal saya nggak tau duduk perkaranya. :’D

Walaupun perjalanan pulang itu agak drama, alhamdulillah saya mendarat dengan selamat di Bandara Soetta sekitar jam 9.40 WIB. Dua puluh menit saya menunggu, bus Damri tujuan Lebak Bulus akhirnya datang juga dan–tanpa dikasih kendor–saya langsung meluncur ke kantor dalam keadaan masih bawa ransel isi baju kotor. Teman-teman kantor saya sampai geleng-geleng kepala, takjub sama energi saya yang pamit Jumat sore, Senin pagi udah duduk lagi di kantor siap lanjut kerja. Ya mau gimana lagi? Namanya juga darah muda yang masih berapi-api, saya kerja juga supaya bisa beli tiket liburan lagi toh? Hehehe…

Your 20's are your selfish years. Old enough to make the right decisions and young enough to make the wrong ones. Be selfish with your time; travel, explore, learn something new, fall in and out of love, be ridiculous and silly, stupid and wild. Be 20-something!
Share:

Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part I)

Sebenernya saya maju mundur mau sharing tulisan tentang trip ini. Karena, aduh please deh Singapura sama Malaysia itu so so mainstream, orang-orang udah biasa aja ke sana, apalagi yang mau ditulis? Tapi sejujurnya, sebelum saya pergi ke sana pun saya masih blog-walking dan baca-baca pengalaman blogger lain. Dari setiap blog yang saya baca, selalu ada hal baru yang saya pelajari, jadi ya kenapa saya nggak nulis pengalaman saya sendiri? Siapa tau juga ada hal lain yang bermanfaat buat teman-teman yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke sana. So here we go!

Pemandangan dari Marina Bay Sands, Singapore

Perjalanan saya ke Singapura digagas sama Nuni, travel buddy saya yang menetap di Kuala Lumpur. Tadinya kami sempat mau berkunjung ke Bali, tapi karena satu dan lain hal kami putuskan ke Singapura aja. Seperti trip saya yang sebelumnya, saya selalu mengambil penerbangan malam di hari Jumat, jadi saya bisa tetap masuk kantor seperti biasa. Untuk liburan kali ini, saya pakai maskapai singa terbang (sebuah kesalahan besar sebetulnya, jangan dicontoh ya). Lazimnya, saya ambil tiket pulang Minggu sore atau malam. Tapi saya cari-cari harga tiketnya mahal banget, nggak ada yang di bawah 900 ribu. Saya coba cari penerbangan Senin pagi, masih tetap mahal. Hiks... Akhirnya saya putar otak, gimana kalau saya pulang lewat Kuala Lumpur? Saya cari-cari ternyata tiket yang murah dari Kuala Lumpur itu ada di Senin pagi. Baiklah, namanya juga mengobati penasaran kan? Nggak promo pun nggak apa-apa. Jadilah saya beli tiket singa terbang pulang pergi dengan rute CGK-SIN dan KUL-CGK. Total biaya tiket sekitar Rp 1.035.000,- pulang pergi, saya pesan lewat Tiket.com.

Saya dan Nuni sepakat untuk menekan biaya perjalanan serendah mungkin, jadi opsi untuk hotel pun terbatas pada tipe dormitory. Nggak perlu saya kasih tau lah ya, Singapura itu negara yang mahal, banget, sumpah deh amit-amit mahalnya. Berhari-hari kami cari hostel dorm yang murah, lokasinya strategis, tapi rating-nya juga nggak rendah-rendah amat. Pilihan pun jatuh pada Meadows Hostel yang terletak di kawasan Lavender. Jaraknya pun nggak terlalu jauh dari Stasiun MRT Lavender, jalan kaki hanya sekitar 10 menit. Sebetulnya kami masih berusaha mencari hostel dorm yang female only, tapi harganya jauuuuh di atas hostel dorm campuran. Ya sudah lah, dua gadis berjilbab ini pun pasrah tidur sekamar rame-rame sama cowok dari berbagai negara. Hahaha....

Karena tujuan utama kami ke Singapura adalah untuk ke Universal Studios Singapore (USS), kami cari tiket murah lewat aplikasi Traveloka. Lumayan lho, kalau beli tiket on the spot harganya sekitar 750 ribu, tapi kami cuma bayar sekitar 540 ribu dengan memanfaatkan kode voucher. I love Traveloka! Selain untuk beli tiket USS, saya juga beli Singtel Hi!Tourist seharga 15SGD (sekitar 150 ribu rupiah) yang berisi paket data 4GB + 5GB khusus untuk social media + 500 menit panggilan lokal + 30 menit panggilan internasional. Well, fair enough... Kartu perdana ini aktif selama 5 hari, dan bisa diambil di beberapa lokasi pick up, salah satunya di Changi Airport. Kenapa saya nggak pakai paket internet dari provider Indonesia? Karena mahal dan nggak worth it. Kebetulan saya pakai Telkomsel pascabayar, jelas saya takut tagihan bakal membengkak kalau saya pakai international roaming. Paket roaming Telkomsel itu sekitar 125 ribu rupiah dan cuma dapat kuota 1GB saja. Hellooo, manalah cukup 1GB buat 3 hari? Apalagi saya internet freak. Jadi beli kartu Singtel adalah win win solution.

So, tiket pesawat udah, pesan hotel udah, tiket USS udah, kartu sim lokal juga udah. Tibalah saya di hari keberangkatan. Saya berangkat dari kantor yang terletak di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dan tiba di Bandara Soetta sekitar pukul 16.30 WIB. Pesawat saya dijadwalkan berangkat pukul 17.55 WIB. Tapi pasti udah ketebak dong: DELAY sejam setengah aja kok. Dari situ saya langsung hopeless sama perjalanan pulang nanti dan komat-kamit dalam hati nggak akan mau pake maskapai ini lagi.

Saya mendarat di Terminal 3 Changi Airport sekitar pukul 22.30 waktu setempat. Dari awal saya memang udah niat bakal tidur di bandara, demi menghemat budget. Sementara Nuni baru akan terbang dari Kuala Lumpur naik pesawat pertama keesokan harinya, jadi semalam suntuk saya berjuang melek sendirian. Sejujurnya, saya agak panik karena itu kali pertama saya ke Changi. Saya udah kelewat santai bakalan langsung dapet koneksi wifi bandara, sama halnya seperti di KLIA. Tapi ternyata, koneksi wifi di Changi ini agak ribet, harus masukin nomor kartu lama kita, sedangkan saya nggak mau nyalain Telkomsel sama sekali. Saya yang semula berniat nggak mau keluar dari imigrasi sampe pagi, terpaksa keluar imigrasi demi nyari booth Singtel untuk pick up kartu pesanan saya. Duh, selamat tinggal ruang tunggu yang nyaman. :(

McDonalds di Terminal 3 Changi Airport pukul 11 malam.

Keluar dari Terminal 3, saya langsung mendatangi McDonalds yang masih cukup ramai meski waktu menunjukkan hampir tengah malam. Saya pesan burger, kentang, serta minuman seharga 5 SGD dan langsung ambil posisi wuenak di pojokan. Berbeda dengan di KLIA2, di sini nggak ada yang ambil posisi wuenak tiduran. Beberapa orang ada yang tampak tidur, tapi posisi mereka masih lumayan proper, cuma nunduk di meja atau bersandar ke bangku. Kalau di KLIA2, waktu itu saya makan di Burger King, mereka bener-bener datang ke sana untuk numpang tidur. Jadi makanan dibiarin aja di meja, si empunya makanan selonjoran di sofa atau geletak di bawah pakai sleeping bag. Saya bersyukur ransel saya lumayan besar, tegak, dan empuk, jadi bisa saya jadikan sandaran hati untuk tidur. Memang nggak nyenyak sih, cuma tidur-tidur ayam, tapi lumayan lah.

Ransel Consina yang setia.
Yang saya kesal, begitu saya ketiduran agak pulas, sekitar jam 4 pagi saya kebangun dan mendapati makanan saya udah nggak ada di atas meja. Padahal kentang dan minumannya masih lumayan banyak. Astaga, kenapa mas-mas pelayan ini gesit banget sih bersihin mejanya? Padahal saya ada di meja itu, walaupun tidur posisi saya masih duduk kok. Huhuuu... Karena kesal, dan nggak enak juga masa di meja udah nggak ada makanan tapi saya masih duduk di situ, saya pun pindah ke bangku tunggu biasa di luar McDonalds.

