Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Review Film “The Girl On The Train”: Is It Really The Next Gone Girl?

Sempat dikabarkan nggak akan tayang di Indonesia sejak diluncurkan pada bulan Oktober 2016, akhirnya penikmat film dalam negeri bisa bernapas lega karena film bergenre thriller yang diangkat dari novel bestseller karya Paula Hawkins ini masuk ke Indonesia. Kita patut berterima kasih pada jaringan CGV Blitz yang bersedia menghadirkan film yang dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Emily Blunt dan Luke Evans.

Sesaat sebelum pemutaran film The Girl On The Train.

Saya mendapat kesempatan emas untuk menikmati premiere film ini atas undangan dari Noura Books (ahey!). Tanggal 30 Desember 2016, dua hari sebelum pergantian tahun, saya bela-belain menerjang macet dari kantor saya di kawasan Lebak Bulus ke Grand Indonesia di daerah Jakarta Pusat. Biasanya kalau datang ke acara premiere film saya pasti lagi on duty jadi kurang bisa menikmati jalannya acara. Tapi kali ini saya datang sebagai undangan yang tinggal duduk manis dan menikmati film. Ah senangnyaaa… :’D
Share:

Red Queen: Anomali yang Mematikan

Ngomong-ngomong, udah lama juga saya nggak nulis di sini. Kali ini mau cerita sedikit tentang buku yang baru selesai saya baca. Satu lagi novel fantasi yang sarat nuansa Dystopian. Katanya sih, selera pembaca mulai bergeser, dan era Dystopian mungkin bakal ditinggalkan. Tapi buku yang satu ini layak diberi kesempatan. 😎

Bagi penyuka fantasi/sci-fi, setelah melewati beberapa bab pertama pasti bakal langsung ngeh bahwa buku ini gabungan The Hunger Games, Divergent, dan Avatar The Legend of Aang dikumpulkan jadi satu. Sama halnya seperti Katniss & Tris dari seri The Hunger Games & Divergent, tokoh utama Red Queen adalah seorang Alpha Female.


Masyarakat terbagi menjadi dua golongan: Kaum Merah & Kaum Perak. Kaum Merah adalah sekelompok manusia biasa—berdarah merah tentunya—yang nggak memiliki kemampuan istimewa sama sekali. Kaum Perak di lain pihak, adalah golongan berdarah Perak—benar-benar berwarna perak—yang memiliki kemampuan super: Penyembuh, Pembisik, Pengendali Logam, Pengendali Api, Pengendali Air atau Nymph, Pengendali Bayangan, Penyenandung, Lengan Perkasa, Penghijau, Telky, Teleporter, dan masih banyak lagi jenisnya.
Share:

Laki-laki Bernama Ove: Pahlawan Teraneh yang Akan Kaukenal


Dan, Ove memutuskan ia akan menjadi lelaki yang semirip mungkin dengan ayahnya. Ayah Ove bekerja di perusahaan jawatan kereta api. Ia adalah lelaki pendiam namun baik hati, ia sangat disukai oleh teman-teman kerjanya. Pernah suatu hari Ove diperbolehkan ikut ke sebuah pesta besar yang dihadiri oleh teman-teman ayahnya dari perusahaan jawatan kereta api. Ayahnya ditantang untuk ikut kompetisi panco. Ove belum pernah melihat lelaki sebesar itu duduk mengangkangi bangku. Namun, ayahnya mengalahkan mereka semua. Ketika mereka pulang malam itu, ayahnya merangkul bahu Ove dan berkata:

“Ove, hanya bajingan yang menganggap ukuran dan kekuatan adalah hal yang sama. Ingat itu.”

Dan, Ove tidak pernah melupakannya.

Ibu Ove meninggal saat ia masih kecil. Dahulu, Ove biasa duduk di bawah jendela dengan buku matematika di pangkuan, dan dia ingat, dirinya suka mendengarkan ibunya. Dia mengingatnya. Tentu saja, suara ibunya parau dan nada ganjil itu lebih sumbang dibandingkan yang disukai orang. Namun, dia ingat, dirinya tetap saja suka.

Setelah kematian sang ibu, ayahnya menjadi semakin pendiam. Seakan ibu Ove membawa pergi segelintir kata yang dimiliki ayahnya. Jadi, Ove dan ayahnya tidak pernah bicara secara berlebihan, tapi mereka saling menyukai. Mereka duduk dalam keheningan di masing-masing sisi meja dapur, dan punya cara-cara untuk terus menyibukkan diri.
Share:

Review Buku “Magnus Chase & The Gods of Asgard #1”: Lahirnya Pahlawan Baru


Ah, I was thrilled when this book was finally released last month! Karya-karyanya Rick Riordan sudah kunikmati dari era Percy Jackson and The Olympians. Sebagai seorang guru yang mendalami Bahasa Inggris dan Sejarah, Uncle Rick—begitulah dia biasa disapa—mampu mengangkat kisah berbagai mitologi yang saling tumpang tindih menjadi sebuah cerita yang padu. Setelah berhasil mengguncang para fantasy junkie dengan seri Percy Jackson and The Olympians, The Kane Chronicles, serta The Heroes of Olympus, Uncle Rick kembali ‘melahirkan’ sosok pahlawan baru.

Dialah Magnus Chase; remaja 16 tahun yang hidup terkatung-katung di jalanan kota Boston semenjak kematian sang ibu dua tahun silam. Entah bagaimana ceritanya, Magnus berhasil bertahan hidup di jalanan selama itu. Padahal jalanan Boston jauh dari kata ramah untuk gelandangan, apalagi yang masih di bawah umur seperti Magnus. Patroli siswa bolos, mahasiswa mabuk, relawan komunitas, atau pecandu yang mencari mangsa lemah untuk dipalak; sebut saja, Magnus bisa mengatasi orang-orang seperti itu.
Share:

Review Buku “Under The Blue Moon”: Memburu Jejak Bayangan dan Si Penyair



“Aku ingin bertabrakan. Aku ingin berlari menabrak Shadow dan membiarkan daya benturannya menumpahkan pikiran kami. Sehingga kami bisa saling memungut dan mengembalikan pikiran satu sama lain yang seperti tumpukan batu-batu mengilap.”

Baris di atas bisa kalian temui di bagian pembukaan, dan hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah: “Okay, this book deserves to get more attention.” Aku suka sekali dengan ide tentang ‘pikiran yang saling berbenturan’ serta ‘saling memungut dan mengembalikan pikiran satu sama lain’. Pertemuan dua pikiran yang saling berkelindan terasa jauh lebih intim ketimbang kontak fisik dalam bentuk apapun. Jadi, meski sedari awal sudah bisa ditebak bahwa novel ini sarat akan romansa, pasti ada hal tak biasa yang ingin disampaikan si penulis.

Tersebutlah seorang gadis bernama Lucy Dervish, remaja tanggung yang sedang menyusun rencana studi setelah ia lulus dari sekolah menengah. Lucy ingin menjadi seniman, beberapa tahun terakhir ia bekerja paruh waktu di studio pembuatan kaca yang dimiliki oleh Al, guru sekaligus bosnya. Tak banyak hal bagus dari sudut kota tempat Lucy tinggal, kecuali satu hal: grafiti karya seniman jalanan misterius yang bernama Shadow—bayangan. Sudah lama sekali Lucy mengagumi karya-karya Shadow yang tersebar di seluruh penjuru kota. Di tembok-tembok gedung tinggi, di tepian jalan tol, di pinggiran rel kereta, di dalam karavan tua yang nyaris menjadi rongsokan. Sebut saja tempat-tempat yang bisa terpikirkan olehmu, mungkin tempat itu sudah terjamah oleh tangan Shadow.
Share:

Review Buku “The Blood of Olympus”: Akhir Petualangan Para Pahlawan Olympus


Tujuh blasteran akan menjawab panggilan
Karena badai atau api dunia akan terjungkal
Sumpah yang ditepati hingga tarikan napas penghabisan
Dan musuh panggul senjata menuju Pintu Ajal

Larik di atas merupakan bunyi ramalan yang dirapalkan pertama kali oleh Rachel Dare sesaat setelah ia dilantik menjadi Oracle yang baru, di penghujung buku The Last Olympian dalam seri Percy Jackson and The Olympians. Pada saat itu, Annabeth dan Percy hanya menganggapnya angin lalu, dan berpikir “ah siapa tahu ramalan itu baru akan terwujud puluhan tahun mendatang, saat kita sudah meninggal.” Ternyata, anggapan mereka salah.

Nyatanya, lagi-lagi mereka ambil bagian dalam ramalan besar tersebut. Dan di sinilah mereka, berdiri tegar bersama lima blasteran lain di atas kapal Argo II. Ketujuh demigod pemegang ramalan berusaha bertahan hidup dari serangan antek-antek Gaea yang menggempur mereka dari darat, laut, dan udara. Belum lagi persoalan pelik menyangkut konflik berkepanjangan antara Perkemahan Blasteran dan Perkemahan Jupiter yang membuat dewa-dewi mengalami krisis identitas.

Para raksasa telah bangkit, menyebar di sepenjuru dunia. Mereka mengumpulkan bala tentara—dewa-dewi yang terbuang dan para monster—yang rela menghancurkan demigod. Mereka memburu darah dua demigod, demi membangkitkan Gaea, sang Ibu Bumi. Di saat genting seperti itu, mereka bahkan tidak bisa mengharapkan bantuan yang datang dari dewa-dewi. Bagaimana bisa membantu para demigod, dewa-dewi saja kesulitan setengah mati menjaga pikiran mereka tetap waras.

Share:

Review Buku "Anna Dressed in Blood": Tentang Cinta Dua Dunia



“Jangan takut gelap, Cas. Jangan percaya saat mereka mengatakan bahwa semua yang ada dalam kegelapan juga terlihat di bawah cahaya. Itu tidak benar.” (hlm. 153)

Theseus Cassio Loowod, nama yang aneh untuk seorang remaja berusia 17 tahun. Bisa dibayangkan ia akan mengalami kesulitan mendapatkan tempat di lingkungan sosialnya. Tapi apa Cas peduli? Tidak, tuh. Layaknya remaja normal, Cas pergi ke sekolah, mengendarai mobil milik ibunya, berusaha memasuki lingkaran pertemanan anak-anak gaul untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Tapi saat malam tiba, Cas menjelma menjadi sesosok pemuda tangguh bersenjatakan athame, pisau keramat yang bisa meleburkan hantu peninggalan ayahnya. Pisau itulah yang membuatnya berbeda. Ia merupakan generasi kesekian dalam keluarganya yang mewarisi anugerah sekaligus kutukan untuk memburu hantu yang mengancam manusia dan memusnahkannya. Namun, Cas juga memiliki misi pribadi: menemukan hantu yang membunuh ayahnya.

Cas hanya tinggal bersama ibunya yang seorang penyihir putih. Mereka selalu berpindah pindah, dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain. Selama bertahun-tahun Cas selalu beraksi sendirian. Hidupnya lebih banyak dikelilingi orang-orang mati. Kematian adalah dunianya. Urusan lain seperti sekolah dan teman, hanyalah selingan dalam perjalanan Cas menuju hantu berikutnya. Gaya hidup nomaden memang tidak memberikan celah baginya untuk menjalin persahabatan secara serius.

Sampai suatu ketika, sebuah legenda lokal mengubah hidupnya.
Share:

Welcoming The Finale Book from "The Heroes of Olympus" Series

Sebagai penikmat buku-buku fantasi, cerita penutup dari seri The Heroes of Olympus karya Rick Riordan jelas jadi salah satu karya yang udah aku tunggu-tunggu dari awal tahun 2014. Jarak antara buku keempat, The House of Hades, ke buku terakhir yang akan menutup kisah Percy Jackson dan 6 demigod lainnya, The Blood of Olympus, memang cukup jauh sekitar 1 tahun. Selama satu tahun pula para penggemar cerita fantasi harus bersabar, menahan diri dari gejolak rasa penasaran sekaligus sakau. Belum lagi ketika buku versi Amerika-nya terbit di bulan Oktober 2014. Gempuran spoiler datang dari mana aja, dan ujung-ujungnya penerbit yang diteror terus-terusan sama para penggemar ini (hahahahaha, oke, yang ini curcol).

Sesungguhnya, dekat dengan lingkungan penerbit buku ini nggak lantas berarti aku dapat keistimewaan bisa baca versi terjemahannya lebih awal. Ya, aku menghormati tim yang udah bekerja keras mewujudkan buku ini jadi nyata. Aku juga menghargai sesama penggemar fantasi yang sama-sama nggak sabar menantikan datangnya buku ini. Jadi aku sengaja menunda, nggak akan baca buku ini sampai teman-teman yang lain udah baca.

Tapiiiii, kalau share book trailer-nya nggak dosa dooong?

I hope this book trailer will cure the thirst. Well, please enjoy the video! :D

Share: