Setelah kurang lebih empat bulan jadi anggota
Postcrossing, terus terang aja
achievement saya terbilang lambat. Statistik kartu pos yang saya kirim baru 9, sedangkan yang saya terima udah 11. Itu pun harus beberapa kali menelan kekecewaan lantaran kartu pos yang saya kirim ada dua buah yang
expired. Seperti yang udah pernah saya jelaskan di postingan sebelumnya, di
Postcrossing itu setiap kartu pos yang kita terima harus di-
register supaya si pengirim bisa dapat kiriman kartu pos balik. Kalau dalam kurun waktu 60 hari si kartu pos nggak di-
register, ya udah katakan selamat tinggal pada kiriman kartu pos baliknya. Huhuuu... Saya pun nggak tau kenapa bisa kadaluarsa. Mungkin nggak sampai? Atau udah sampai tapi lupa di-
register? Apapun alasannya, yang jelas saya sih nggak kapok untuk tetap berkirim kartu pos ke luar negeri meski selalu ada kemungkinan pahit kayak gitu. Hihihi...
Nah, jadi ceritanya saya mulai kehabisan stok kartu pos yang saya beli lewat Shopee. Saya lihat-lihat lagi kan, pengen nyari desain kartu pos yang lucu-lucu, tapi kok ya nggak ada yang sreg di hati. Lalu saya kepikiran, apa saya cetak sendiri aja? Saya punya cukup banyak stok foto
landscape atau foto artistik yang lumayan oke laah untuk dicetak jadi kartu pos. Saya pun mulai menyortir foto mana yang akan saya cetak, lalu menghubungi tempat digital printing langganan saya di Depok. Saya tanyakan berapa estimasi biaya cetaknya, lalu setelah dihitung-hitung ternyata jauh lebih murah ketimbang kalau saya beli kartu pos yang udah jadi! Mulai tergoda nggak nih teman-teman yang punya hobi kirim kartu pos juga kayak saya? Ehehehe... 😝
Sebenernya kalau kalian punya stok foto yang bagus atau ilustrasi dengan resolusi tinggi, gampang banget kok bikin kartu pos sendiri. Gimana caranya? Simak langkah-langkah di bawah ini ya! 😉
Dengan menggunakan
software photo editing,
crop foto atau ilustrasi kalian sesuai ukuran kartu pos. Ukuran yang dianjurkan
10,5 x 14,8 cm (setara A6) atau
2480 x 1752 pixels dengan resolusi
300 dpi. Kalau saya sih pakai
Photoscape aja cukup, tapi kalau punya
Photoshop ya monggo lebih baik. Atau kalau mau
editing di
handphone juga bisa pakai
Snapseed yang gratisan tapi nggak mengurangi resolusi gambar jadi ukuran
file tetap asli.
 |
| Format ukuran kartu pos |
Langkah selanjutnya adalah membuat
template halaman belakang kartu pos versi
landscape dan
portrait.
Kalau nggak mau ribet bisa sih dibuat seragam semuanya
landscape meskipun foto depannya
portrait, tapi lebih baik lagi kalau disesuaikan. Nah berikut ini ada
template halaman belakang kartu pos yang bisa teman-teman pakai. Biasanya sih, kalau kita mencetak di tempat
digital printing sudah termasuk jasa
layout juga. Karena mereka yang akan menentukan kertas ukuran apa yang akan digunakan, apakah A4, A3, A2, dst. Hitung-hitungan seperti ini ya berkaitan dengan efisiensi biaya cetak juga. Jadi kita bisa serahkan urusan layout ini ke pihak digital printing. Yang paling penting sih komunikasikan aja gimana maunya kita supaya mereka nggak salah tangkap.
 |
| Template halaman belakang kartu pos orientasi landscape |
 |
| Template halaman belakang kartu pos orientasi portrait |
Nah, kalau semuanya udah
fix, tinggal mendatangi
digital printing terdekat di lokasi kalian. Oiya jangan lupa jelaskan juga pilihan kertasnya ya. Kalau saya sih mencetaknya di
art carton, tapi saya lupa menanyakan berapa ukuran gsm-nya. Hasil yang saya dapatkan lumayan tebal sih, tapi saya maunya lebih tebal lagi dari ini, mungkin nanti di
batch selanjutnya. Selain itu juga, kalau mau hasil cetaknya lebih bagus teman-teman bisa minta laminasi satu sisi bagian depannya aja. Ada jenis laminasi
doff yang nggak terlalu mengkilap (cenderung
matte), ada juga jenis laminasi
glossy yang mengkilap. Halaman belakang nggak perlu dilaminasi ya, apalagi laminasi glossy, nanti yang ada kalian susah menuliskan alamat dan isi pesannya. Hehehe....
Berapa biaya cetaknya? Nah kalau ini sih balik lagi ke pilihan tempat
digital printing yang teman-teman datangi. Kalau
digital printing yang saya datangi total biayanya sekitar Rp50.000,- dan mendapatkan 24 lembar kartu pos. Artinya satu kartu pos yang saya cetak cuma mengeluarkan biaya Rp2.000,- aja! Horeeee! Segini saya cetak satuan lho, setiap gambar cuma ada satu lembar aja, karena nggak dicetak massal jadi benar-benar eksklusif. 😝
Nah, ini dia hasilnya sebagian kartu pos saya yang baru diambil dari percetakan tadi pagi. Hasilnya lumayan bagus sih, walaupun ada beberapa foto yang agak muncul
noise. Tapi nggak terlalu keliatan kok. Kayaknya kalau nanti stok kartu pos saya kembali menipis, lebih baik saya cetak sendiri lagi deh. Hihihi.... Adakah yang mau
postcard swap dengan saya? 😉
 |
| Hasil cetak kartu pos di digital printing |
Karena menunggu kuota kartu pos yang boleh dikirim dari
Postcrossing ini agak lama ya, akhirnya saya membuka galeri
Postcard for Swap yang terbuka buat siapa aja. Nggak mesti dari luar negeri, saya juga bersedia tukeran kartu pos dengan teman-teman dari Indonesia. Ditunggu ajakannya ya! Happy
Postcrossing! 😉