Review Film “The Girl On The Train”: Is It Really The Next Gone Girl?

Sempat dikabarkan nggak akan tayang di Indonesia sejak diluncurkan pada bulan Oktober 2016, akhirnya penikmat film dalam negeri bisa bernapas lega karena film bergenre thriller yang diangkat dari novel bestseller karya Paula Hawkins ini masuk ke Indonesia. Kita patut berterima kasih pada jaringan CGV Blitz yang bersedia menghadirkan film yang dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Emily Blunt dan Luke Evans.

Sesaat sebelum pemutaran film The Girl On The Train.

Saya mendapat kesempatan emas untuk menikmati premiere film ini atas undangan dari Noura Books (ahey!). Tanggal 30 Desember 2016, dua hari sebelum pergantian tahun, saya bela-belain menerjang macet dari kantor saya di kawasan Lebak Bulus ke Grand Indonesia di daerah Jakarta Pusat. Biasanya kalau datang ke acara premiere film saya pasti lagi on duty jadi kurang bisa menikmati jalannya acara. Tapi kali ini saya datang sebagai undangan yang tinggal duduk manis dan menikmati film. Ah senangnyaaa… :’D
Share:

Mengenal Profesi Digital Marketing


Beberapa waktu yang lalu, Ruang Pegawai menghubungi saya melalui Linkedin dan meminta kesediaan saya untuk diwawancarai terkait profesi Digital Marketing. Mulanya saya ragu karena merasa masih awam tentang profesi yang baru saya tekuni kurang dari satu tahun ini. Tapi akhirnya saya pun menyanggupi. Hehehe... Pemaparan saya pastinya masih jauh dari ruang lingkup Digital Marketing yang sesungguhnya, tapi mudah-mudahan bisa sedikit memberi pencerahan bagi teman-teman yang ingin menggeluti profesi ini. Selamat membaca! :D
Share:

Ullen Sentalu: Pelita dalam Gulita

Akhir bulan Maret kemarin saya dan tiga orang teman lainnya berkesempatan dolan ke Yogyakarta selama tiga hari dua malam. Sebetulnya, ini kali kedua saya ke sana, tapi karena dulu saya berkunjung ke Jogja saat masih kecil dan nggak banyak kenangan yang saya ingat, rasanya seperti baru pertama kali. Saya nggak akan cerita keseluruhan perjalanan secara runut karena bisa makan waktu berhari-hari, hehehe, tapi ada satu bagian, porsi kecil dari perjalanan kami yang ingin saya bagi. Dari penginapan kami yang terletak di pusat kota Yogyakarta, kami sempatkan jauh-jauh ke Kaliurang untuk berkunjung ke museum yang diresmikan tahun 1997 ini.

Tanah lapang di depan pintu masuk museum.
Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit (blencong) yang merupakan cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini didirikan oleh salah seorang bangsawan Yogyakarta yang dikenal sangat dekat dengan keluarga keraton Surakarta dan Yogyakarta. (Wikipedia)
Share:

Red Queen: Anomali yang Mematikan

Ngomong-ngomong, udah lama juga saya nggak nulis di sini. Kali ini mau cerita sedikit tentang buku yang baru selesai saya baca. Satu lagi novel fantasi yang sarat nuansa Dystopian. Katanya sih, selera pembaca mulai bergeser, dan era Dystopian mungkin bakal ditinggalkan. Tapi buku yang satu ini layak diberi kesempatan. 😎

Bagi penyuka fantasi/sci-fi, setelah melewati beberapa bab pertama pasti bakal langsung ngeh bahwa buku ini gabungan The Hunger Games, Divergent, dan Avatar The Legend of Aang dikumpulkan jadi satu. Sama halnya seperti Katniss & Tris dari seri The Hunger Games & Divergent, tokoh utama Red Queen adalah seorang Alpha Female.


Masyarakat terbagi menjadi dua golongan: Kaum Merah & Kaum Perak. Kaum Merah adalah sekelompok manusia biasa—berdarah merah tentunya—yang nggak memiliki kemampuan istimewa sama sekali. Kaum Perak di lain pihak, adalah golongan berdarah Perak—benar-benar berwarna perak—yang memiliki kemampuan super: Penyembuh, Pembisik, Pengendali Logam, Pengendali Api, Pengendali Air atau Nymph, Pengendali Bayangan, Penyenandung, Lengan Perkasa, Penghijau, Telky, Teleporter, dan masih banyak lagi jenisnya.
Share:

Laki-laki Bernama Ove: Pahlawan Teraneh yang Akan Kaukenal


Dan, Ove memutuskan ia akan menjadi lelaki yang semirip mungkin dengan ayahnya. Ayah Ove bekerja di perusahaan jawatan kereta api. Ia adalah lelaki pendiam namun baik hati, ia sangat disukai oleh teman-teman kerjanya. Pernah suatu hari Ove diperbolehkan ikut ke sebuah pesta besar yang dihadiri oleh teman-teman ayahnya dari perusahaan jawatan kereta api. Ayahnya ditantang untuk ikut kompetisi panco. Ove belum pernah melihat lelaki sebesar itu duduk mengangkangi bangku. Namun, ayahnya mengalahkan mereka semua. Ketika mereka pulang malam itu, ayahnya merangkul bahu Ove dan berkata:

“Ove, hanya bajingan yang menganggap ukuran dan kekuatan adalah hal yang sama. Ingat itu.”

Dan, Ove tidak pernah melupakannya.

Ibu Ove meninggal saat ia masih kecil. Dahulu, Ove biasa duduk di bawah jendela dengan buku matematika di pangkuan, dan dia ingat, dirinya suka mendengarkan ibunya. Dia mengingatnya. Tentu saja, suara ibunya parau dan nada ganjil itu lebih sumbang dibandingkan yang disukai orang. Namun, dia ingat, dirinya tetap saja suka.

Setelah kematian sang ibu, ayahnya menjadi semakin pendiam. Seakan ibu Ove membawa pergi segelintir kata yang dimiliki ayahnya. Jadi, Ove dan ayahnya tidak pernah bicara secara berlebihan, tapi mereka saling menyukai. Mereka duduk dalam keheningan di masing-masing sisi meja dapur, dan punya cara-cara untuk terus menyibukkan diri.
Share:

Review Buku “Magnus Chase & The Gods of Asgard #1”: Lahirnya Pahlawan Baru


Ah, I was thrilled when this book was finally released last month! Karya-karyanya Rick Riordan sudah kunikmati dari era Percy Jackson and The Olympians. Sebagai seorang guru yang mendalami Bahasa Inggris dan Sejarah, Uncle Rick—begitulah dia biasa disapa—mampu mengangkat kisah berbagai mitologi yang saling tumpang tindih menjadi sebuah cerita yang padu. Setelah berhasil mengguncang para fantasy junkie dengan seri Percy Jackson and The Olympians, The Kane Chronicles, serta The Heroes of Olympus, Uncle Rick kembali ‘melahirkan’ sosok pahlawan baru.

Dialah Magnus Chase; remaja 16 tahun yang hidup terkatung-katung di jalanan kota Boston semenjak kematian sang ibu dua tahun silam. Entah bagaimana ceritanya, Magnus berhasil bertahan hidup di jalanan selama itu. Padahal jalanan Boston jauh dari kata ramah untuk gelandangan, apalagi yang masih di bawah umur seperti Magnus. Patroli siswa bolos, mahasiswa mabuk, relawan komunitas, atau pecandu yang mencari mangsa lemah untuk dipalak; sebut saja, Magnus bisa mengatasi orang-orang seperti itu.
Share: