Friday, November 27, 2015

Review Buku “Magnus Chase & The Gods of Asgard #1”: Lahirnya Pahlawan Baru


Ah, I was thrilled when this book was finally released last month! Karya-karyanya Rick Riordan sudah kunikmati dari era Percy Jackson and The Olympians. Sebagai seorang guru yang mendalami Bahasa Inggris dan Sejarah, Uncle Rickbegitulah dia biasa disapamampu mengangkat kisah berbagai mitologi yang saling tumpang tindih menjadi sebuah cerita yang padu. Setelah berhasil mengguncang para fantasy junkie dengan seri Percy Jackson and The Olympians, The Kane Chronicles, serta The Heroes of Olympus, Uncle Rick kembali ‘melahirkan’ sosok pahlawan baru.

Dialah Magnus Chase; remaja 16 tahun yang hidup terkatung-katung di jalanan kota Boston semenjak kematian sang ibu dua tahun silam. Entah bagaimana ceritanya, Magnus berhasil bertahan hidup di jalanan selama itu. Padahal jalanan Boston jauh dari kata ramah untuk gelandangan, apalagi yang masih di bawah umur seperti Magnus. Patroli siswa bolos, mahasiswa mabuk, relawan komunitas, atau pecandu yang mencari mangsa lemah untuk dipalak; sebut saja, Magnus bisa mengatasi orang-orang seperti itu.

Tentu saja Magnus tak benar-benar sendirian. Ia punya Blitz dan Hearth, rekan sesama gelandangan yang bisa dibilang semacam ‘orangtua asuh’ Magnus semenjak ia hidup di jalanan. Magnus mengira hidupnya yang kelewat sial takkan bisa lebih buruk lagi. Sampai suatu hari ia terbangun dan mendapat kabar bahwa ada seseorang yang mencarinya. Dilanda kepanikan, Magnus pun melakukan sesuatu yang selama ini tidak ia lakukan atas dasar larangan ibunya: mendatangi kediaman sang paman. Ya, sebetulnya menjadi gelandangan bukanlah opsi satu-satunya yang dimiliki Magnus. Ia masih memiliki kerabat dekat yang bisa menanggung kebutuhannya. Tapi Magnus selalu terngiang-ngiang pesan sang ibu: “Apapun yang terjadi menjauhlah dari kedua pamanmu, mereka terlalu berbahaya, terutama Randolph.”

Namun Magnus toh tetap saja nekat mendatangi rumah Paman Randolph yang lebih tepat disebut griya saking besar dan megahnya. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Paman Randolph praktis mewarisi griya megah yang sudah turun temurun menjadi properti milik keluarga Chase. Griya megah itu ternyata menyimpan lebih banyak misteri dari yang Magnus sangka selama ini. Di griya megah itu pula, Magnus mendapati jalan hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Tak pantas dipilih, tak pantas mati,
seorang pahlawan yang tak sanggup diemban Valhalla.
Ke timurlah mentari bergerak, sembilan hari lagi,
dan Pedang Musim Panas membebaskan si buas dari belenggunya.

Sanggupkah Magnus mengemban takdir sesuai ramalan yang sudah digariskan kepadanya berabad-abad silam?

Beberapa orang mungkin meragukan kredibilitas Magnus untuk menjadi pahlawan baru yang orisinal seperti halnya Percy. Apalagi embel-embel nama belakang Chase yang membuat mata para penikmat cerita fantasi langsung tertuju pada Annabeth Chase, cewek cerdas putri Athena yang kebetulan juga pacar Percy. Eits, Magnus dan Annabeth mungkin saja memiliki jalan hidup yang berkelindan. Tapi satu hal yang pasti, Magnus punya momen kejumawaannya sendiri di buku ini.

Magnus dan Percy sama-sama memenuhi kriteria ‘mudah dicintai’ dengan caranya masing-masing. Aku suka bagaimana Magnus membangkitkan memori tentang mendiang ibunya. Meski sang ibu dikisahkan sudah wafat, entah bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan ibunya sejak kecil masih hidup dalam diri Magnus. Apa yang lebih seksi dari seorang cowok yang nggak malu mengungkapkan rasa sayang terhadap ibunya sendiri? ;)

No comments:

Post a Comment