Sekitar pukul 08.00 pagi, saya ketemu Nuni yang baru mendarat dari Kuala Lumpur. Kami berdua sama-sama nggak tidur semalaman dan nggak mandi, tapi demi foto liburan yang ciamik, kami dress up semaksimal mungkin di toilet bandara. Ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dandan, pakai parfum, pokoknya apapun yang dibutuhkan untuk menghilangkan kesan nggak mandi dan nggak tidur. Hihihi... Dari Changi kami langsung ke Meadows Hostel yang terletak di kawasan Lavender dengan naik MRT. Karena Changi Airport dan Lavender berada dalam satu jalur yakni East West Line (jalur hijau), kami nggak perlu transit sama sekali, jarak sembilan stasiun ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit aja. Saya akui, peta MRT di Singapura ini jauh lebih mudah dibaca ketimbang peta LRT di Kuala Lumpur.

Singapore Tourist Pass
Oh iya, supaya lebih hemat, kami beli Singapore Tourist Pass yang bisa digunakan sepuasnya untuk naik MRT, LRT, dan bus. Ada 3 jenis kartu yang bisa dipilih: 1 hari seharga 10 SGD, 2 hari seharga 16 SGD, dan 3 hari seharga 20 SGD. Namun kita harus deposit uang 10 SGD sebagai jaminan yang bisa diambil saat mengembalikan kartu. Kalau nggak pakai Singapore Tourist Pass, kita harus mengeluarkan uang yang lumayan. Untuk sekali perjalanan ke beberapa stasiun aja harus bayar berapa dolar. Bayangin kalau kita muter-muter keluar masuk stasiun? Bisa abis di ongkos deh...

Di Meadows Hostel, kami cuma ngedrop ransel karena masih terlalu pagi untuk check in, syukurlah pihak hostel sangat kooperatif. Kami pun langsung meluncur ke Sentosa Island sekitar jam 9 pagi. Saya mau jujur, di perjalanan menuju USS ini ada pengalaman yang kurang mengenakkan: SAYA KETIDURAN DI MRT! Dari Stasiun Lavender kami harus transit di Stasiun Outram Park, lalu melanjutkan perjalanan ke Stasiun Harbour Front. Dari situ kami bisa naik Sentosa Express yang menuju ke USS. Sebetulnya dari Lavender ke Outram Park jaraknya nggak jauh, hanya sekitar 5 stasiun. Bodohnya, begitu dapat duduk saya yang niatnya cuma memejamkan mata sebentar nggak taunya malah ketiduran beneran. Saya sempat terbangun beberapa kali, saya tanya Nuni kita sudah sampai mana. Tapi saat kami lihat layar penunjuk stasiun, kombinasi antara linglung, setengah sadar, kepala pusing karena belum tidur semalaman, bikin kami salah baca peta. Kami baru sadar setelah melewati Stasiun Jurong East, dan itu artinya kami kelewatan 9 stasiun! Rencana semula paling lambat jam 10.30 kami mendarat di USS ambyar sudah. Kami pun turun di Stasiun Chinese Garden dan naik MRT balik. Kali ini, kami nggak mau duduk sama sekali karena takut kesalahan yang sama kembali terulang.

Peta MRT & LRT di Singapore.

Saya dan Nuni nggak berhenti ketawa sepanjang perjalanan ke USS itu. Iya, kami menertawakan kebodohan yang rauwis-uwis. Setiap kali berurusan sama MRT atau LRT, nggak di Kuala Lumpur, nggak di Singapore ada-ada aja kejadian konyol gara-gara kecerobohan kami berdua. Kami baru sampai di USS sekitar jam 12 siang, yah bisa dibilang kami rugi dua jam padahal niatnya mau maksimalin betul-betul dari jam 10 sampai jam 8 malam karena udah bayar mahal. Tapi ya mau gimana lagi?

Pengakuan saya berikutnya: sesungguhnya Dunia Fantasi masih lebih seru daripada Universal Studios Singapore. Hehehe... Saya agak kecewa sih, soalnya temen saya bener-bener promosiin USS habis-habisan. Dia bilang USS jauuuuh lebih seru daripada Dufan. In fact, iya sih dalam beberapa hal USS lebih baik dari Dufan. Konsep wahananya, ketepatan perkiraan waktu tunggu, dan wahananya juga tampak lebih baru dan sangat terawat. Tapi kalau dari variasi permainan, menurut saya Dufan masih lebih variatif. Wahana yang diperuntukkan bagi adrenaline junkie di Dufan ada Kicir-Kicir, Halilintar, Tornado, Histeria, dan Kora-kora. Kelima wahana legendaris itu rasanya udah cukup buat bikin orang mendadak ingat Tuhan. Sedangkan di USS, menurut saya wahana yang bener-bener memacu adrenalin cuma Battlestar Galactica. Ada dua jenis wahana di arena ini yang serupa tapi tak sama, yakni Human dan Cylon. Konsep dasarnya mirip seperti wahana Halilintar di Dufan, tapi memang lebih panjang track-nya dan lebih lama durasinya. Yang membedakan, wahana Human ini track-nya ada di bawah kaki kita, sedangkan wahana Cylon track-nya ada di atas kepala kita. Which means, selama naik wahana Cylon kaki kita menggantung dan bisa langsung ngeliat ke bawah. Saya yang penakut cuma berani merem sepanjang naik wahana ini sambil komat-kamit manggil Ibu. Hahaha... Itu aja sih yang paling berkesan selama di USS.

FYI, untuk menaiki wahana Battlestar Galactica ini, pengunjung nggak diperbolehkan sama sekali untuk bawa barang. Entah itu tas, dompet, kamera, handphone, barang sekecil apapun yang beresiko lepas dari badan kita, semuanya wajib dititipkan di loker. Jangan coba-coba menyelundupkan barang bawaan ya, soalnya untuk bisa masuk antrian ada petugas yang memeriksa kita dengan alat detektor logam. Tapi tenang aja, disediakan penitipan barang gratis di dekat kedua wahana itu kok. Penyewaan gratisnya hanya sekitar 100 menit pertama, selanjutnya kita harus bayar. Memang agak bete sih, soalnya rata-rata waktu tunggu di wahana ini antara 60 sampai 90 menit, jarang banget waktu tunggunya di bawah 60 menit. Jadi bersiaplah untuk quality time atau ngobrol santai dengan sesama pengunjung karena kita nggak bisa main handphone sama sekali. Hahaha...

Well, untuk sekarang sampai di sini dulu kayaknya, saya akan melanjutkan cerita perjalanan pulang lewat Malaysia di postingan berikutnya. Thank you for stopping by!
Share:

Sandang, Pangan, Liburan!

Menurut kalian, seberapa sering sih normalnya seseorang liburan? Sekali setahun? Dua kali setahun? Tiga kali? Empat kali? Setiap bulan?

Saya nggak pernah bener-bener mikirin hal ini sih. Tapi sepulangnya dari trip singkat ke Singapura akhir bulan Agustus lalu, saya baru sadar, ternyata musim liburan buat saya selalu terjadi antara bulan Februari/Maret dan Juli/Agustus setiap tahunnya. Which means, enam bulan adalah batas toleransi saya sebelum dilanda demam piknik. Hahaha...

Dimulai dari bulan Februari 2015, saya trip ke Makassar sebenernya untuk jadi pemandu dari pemenang lomba. Tapi karena itu kali pertama saya ke Makassar, ya bisa dibilang semi-liburan. Lalu bulan Agustus 2015, saya trip singkat ke Pulau Pahawang di Lampung, ikutan open trip dengan jumlah peserta sekitar 30 orang. Kebetulan waktu itu baru putus (meh) dan kata teman yang orang Padang kalau mau putus ‘sirep’-nya, Ani harus pergi keluar pulau, so I chose Lampung instead. Hahaha... Well it’s really worked, you know!

Kastil di Universal Studio Singapore
Share: