Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

Daftar Belanja untuk Persiapan Melahirkan dan Menyusui

Sumber ilustrasi: Freepik

Menjelang akhir trimester kedua, saya mulai pusing memikirkan perintilan kebutuhan saya sebagai calon ibu sekaligus si jabang bayi. Jujur aja sampai dengan minggu ke-27 ini saya belum beli baju atau celana baru sesuai dengan ukuran tubuh saya (yang semakin membulat 😂), bahkan bantal hamil pun engga. Semua baju dan celana yang saya pakai masih baju dari zaman gadis, walaupun memang sih pilihan saya makin sedikit jadi bajunya pun itu lagi itu lagi. Sedangkan bantal hamil masih bisa saya siasati dengan menaruh bantal dan guling menempel ke tembok, jadi saya tidur menghadap ke kiri sementara punggung saya ditopang bantal dan guling tersebut. Suami saya paksa untuk tidur di tengah-tengah dalam keadaan telentang jadi saya bisa tidur sambil peluk lengannya. 🙈😂 Saya nggak tau sampai kapan keadaan ini bisa dipertahankan, tapi yang jelas saya masih nyaman tidur dengan posisi begini. Cuma memang kasihan sih suami saya sering jadi korban karena saya tidurnya makin nggak bisa diam. 😂

Nah, berhubung saya orangnya detail banget kalau mempersiapkan segala sesuatu, saya nggak tahan kalau nggak bikin shopping list versi sendiri. Sebetulnya bagi saya ini sangat membantu untuk mengetahui berapa perkiraan biaya yang harus saya siapkan sekaligus mempermudah pengajuan proposal ke suami. 😂 Biasanya saya sudah melengkapi daftar belanja ini dengan merk dan jenis barang seperti apa yang saya inginkan, bahkan kadang-kadang sama nama tokonya juga jadi nggak perlu pusing nyari-nyari lagi. Well, saya yakin saya nggak sendirian menghadapi momen seperti ini, jadi saya mau berbagi dengan para calon ibu di luar sana. Berikut ini adalah daftar belanja untuk persiapan melahirkan dan menyusui berdasarkan pengelompokkan jenis barang. 😁


Perlengkapan Ibu
  1. Dress/kemeja/blus busui
  2. Kalau dulu pilihan baju yang busui friendly mungkin hanya sebatas akses kancing atau resleting depan, sekarang pilihannya makin beragam dan makin memudahkan proses menyusui. Banyak model baju khusus busui yang akses menyusuinya bener-bener langsung ke payudara. Jadi tanpa pakai apron menyusui pun para ibu bisa bebas menyusui di mana aja tanpa khawatir payudaranya akan terekspos. Salah satu online shop yang menjual baju-baju seperti ini adalah @iymelsayshijab yang udah sejak lamaaaa banget saya incer. Tapi harus siap-siap rebutan ya soalnya mereka terkenal dengan sistem jualan langsung ludes dalam waktu kurang dari semenit. 😂
  3. Daster/piyama busui
  4. Kalau tadi baju khusus untuk bepergian, yang ini baju khusus untuk di rumah. Karena lebih santai, baju apapun asal ada kancing atau resleting depan sah-sah aja kok.
  5. Bra menyusui
  6. Sebenarnya wajib nggak wajib sih, ada ibu-ibu yang cenderung lebih nyaman menyusui dengan menurunkan bra ketimbang pakai sistem buka tutup. Kalau saya mikirnya sayang aja, daripada merusak bra karena busanya ditekuk-tekuk terus, mendingan saya beli bra khusus menyusui.
  7. Apron menyusui
  8. Ini juga opsional. Kalau merasa cukup dengan baju menyusui ya silakan. Tapi kalau saya pribadi, daripada baju-baju sebelum hamil nantinya banyak yang nggak terpakai, kayaknya lebih baik punya apron juga. Bisa juga dipakai kalau lagi di rumah dan ada saudara laki-laki, daripada malu dan risih kan mending pakai apron. Hehehe....
  9. Bengkung/stagen/korset
  10. Ini wajib banget kalau pengen bentuk tubuh kembali kayak pas masih gadis. 😂 Ada banyak macam bahan dan model, sesuaikan aja sama yang paling nyaman ya. Karena kalau mau benar-benar ngefek harus dipakai terus menerus lho. 😅
  11. Pembalut nifas
  12. Beda yah sama pembalut biasa, ukurannya rata-rata 40-45 cm. Saya juga nggak tau darah nifas itu biasanya sebanyak apa. Jadi yaa, ikutin aja deh. 😅
  13. Gendongan bayi
  14. Saya sebetulnya punya banyak kain jarik yang dikasih sama Mama mertua waktu baru nikah, tapi gimana yaa, saya nggak bisa pakainya. 😂 Syukur alhamdulillah sekarang gendongan bayi ada berbagai macam pilihan untuk memudahkan ibu baru. Sampai sekarang saya belum tau mau beli yang mana, jadi bisa survey sendiri ya.
  15. Diaper bag/cooler bag
  16. Ada banyak pilihan model diaper bag, sejauh yang saya tau ada model backpack, sling bag, dan tote bag. Kalau dari review yang saya baca, model diaper bag yang paling banyak dicari adalah backpack. Mungkin pertimbangannya karena model ini memungkinkan tangan kita bebas dua-duanya, jadi walaupun sambil dorong stroller atau gendong bayi, kita nggak kerepotan membawa tas lagi. Selain itu juga, model backpack dengan warna-warna netral seperti hitam, cokelat, atau abu-abu banyak disukai karena para ayah nggak tengsin kalau harus bantu bawain tas seperti itu. 😜 Saya sendiri naksir sama GabaG Backpack Series yang Bima atau Ramada, keduanya memiliki kotak penyimpanan ASIP di bagian bawah dan bisa dibongkar pasang. Selain GabaG masih banyak merk lain dari yang harganya kisaran ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Silakan pilih sesuai selera dan kemampuan yaa... 😜
    Sumber: Official Instagram GabaG Indonesia
  17. Gym ball
  18. Yang satu ini juga opsional, tapi dari yang saya baca di Instagram @bidankita, jika berencana melahirkan pervaginam disarankan mulai latihan pakai gym ball sejak usia kandungan 32 minggu. Gym ball ini fungsinya banyaaak banget, nggak cuma sekadar latihan atau menurunkan kepala bayi ke dalam panggul, tapi juga bisa membantu mengurangi rasa sakit saat proses kontraksi.
Sumber ilustrasi: Amazing Dreamz
    Perlengkapan Menyusui
    1. Pompa ASI (manual/elektrik)
    2. Entah akan menjadi working mom atau stay at home mom, rasa-rasanya pompa ASI ini perlu banget terutama untuk meningkatkan dan menjaga produksi ASI. Berdasarkan pengalaman teman-teman saya, pompa ASI itu cocok-cocokan. Yang merknya terkenal dan harganya mahal belum tentu cocok di kita. Contohnya teman saya awalnya beli pompa ASI elektrik merk Avent seharga 1,5 juta tapi ternyata buat dia nggak enak. Sedotannya kurang kencang jadi payudara nggak sampai benar-benar kosong. Akhirnya dia beli pompa ASI manual merk Medela seharga 450 ribu dan ternyata cocok sampai sekarang. Dari situ saya mikir kayaknya mending saya beli pompa ASI manual dulu. Syukur-syukur kalau langsung cocok jadi nggak perlu coba-coba lagi yang lain. Daripada udah terlanjur beli pompa ASI elektrik yang harganya jutaan tapi ternyata nggak cocok kan pedih. 😂
      Kiri: pompa ASI elektrik, kanan: pompa ASI manual.
    3. Botol/kantung ASIP
    4. Delapan tahun lalu saya lihat teman kantor saya kalau habis memompa bawaannya berat banget karena berbotol-botol. Tapi sekarang saya lihat lebih banyak yang pakai kantung ASIP karena lebih praktis dan nggak makan tempat. Memang sih kalau botol bisa dicuci lalu dipakai lagi jadi lebih ramah lingkungan. Tapi semuanya balik lagi ke pilihan masing-masing ya...
    5. Sikat/spons botol bayi
    6. Walaupun di rumah udah ada sikat atau spons pembersih botol, baiknya sih tetep beli lagi yang khusus untuk botol bayi supaya nggak tercampur sama spons lain yang mungkin udah kena macam-macam sisa makanan. Eeewww....
    7. Breast pad
    8. Ketika produksi ASI udah makin banyak, biasanya sering terjadi kebocoran yang nggak diinginkan. Jadi buat jaga-jaga sebaiknya kita nyiapin breast pad.
    9. Nipple cream
    10. Yang ini opsional sih, soalnya saya tanya ke teman yang udah pengalaman sebetulnya air liur bayi sendiri bisa menyembuhkan luka di puting susu yang lecet. Tapi kalau tetap mau beli pun nggak apa-apa, pastikan cek dulu kandungannya aman ya.
    11. Booster ASI
    12. Ini juga opsional, siapa sih yang nggak mau ASI-nya mengucur deras kayak air mancur? Tapi yang namanya menyusui kan kita nggak tau nanti ke depannya gimana. Jadi ada baiknya jaga-jaga nyetok booster ASI sebelum melahirkan supaya kalau produksi ASI kita dirasa masih kurang bisa langsung disikat. 😅
    13. Sterilizer/panci khusus
    14. Entah mau menyusui langsung atau pakai alat (dot/cup feeder), perintilan pompa ASI kan tetap harus dicuci dan dibersihkan ya. Kalau punya uang lebih bisa beli sterilizer khusus (yang harganya lumayan mahal 😂), atau bisa juga pakai cara lama dengan merebusnya. Saya belum tau bakal butuh alat ini atau engga, tapi panci bisa digunakan untuk memasak air mandi juga. Ya kecuali di rumahnya udah ada pemanas air otomatis itu sih lain cerita. 😅
    Perlengkapan Pakaian Bayi
    Akhirnya masuk juga ke part keperluan bayi. 😅 Untuk perlengkapan pakaian bayi kayaknya cukup jelas yaa, jadi nggak perlu dijelasin satu per satu. Saran dari teman-teman di sekeliling saya, jangan banyak-banyak beli baju bayi, soalnya nanti pasti banyak yang ngasih kado, belum lagi anak bayi juga tumbuh dengan cepat. Sering kejadian ada baju yang bahkan belum sempat dipakai tapi udah keburu nggak muat, kan sayang. 💆
    1. Popok bayi (popok sekali pakai/cloth diaper)
    2. Balik lagi ke pilihan pribadi sih, ada yang lebih suka pospak demi kepraktisan dan menjaga kewarasan, ada juga yang idealis nggak mau menambah polusi terhadap lingkungan karena konon sampah pospak itu baru bisa terurai setelah ratusan tahun. 😰 Jujur masih bingung mau yang mana, tapi kayaknya saya mau coba dua-duanya. Bismillah semoga bisa istiqomah pakai clodi.
      Sumber foto: Firstcry.com
    3. Kaus kaki
    4. Sarung tangan
    5. Kain bedong
    6. Selimut bayi
    7. Sapu tangan dan bib
    8. Baju tangan panjang
    9. Baju tangan pendek
    10. Celana panjang
    11. Celana pendek
    12. Jumper panjang
    13. Jumper pendek
    Perawatan Bayi
    1. Baby oil
    2. Baby lotion
    3. Baby cologne
    4. Baby cream
    5. Minyak telon
    6. Thermometer
    7. Penting banget buat memantau suhu tubuh bayi. Soalnya kalau tanpa thermometer kita cuma bisa mengira-ngira berapa suhu badan bayi ketika mereka demam. Supaya kita tau jaga kapan mesti khawatir dan membawa bayi ke dokter.
    8. Sisir/sikat rambut
    9. Gunting kuku bayi
    10. Pembersih gigi/mulut
    11. Bukan sikat gigi ya, tapi pilih yang modelnya bisa dimasukkan ke jari ibu dan bahannya lembut, jadi cukup kita sikat halus bagian lidah bayi.
    12. Penyedot ingus
    13. Tisu basah dan kering
    14. Cotton buds
    15. Sebetulnya menurut dokter membersihkan bagian dalam telinga bayi itu berbahaya, jadi mungkin cotton buds hanya digunakan untuk membersihkan bagian luar telinga bayi dan juga lubang hidung bayi.

    Perlengkapan Mandi
    1. Bak mandi
    2. Dari yang pernah saya baca, sebaiknya pilih bak mandi yang bentuknya standar dan umum aja supaya jangka waktu pakainya lama.
    3. Jaring mandi
    4. Jujur saya baru tau ada yang namanya jaring mandi. 😂 Awalnya saya kira ini nggak penting-penting amat. Tapi saya pernah baca bahwa jaring mandi membantu banget untuk meningkatkan kepedean orangtua dalam memandikan bayi baru lahir. Selain fungsi utamanya tentu untuk menjaga bayi nggak sampai tenggelam. Berhubung saya orangnya parnoan, jadi sebaiknya saya punya jaring mandi walaupun mungkin cuma terpakai sebentar, toh harganya pun nggak terlalu mahal.
    5. Sampo bayi
    6. Sabun bayi
    7. Perlak/alas ompol bayi
    8. Handuk bayi
    9. Washlap
    Perlengkapan Tambahan
    1. Bantal dan guling
    2. Ranjang/boks bayi
    3. Yang satu ini opsional sih, karena banyaaak banget saya baca pengalaman orang bahwa akhirnya boks bayi ini nggak terpakai karena ibu lebih memilih bayi tidur bersama di ranjang orangtua. Saya sendiri memilih untuk nggak beli, karena alasan keterbatasan tempat dan juga upaya mencegah pemborosan. 😂 Daripada nantinya udah beli mahal-mahal tapi nggak terpakai? Mungkin lebih baik langsung aja saya beliin ranjang besar untuk anak-anak saat usianya udah cukup besar untuk tidur sendiri. Biar saya pikirkan lagi nanti deh. 😅
    4. Pelindung matras
    5. Walaupun bayi udah tidur di atas alas ompol, tapi nggak menutup kemungkinan lho mereka guling-guling ke sana sini kalau makin besar nanti. Untuk yang satu ini sih permintaan khusus dari suami saya karena dia nggak mau banget kalau kasur kami sampai rusak karena keseringan kena ompol. 😂
    6. Laci pakaian
    7. Satu yang sering terlupa, setelah beli perlengkapan bayi yang segitu banyaknya, apakah kita udah menyediakan tempat penyimpanan yang layak di rumah? Kecuali memang ada space kosong untuk menyimpan barang-barang bayi ya. Tapi kalau belum ada, sebaiknya kita juga nggak lupa beli lemari khusus, daripada baju-baju bayi berceceran di keranjang cucian kan malah berantakan.
    8. Stroller
    9. Ini pun opsional. Sampai sekarang saya masih belum ngerasa perlu beli stroller, tapi suami saya ngebeeeet banget pengen punya. Hadeeeh... 💆 Saya khawatirnya nanti udah beli stroller eh ternyata anaknya nggak betah, lah repot. Jadi mungkin solusinya bisa coba menyewa stroller dulu untuk test drive, apakah memang kita butuh dan anak kita juga mau, atau cuma sekadar kepinginnya orangtua aja. 😂
    10. Vacuum cleaner
    11. Kalau udah punya sih bagus, tapi saya masukkan di sini karena saya belum punya. 😂 Sebenernya bisa dibilang saya kena racun gara-gara follow Instagram @buy.asikubanyak. 🙈😂 Mereka jualan produk Kurumi UV Vacuum yang juga dipakai sendiri oleh adminnya. UV Vacuum ini bentuknya relatif kecil dan juga portabel, bisa digunakan untuk menyedot debu dan tungau yang ada di kasur, sprei, bantal, guling, gorden, boneka, dsb. Kasur yang kita lihat bersih setelah disedot oleh Kurumi ternyata tungaunya banyaaaak banget. Tungau ini yang sering jadi penyebab anak bayi mengalami alergi dan gatal-gatal. Harganya sekitar 865 ribu rupiah, cukup terjangkau jika dibandingkan harus memanggil jasa penyedot debu dan tungau yang sekali panggil bisa kena biaya 400-500 ribu. Jadi yaa, anggap aja saya juga lagi menebar racun di sini. 😜🙈😂

    Well, mungkin segitu dulu ya daftar barang-barang yang dibutuhkan untuk persiapan melahirkan dan menyusui. Mungkin terlalu banyak? Atau mungkin ada juga yang beranggapan terlalu sedikit? Semua kembali lagi ke kebutuhan dan pilihan masing-masing. Tulisan ini masih mungkin saya perbarui seiring pengalaman saya ke depannya, soalnya sekarang yang saya lakukan baru membuat daftar, belum mulai belanja. Hehehehe.... 🙈

    Semoga bermanfaat!
    Share:

    Cerita Kehamilan: Pilih Obgyn atau Bidan?

    Sumber ilustrasi: Freepik
     
    Akhirnya saya kembali lagi setelah absen menulis blog selama hampir sebulan. Hehehe... Maaf ya... Memasuki minggu ke-10, saya baru mendapatkan lagi kekuatan dan juga mood untuk nulis. Alhamdulillah rasa mual, muntah, dan pusing udah jauh berkurang. Cuma rasa kantuknya ini yang nggak tertahankan. Kadang di kantor saya bisa ketiduran begitu aja meski lagi duduk di depan laptop. Dan kalau malam jangan ditanya deh, jam 8 atau jam 9 aja mata udah mulai sayu.

    Saya mau cerita sedikit, ketika saya dan suami mengetahui kalau saya sedang hamil, kami memutuskan untuk pergi ke obgyn yang praktik di rumah sakit besar di daerah Depok. Ketika tiba saatnya kontrol di minggu ke-8, kami memutuskan untuk coba-coba periksa ke bidan aja. Alasannya sederhana, keuangan kami lagi super ketat lantaran baru melunasi DP rumah. Jadi opsi melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit besar kayaknya kami kesampingkan dulu.

    Dari hasil googling sana sini, kami menemukan Bidan Jenda yang lokasinya di Jalan Raya Lenteng Agung, nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami saat itu. Kami berangkat ke sana jam 8 pagi hari Selasa. Saya sempat ketar-ketir takut antriannya udah mengular, tapi ternyata begitu sampai di sana antriannya sepi banget. Kami disambut oleh mbak-mbak berdaster yang sedang menyapu halaman dan ia mempersilakan kami masuk. Setelah menunggu sebentar, ternyata mbak-mbak berdaster tadi adalah bidannya. Ya ampun... 😂

    Meski sempat agak underestimate, tapi setelah mengobrol sebentar saya justru merasa nyaman berkonsultasi sama sang bidan. Dia bisa menebak kalau saya pasti sering ngantuk, padahal saya nggak bilang. Katanya kalau ibu hamil ngantuk, berarti kekurangan darah. Dia bisa tau karena saya bilang dari dokter sebelumnya hanya dikasih asam folat dan obat penguat kandungan yang harganya muahal ampun-ampunan. Sedangkan janin di dalam tubuh pastinya menyerap darah cukup banyak dari sang ibu, hal itulah yang menyebabkan ibu hamil sering mengantuk.

    Karena saya juga ada keluhan mual dan muntah cukup parah beberapa hari sebelum kontrol yang menyebabkan berat badan saya turun 3 kilo hanya dalam waktu 3 hari, ia meresepkan obat mual dan obat pusing yang hanya diminum kalau saya mengalami keluhan itu. Kalau enggak, cukup asam folat dan vitamin penambah darah aja yang saya konsumsi setiap hari. Berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk konsultasi sekaligus obat-obatan dan vitamin? Cuma Rp 130,000,- saja! 😂 Bayangkan sebelumnya waktu saya memeriksakan kehamilan di rumah sakit, untuk menebus obat dan vitamin yang cuma dua jenis aja kami harus merogoh kocek Rp 750.000,- :') Jumlah itu belum termasuk biaya konsultasi dokter dan juga USG, total biaya yang kami keluarkan mencapai 1,2 juta rupiah. *elus dada*

    Kok nggak USG sekalian? Soalnya jadwal USG di Bidan Jenda ternyata hanya ada setiap hari Rabu pukul 17.00-19.00 WIB saja. Dokter yang praktik di sana ternyata juga praktik di RS Bunda Margonda. Jadi si alat USG-nya itu dibawa-bawa sama dokternya, makanya kenapa hanya tersedia seminggu sekali. Saya pun disarankan untuk daftar terlebih dahulu via telepon untuk mendapat nomor antrian. Baiklah, jadi hari Rabu berikutnya, kami datang ke Bidan Jenda sepulang dari kantor dan udah mengantongi nomor urut 10, padahal saya daftar jam setengah 11 pagi lho.

    Begitu sampai di sana, keadaannya lumayan hectic, rata-rata ibu hamil yang datang didampingi oleh suaminya, ada juga yang ditemani ibunya atau anaknya. Cukup lama kami menunggu, rupanya sang dokter kena macet. Setelah diukur tensi dan berat badan, kami diminta menunggu dan baru dipanggil satu per satu ke dalam ruangan USG. Dokternya kayak kelelahan dan kurang fokus sama pasien, saya nggak merasakan disambut oleh beliau, beda banget dengan waktu konsultasi sama bidan. Mungkin karena faktor banyaknya pasien juga, jadi semuanya berpacu dengan waktu. Usai diperiksa lewat USG dan hasilnya dinyatakan baik, kami diminta keluar lagi untuk menunggu. Kemudian kami dipanggil lagi ke dalam ruangan konsultasi dengan dokter yang berbeda. Yang menurut saya lagi-lagi kurang dekat dengan pasien karena malah sibuk jualan susu ibu hamil. 💆 Memang sih biaya yang dikeluarkan sangat murah, cuma Rp 150.000,- kami mendapat print out USG 2 dimensi. Sedangkan biaya USG di rumah sakit besar setidaknya Rp 250.000,-.

    Pulang dari bidan, saya dan suami kembali berdiskusi, gimana sebaiknya langkah yang kami ambil untuk kontrol di minggu ke-12 nanti? Apakah akan kembali kontrol di rumah sakit besar atau mau coba di bidan lagi? Terutama karena awal bulan November kami pindah rumah, menempati rumah baru di daerah Bojonggede. Terlalu jauh kalau kami harus kontrol ke Depok, tapi rumah sakit di daerah Cibinong - Bojonggede - Citayam pun belum ada yang cukup meyakinkan.

    Suatu hari saya nggak sengaja baca status teman kuliah saya tentang gentle birth. Saya memang nggak asing sih dengan istilah ini. Bahkan jauh sebelum saya menikah, saya pernah menulis sebuah artikel tentang gentle birth di CiriCara berdasarkan kisah pengalaman melahirkan Dee Lestari yang menurut saya sangat indah. Tapi waktu itu saya cuma bisa berandai-andai, karena yang saya tahu, melahirkan dengan metode water birth (yang merupakan salah satu dari metode gentle birth), biayanya jauh lebih mahal ketimbang melahirkan dengan cara-cara biasa. Teman saya malah pernah bilang, "Udah lo gak usah ikut-ikutan artis ah, lahiran di air segala itu mah cuma buat orang kaya." Huffft, baiklah, saya pun nggak pernah terpikirkan hal itu lagi, sampai akhirnya saya sendiri yang hamil.

    Terus terang, sampai di usia kehamilan 10 minggu saya masih clueless tentang apa yang saya inginkan atau saya harus persiapkan. Memang sih saya cukup banyak mengumpulkan informasi dari internet, website kesehatan, sampai akun-akun berbasis parenting dan motherhood yang saya ikuti di Instagram. Tapi tetep aja bagi saya ini semua masih menjadi konsep yang abstrak. Saya belum punya daftar keinginan, daftar persiapan, dan sebagainya yang cukup konkrit. Sebenernya maunya saya apa sih?

    Well, yang jelas satu hal yang saya yakini, entah kenapa saya lebih sreg untuk lahiran di bidan ketimbang di rumah sakit besar. Mungkin ini cuma pendapat saya pribadi, tapi dari cerita-cerita teman saya maupun dari sumber-sumber lain, saya mengambil kesimpulan bahwa melahirkan di rumah sakit besar entah kenapa kok cenderung lebih mudah mengambil keputusan jalan operasi ketimbang melahirkan normal. Itu yang saya takuti. Saya takut kelak dokternya nggak sabaran menanti pembukaan lengkap dengan berbagai alasan hingga akhirnya menyuruh operasi. Saya takut dalam kondisi panik, bingung, dan kesakitan, akhirnya saya mengambil keputusan yang sebenarnya tidak saya inginkan, padahal masih bisa dihindari. Saya takut harus berbagi kamar bersama ibu-ibu lain yang juga kesakitan dan ketakutan, sehingga membuat saya semakin dilanda rasa panik. Ketakutan-ketakutan itulah yang membuat saya lebih condong melahirkan di bidan, hal itu yang saya tekankan pada suami saya.

    Balik lagi ke status teman kuliah saya tentang gentle birth, akhirnya saya tahu bahwa ternyata bidan yang mendalami metode ini kian banyak. Kalau beberapa tahun lalu mungkin hanya segelintir tenaga kesehatan yang bersedia melakukan persalinan dengan metode ini, namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Melahirkan dengan proses senyaman dan senatural mungkin, kini bisa dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Bermula dari informasi yang saya peroleh tentang Bidan Yesie Aprillia, saya langsung blusukan ke berbagai blog. Bidan Yesie Aprillia ini sayangnya berbasis di Yogyakarta. Nggak mungkin dong saya musti jauh-jauh ke sana untuk lahiran doang? 😂

    Alhamdulillah, di forum ibu hamil saya menemukan nama Bidan Erie Marjoko. Ia bukan hanya bidan, namun juga menjadi guru prenatal yoga, penggiat gentle birth, self healing practicioner, dan masih banyak lagi titel yang disandangnya. Saya menemukan banyak blog yang mereferensikan Bidan Erie untuk belajar tentang gentle birth. Banyak juga yang berencana melahirkan di rumah sakit namun sengaja konsultasi ke sana untuk lebih menguasai hypnobirthing. Mereka mengakui bahwa sekedar mengobrol dengan Bidan Erie aja rasanya pikiran langsung dipenuhi afirmasi positif yang membantu mereka menghadapi proses kelahiran dengan nyaman dan penuh percaya diri. Kabar baiknya, tempat praktik Bidan Erie ternyata di Citayam, yeay! Lokasinya nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami yang sekarang. Saya pun menceritakan hal ini dengan penuh antusias pada suami saya, ia memberi dukungan penuh kalau memang itu yang saya inginkan dan membuat saya nyaman.

    So, balik lagi ke judul tulisan ini, lebih pilih obgyn atau bidan? Semua kembali lagi pada pilihan sang ibu, mana yang paling membuatnya merasa aman dan nyaman? Jawaban setiap ibu hamil pasti berbeda-beda. 😊 Semenjak banyak mencari tahu tentang gentle birth, saya baru menyadari kalau selama ini saya hanya mempersiapkan diri (dan juga suami saya) untuk kemungkinan terburuk. Saya menjejalinya dengan berbagai informasi dan tulisan tentang baby blues hingga postpartum depression (PPD). Tanpa sadar selama ini saya menanamkan pola pikir bahwa saya mungkin akan mengalami hal itu, yang (amit-amit ya Allah) mungkin saja malah akan diamini oleh semesta. Tapi nggak pernah sekali pun saya membayangkan bahwa proses persalinan saya nantinya pasti sesuatu yang indah dan nggak akan terlupakan. Memang nggak ada salahnya memperkaya diri dengan pengetahuan tentang hal-hal buruk yang biasanya dialami oleh ibu hamil, sekedar untuk antisipasi. Tapi jangan sampai kita hanya terpaku pada pikiran negatif tersebut sampai mengesampingkan fakta bahwa melahirkan adalah proses alami. Semoga para ibu hamil di luar sana yang lagi galau segera diteguhkan hatinya, dibukakan jalannya, dan semoga kita semua sehat selalu sampai proses melahirkan. Aamiin.... 😇
    Share:

    Belajar Mengenali Jenis Bagian Daging Sapi

    Dengan diunggahnya tulisan ini, secara resmi saya udah masuk dalam geng ibu-ibu. 😂

    Sumber ilustrasi: Freepik

    Sebelum menikah, kemampuan memasak saya bisa dibilang di bawah rata-rata. Hanya beberapa jenis makanan yang mampu saya olah dengan layak dan mendapat pengakuan dari orang-orang terdekat. Basic skill masak sih saya punya, nggak yang bener-bener buta total lah. Tapi kalau boleh jujur sih, saya emang jarang banget terjun ke dapur untuk bantu-bantu ibu saya. Ehehehe.... 🙈 Saya bertekad setelah menikah ingin benar-benar serius belajar masak karena udah komitmen mau menyediakan masakan rumah untuk keluarga. Dimulai dari masakan-masakan sederhana yang saya udah pernah masak (atau minimal sering lihat ibu saya masak), sampai masakan yang saya nggak tau sama sekali. 😂

    Awal-awal menikah saya cuma berani masak menu-menu sederhana seperti olahan tempe, tahu, telur, dan sayur-sayuran tumis. Hasilnya? Ya cincai laaah... 😂 Di minggu ketiga menikah saya mulai memberanikan diri untuk mengolah daging dan ikan-ikanan sesuai permintaan suami. Terus terang aja ini tantangan banget buat saya, karena selama ini nggak pernah sekali pun mengolah daging. Alasannya sih karena daging sapi itu cukup mahal harganya, dan kalau sampai salah simpan atau salah olah, bisa jadi dagingnya malah rusak atau menurun kualitas rasanya. Makanya saya mager banget nyobain olahan daging sapi pas masih gadis.

    Pertama kali beli daging sapi, saya ke Carrefour yang nggak terlalu jauh dari kantor. Sebagai ibu-ibu newbie, saya termenung sambil bolak-balik di etalase daging lamaaaa banget. 😂 Di situ saya baru tau ooh ternyata daging sapi itu ada nama-nama bagiannya ya. Saya perhatikan label harga di setiap kemasan daging ada yang tertulis has dalam, has luar, sengkel, sandung lamur, dan sebagainya. Ada juga yang tertulis daging rendang, daging rawon, daging semur, dan sebagainya. Pusing nggak? Pusing lah.... 😂 Saya pikir selama ini semua daging sapi ya sama aja, bisa diolah jadi semur, rendang, empal, tanpa perlu pusing-pusing mikirin daging bagian mana ini. Ternyata nggak sesederhana itu saudara-saudara. 😂

    Daripada kelamaan dan malah dilihatin orang, saya akhirnya putuskan memilih daging berdasarkan komposisi lemaknya. Rata-rata daging dikemas seberat kurang lebih 500 gram, terlalu banyak kalau semuanya dijadikan campuran sayur sop, jadi saya berniat mengolahnya jadi dua masakan. Maka saya pilih daging yang punya komposisi 20% lemak 80% daging, pilihan jatuh pada kemasan daging rendang padahal saya nggak ada niat masak rendang. 😂 Tapi ya harap maklumi kesotoyan ibu-ibu newbie ini. Masakan pertama baru saya eksekusi sekitar satu minggu kemudian dan lumayan sukses. Sayur sop daging yang saya buat menuai pujian dari suami karena rasanya enak dan dagingnya empuk. Ya iyalah empuk, wong saya rebus satu jam lebih. 😂 Selanjutnya, saya putuskan mengolah daging ini menjadi sapi lada hitam. Saya cari-cari resepnya ke sana kemari, semua bilang dagingnya ditumis sampai berubah warna. Nggak ada instruksi sama sekali untuk merebusnya terlebih dahulu. Sempat membatin, bakal alot nggak nih dagingnya kalau nggak direbus dulu? Tapi tetap saya coba. Begitu masakannya jadi, tadaaaa ~ jadilah sapi lada hitam dengan rasa yang enak tapi dagingnya terlalu keras. 😂 Walaupun dagingnya terlalu keras, masakan saya masih dapat pujian dari suami, sambil membesarkan hati agar saya semangat cari cara mengolah daging sapi sampai empuk seperti ketika masak sayur sop.

    Saya berusaha telusuri di mana kesalahan saya, kok dagingnya alot banget sedangkan waktu bikin sayur sop dagingnya selembut itu. Sempat mikir apa harusnya direbus dulu sebelum ditumis? Tapi nanti malah jadi semur dong. 😂 Setelah googling sana-sini barulah ketemu jawabannya. Ternyata harusnya saya pakai daging bagian has dalam kalau mau bikin sapi lada hitam. Kemungkinan daging yang saya beli itu bagian sandung lamur yang memang biasa diolah jadi rendang. Ya pantes lah dagingnya alot. 💆😂

    Nah, berbekal kesalahan saya dalam memilih daging, saya mau berbagi informasi tentang bagian-bagian daging sapi yang saya rangkum dari berbagai sumber. Simak baik-baik ya! 😁

    Sumber ilustrasi: The Spruce Eats

    Daging Sandung Lamur
    Dalam bahasa Inggris daging Sandung Lamur disebut juga Brisket, daging ini berasal dari bagian dada bawah sampai ketiak. Daging ini disebut bagian daging anak sapi karena cukup berlemak dan biasanya disajikan sebagai menu-menu rendang.

    Daging Lamusir
    Bagian ini disebut juga dengan nama Cube Roll. Daging lamusir berasal dari bagian belakang sapi, di dekat has dalam, has luar, dan daging tanjung. Potongannya diambil dari bagian punggung kemudian dipotong dari rusuk keempat sampai ke rusuk duabelas. Daging jenis ini termasuk jenis daging yang lunak dan berlemak. Ia cocok dimasak dengan cara dipanggang atau dibakar karena sangat empuk.

    Daging Sengkel
    Istilah sengkel sebenarnya berasal dari bahasa Belanda yaitu Schenkel yang merupakan bagian depan atas kaki sapi. Karena ototnya cukup banyak, daging sengkel biasa dimasak sebagai bahan dasar sup, soto atau bakso urat.

    Daging Gandik
    Dalam bahasa Inggris daging Gandik disebut Silver Side. Daging ini adalah daging sapi paha belakang bagian bawah dan bentuknya mirip dengan bagian paha depan yang biasa disebut Shank. Biasanya daging bagian ini digunakan sebagai bahan dendeng balado, isi lemper atau sebagai abon.

    Daging Punuk
    Sesuai namanya, daging punuk merupakan daging bagian punuk yang menyambung dari atas hingga ke paha depan. Bagian tengahnya terdapat serat-serat kasar yang mengarah ke bagian bawah. Daging jenis ini cocok dimasak dengan teknik mengukus. Dalam bahasa Inggris bagian punuk biasa dikenal dengan nama Blade.

    Daging Tanjung
    Daging ini dikenal dengan juga nama Rump atau Round, yakni bagian daging sapi yang lemaknya sangat sedikit bahkan hampir tidak ada. Daging sapi ini berasal dari bagian punggung dekat kaki belakang. Biasanya daging ini diolah dengan cara direbus atau dipanggang.

    Daging Iga
    Daging yang satu ini merupakan salah satu bagian sapi yang paling baik untuk diolah. Daging iga atau tulang rusuk, dalam bahasa Inggris disebut Ribs. Biasanya bagian tulang rusuk sapi yang diambil antara tulang rusuk ke-6 sampai 12. Daging iga paling enak dimasak menjadi sup iga, iga bakar, semur, atau juga steak.

    Daging Sapi Paha Depan
    Dalam bahasa Inggris bagian ini disebut dengan nama Chuck. Daging ini biasa dipotong berbentuk segiempat dengan ketebalan 2-3 cm. Tulang bahu biasanya masih menempel ke bagian paha sampai bagian terluar. Daging sapi paha depan sangat cocok diolah menjadi bakso.

    Daging Samcan
    Bagian daging yang satu ini berasal dari otot perut, dalam bahasa Inggris disebut juga Flank. Bentuknya panjang dan datar, namun agak kurang lunak. Daging ini biasa digunakan sebagai bahan oseng-oseng atau tambahan dalam sayur.

    Daging Has Dalam
    Mungkin bagi pecinta steak, udah nggak asing lagi dengan bagian ini, yang biasa disebut Tenderloin, yakni daging sapi bagian tengah badan. Karakteristik daging ini  adalah memiliki banyak otot dan terletak di bagian tulang belakang, bahu dan tulang panggul. Daging has dalam paling lunak karena otot-ototnya jarang dipakai untuk beraktivitas, sehingga cocok dimasak sebagai empal, steak, atau sukiyaki.

    Daging Has Luar
    Daging ini disebut juga dengan nama Sirloin, bagian daging sapi dari bawah iga sampai ke luar has dalam. Harganya paling murah dibandingkan jenis daging lain karena ototnya cukup keras dan seringkali dipakai bekerja, lemaknya juga cukup sedikit sehingga biasa dikonsumsi oleh para pelaku diet. Daging jenis ini cocok dijadikan dendeng atau steak.

    Sumber ilustrasi: Freepik

    Nah, setelah tahu macam-macam bagian daging sapi, semoga saya nggak bingung lagi deh kalau mau beli daging di pasar maupun di swalayan. 😂 Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang juga lagi belajar masak! 😊

    Sumber tulisan: Vemale, Little Big Red Dot, The Spruce Eats
    Share:

    Pemeriksaan TORC(H) di RSUD Pasar Rebo, Ternyata Lebih Murah!

    Disclaimer: saya bukan praktisi medis sama sekali, tulisan ini murni saya buat dari sudut pandang orang awam, mohon jangan dijadikan acuan dan tetap konsultasi ke dokter.

    Beberapa bulan yang lalu sebelum menikah, saya sempat menulis tentang pemeriksaan TORCH yang sebaiknya dilakukan oleh perempuan yang hendak menikah atau merencanakan kehamilan. Well, banyak juga yang bertanya bagaimana kelanjutannya ternyata. 😅

    Sumber Ilustrasi: Freepik

    Tadinya sesuai rencana, saya ingin melakukan pemeriksaan TORCH sebelum menikah. Namun ternyata karena kesibukan dan masalah waktu yang sangat terbatas seiring makin dekatnya hari pernikahan, akhirnya saya menunda pemeriksaan tersebut. Saya dan suami (ciyeee suami sekarang mah 😝) baru mendatangi RSUD Pasar Rebo sekitar dua minggu setelah hari pernikahan. Sebelum pergi ke sana, saya menghubungi bagian informasi RSUD Pasar Rebo via telepon untuk menanyakan jam layanan dan tarif pemeriksaan. Petugasnya menginformasikan bahwa laboratorium melayani dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore dari hari Senin sampai Jumat. Namun sayangnya mereka hanya bisa melakukan tes untuk Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) saja, sedangkan untuk Herpes Simplex Virus (HSV) belum tersedia. Baiklah....

    Kami tiba di RSUD Pasar Rebo sekitar pukul 09.00 WIB, sudah agak siang untuk ukuran calon pasien rumah sakit pemerintah ya. Kalau mau lebih cepat dilayani semestinya kami datang lebih pagi. Karena saya belum pernah berobat ke sana, di loket pendaftaran saya harus mengisi formulir pasien terlebih dulu lalu membayar biaya pendaftaran, biaya cetak kartu, dan biaya konsultasi dokter kandungan, total semuanya Rp 80.000,- saja. Yap, untuk bisa melakukan pemeriksaan di laboratorium kita nggak bisa kucluk-kucluk langsung ke sana tapi tetap harus konsultasi ke dokter dulu. Setelah menyelesaikan pembayaran dan urusan administrasi, saya mendatangi Poli Kandungan untuk pemeriksaan tensi dan berat badan. Waktu tunggu yang kami habiskan hingga akhirnya dipanggil ke ruang dokter kandungan mungkin sekitar dua jam. Kami datang jam 09.00 WIB, baru masuk ruang dokter jam 11.00 WIB, padahal konsultasinya sebentar banget bahkan nggak sampai 5 menit.
    😅

    Lucunya, sewaktu diperiksa tensi, perawat yang memeriksa saya menanyakan beberapa hal: "Mau cek kandungan ya?" "Engga." "Terus mau apa?" "Saya mau periksa TORCH." "Oh, sebelumnya pernah keguguran ya?" "Engga." "Hmm... Oke... Keluhannya apa?" Entah kenapa, kayaknya dia agak aneh melihat ada pasien yang sehat wal 'afiat, nggak hamil, nggak punya riwayat keguguran, tapi mau repot-repot periksa TORCH. Memangnya aneh ya kalau kita mengambil langkah antisipasi? Apa nggak boleh kalau kita lebih pilih mencegah daripada mengobati? 😌

    Keluar dari ruang observasi, kami membawa beberapa berkas dokumen yang diberikan kepada perawat. Kami lalu diminta pergi ke kasir untuk membayar biaya Pemeriksaan Obstetri dan Observasi Tanda Tanda Vital, totalnya Rp 40.000,- saja. Setelah dari kasir, barulah perawat tersebut memberikan resep suplemen yang diberikan oleh dokter, serta surat rujukan dari dokter untuk pemeriksaan laboratorium. Whoaaah..... Untuk mendapatkan ini semua aja makan waktu sampai dua jam lebih. 😌 Kami yang semula berencana izin setengah hari, terpaksa izin seharian penuh karena berangkat ke kantor pun percuma pasti sudah kelewat siang.

    Sebelumnya saya udah bilang kan yaa kalau saya sempat menghubungi bagian informasi RSUD Pasar Rebo untuk menanyakan biaya pemeriksaan laboratorium. Ternyata informasinya memang akurat dan kurang lebih sama dengan informasi yang saya peroleh dari blog Kiki Erviani. Untuk detail harganya, bisa dicek di gambar berikut ini ya.

    Seperti yang tercantum pada gambar, hanya ada pemeriksaan Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) saja, sedangkan untuk Herpes Simplex Virus (HSV) belum tersedia. Mungkin nanti kami akan mencari laboratorium lain khusus untuk pemeriksaan ini. Total biaya yang kami keluarkan untuk pemeriksaan termasuk biaya pendaftaran dan konsultasi dokter sekitar Rp 930.000,-. Mahal nggak? Mahal atau murah relatif sih. Tapi bagi kami harga segitu jauh lebih terjangkau ketimbang harus melakukan pemeriksaan di laboratorium swasta. Di tulisan saya yang sebelumnya, saya mencantumkan daftar harga berbagai laboratorium yang melayani pemeriksaan TORCH di wilayah Jabodetabek. Mulai dari Prodia, Kimia Farma, Gunung Sahari, Primadia, Biotest, sampai Pathlab.

    Untuk sementara, kami cuma bisa menunggu dan berdoa. Sample darah saya sudah diambil untuk diperiksa, hasilnya baru bisa diambil tanggal 10 September 2018 mendatang. Tulisan ini akan saya update lagi kalau nanti saya udah dapat hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Semoga semua hasilnya baik-baik aja. 😊🙏

    UPDATE (12 September 2018)

    Berhubung tanggal 10 September kemarin saya pulang kampung, saya dan suami baru sempat mendatangi RSUD Pasar Rebo hari ini untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium. Nggak butuh waktu lama karena kami nggak harus antre seperti pasien biasa. Lalu hasilnya bagaimana? Hasil pemeriksaannya adalah.... hampir semua indikator negatif, kecuali Anti CMV IgG yang ternyata positif. Artinya apa? Well, sejujurnya saya juga belum yakin betul apa artinya dan langkah medis apa yang selanjutnya harus saya ambil karena kami belum sempat konsultasi ke dokter. 😅

    Saya baru sempat googling sedikit dan menemukan sebuah jawaban yang lumayan menenangkan dari situs Alodokter. Kurang lebih penjelasannya seperti ini:

    Sumber: Alodokter
     

    Tapi..... sekali lagi saya tegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium tetap harus dikonsultasikan ke dokter langsung. Jangan cuma mengandalkan jawaban yang kita peroleh dari internet. Bagi saya jawaban seperti ini sifatnya hanya sementara dan untuk menenangkan aja karena asli saya juga awam banget sama istilah-istilah medis ini. 😅

    Apakah semua perempuan yang hendak menikah atau akan memiliki anak wajib melakukan pemeriksaan ini? Mungkin ada sebagian yang berpendapat, "Ah, saya nggak pakai periksa-periksa lab kayak gitu, lancar-lancar aja tuh. Setelah nikah nggak berapa lama langsung hamil dan anak saya lahir sehat." Wah, syukur alhamdulillah kalau memang ada yang jalannya dimudahkan seperti itu. Tapi kalau jawaban saya, semuanya kembali pada keyakinan dan ketenangan hati masing-masing. Kalau memang yakin tubuhnya sehat dan udah menerapkan gaya hidup sehat juga, ya monggo lakukan sesuai keyakinannya. Tapi kalau memang yakin bahwa langkah terbaik untuk mempersiapkan tubuh adalah dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin, ya silakan lakukan. Intinya, lakukan apa yang terbaik menurut kamu. 😊

    Buat yang mau sharing soal pengalaman tes TORCH-nya, boleh banget tinggalkan komentar. Kalau lagi senggang insya Allah akan saya balas. 😊
    Share:

    DIY Projects #3: Desain Kartu Undangan Sendiri!

    Sejujurnya saya udah lupa ini DIY projects bagian ke berapa. 😂 Karena proyek ini udah mulai saya kerjain jauh berbulan-bulan yang lalu, tapi memang sengaja nggak dibuka sampai dekat waktunya. Ehehe... 🙈

    Walaupun nggak bisa dibilang jago-jago banget, tapi saya punya sedikit ilmu perancangan grafis yang dipelajari pas kuliah. Di kantor juga saya udah biasa memproduksi konten promosi baik cetak maupun social media sehingga saya cukup familiar dengan software desain grafis seperti CorelDraw dan Adobe Photoshop. Nah, berbekal pengalaman itulah saya bertekad mau mendesain kartu undangan pernikahan saya sendiri. 🙈

    Bagian tersulit dari proses desain adalah... memutuskan desain yang mana yang mau dieksekusi. 😂 Kalau soal inspirasi mah banyak banget di mana-mana ada, apalagi dari Pinterest. Dan proses mendesain juga nggak sekedar mikir desainnya harus lucu dan unik, tapi juga mikirin ketika nanti dicetak bakal sulit direalisasikan atau nggak. Lalu biaya cetaknya gimana? Semakin rumit desain yang kita buat, jangan aneh kalau harga per buahnya juga semakin mahal. Jangan sampai karena pengen punya desain kartu undangan yang unik kita mengabaikan aspek biaya.



    Dari awal saya udah tahu kalau saya nggak akan bikin desain kartu undangan hard cover. Alasannya ya karena: #1 mahal, #2 kenapa harus mahal-mahal kalau ujung-ujungnya untuk dibuang juga? Malah sebetulnya saya dan pasangan maunya undangan digital aja, tapi ya para tetua nggak mungkin mengizinkan. 😌 Jadi akhirnya kami tetap membuat kartu undangan fisik.

    Suatu hari pasangan saya menunjukkan akun Instagram jasa cetak undangan milik juniornya pas kuliah. Dia menyarankan untuk cetak kartu undangan di situ aja. Begitu saya lihat-lihat ternyata ada contoh undangan dengan desain ala kartu pos. Saya langsung mikir, "Nah desain kartu pos gini nih yang saya mau!" 😄 Akhirnya saya propose konsep kartu undangan itu ke pasangan saya dan dia pun menyetujui.

    Mulanya sih saya mau bikin undangan ala kartu pos benar-benar cuma satu lembar tanpa lipatan, as simple as possible. Tapi setelah saya eksekusi ternyata rasanya nggak memungkinkan karena ada cukup banyak elemen yang harus dimasukkan dalam desain tersebut. Setelah melalui beberapa kali proses diskusi dengan pasangan saya soal pemilihan font, ornamen hiasan, warna, dan lain-lain, akhirnya desain kartu undangan kami pun selesai, kurang lebihnya seperti ini. 😁

    Desain undangan bagian luar (posisi terbalik)

    Spesifikasi desain kartu undangan saya sederhana banget kok. Ukurannya standar 14 x 38 cm dilipat tengah (begitu dilipat ukurannya jadi 14 x 19 cm), dicetak satu warna (hitam aja), menggunakan kertas samson craft yang berwarna coklat. Warna coklat dalam desain undangan saya ini cuma gambaran aja. Aslinya sih warna kertas samson craft itu lebih gelap dari ini. 😁

    Desain undangan bagian dalam



    Apakah semua ornamen yang saya pakai di dalam undangan ini saya buat sendiri? Oh tentu tidak. 😂 Yang saya lakukan hanya mengkurasi. Saya tahu konsep desain seperti apa yang saya inginkan, tapi saya juga sadar diri kalau saya nggak bisa bikin ilustrasi. Jadi saya cari ilustrasi yang kira-kira sesuai dengan konsep desain saya lalu saya aplikasikan di dalam desain. Di mana nyarinya? Saya paling sering mengandalkan Freepik untuk mencari elemen-elemen desain seperti ini. Cari aja dengan kata kunci: flower corner, flower illustration, flower skecth, floral sketch, atau apapun lah yang lagi kalian butuhkan, tinggal utak-atik aja. FYI hampir semua materi desain yang ada di Freepik itu gratis selama untuk penggunaan pribadi (bukan komersil). Dan kita bisa mengunduh file dalam berbagai format dengan resolusi tinggi. Salah satu contoh desainnya bisa dilihat di gambar berikut ini. Cukup mengunduh file yang kita inginkan, nantinya ada file format .ai dan .eps yang bisa kita pereteli satu per satu. Seru kan? 😄

    Paket yang akan didapatkan setiap mengunduh satu desain

    Software desain grafis seperti CorelDraw dan Adobe Photoshop memang nggak gratis sih, dan untuk mempelajarinya pun butuh waktu serta kesabaran. Kalau kamu nggak punya dua-duanya, ada cara lain untuk mendesain yang lebih gampang, yaitu pakai Canva! 👌 Canva adalah program desain online yang menyediakan berbagai fungsi dan alat editing untuk membuat berbagai desain grafis seperti poster, flyer, infografik, banner, card invitation, presentation, Facebook cover dan masih banyak lagi. Kalau lagi malas mikir dan pengen yang praktis-praktis aja, saya sering memanfaatkan berbagai template desain yang sudah tersedia di Canva. Oh iya, sebagian besar desain yang ada di Canva itu gratis. Kecuali kalau kita mau menambahkan foto atau ornamen tertentu yang memang premium, kita harus bayar. Canva versi gratis juga membatasi beberapa fungsi yang hanya ada di Canva berbayar, misalnya fitur resize. Biaya langganan Canva premium per bulannya sebesar $12.95 USD. Kalau mau lebih hemat bisa langsung berlangganan setahun dengan biaya hanya $9.95 USD/bulan. Tapi kalau baru mau coba-coba, Canva juga menyediakan free trial selama 30 hari kok, asal punya kartu kredit kamu bisa menggunakan fasilitas ini.

    Tampilan dashboard Canva.

    Jadi, sebenarnya sekarang ini ada banyak alternatif untuk mempermudah urusan para calon pengantin. Tinggal kitanya aja harus pintar-pintar menggali informasi dan mencari referensi. Buat yang lagi mempersiapkan pernikahan, semangat ya! 😁
    Share:

    Bukit Wangun: Surga Tersembunyi di Pinggiran Kota Bogor



    Setelah beberapa kali merencanakan foto pre wedding sesi kedua tapi selalu gagal (dan diwarnai bumbu-bumbu keributan 🙈😂) tadinya saya pikir kami nggak akan repot-repot menyempatkan waktu lagi. Tantangan untuk foto pre wedding kali ini adalah: bingung milih tempat, bingung siapa yang fotoin, dan belum tentu cuacanya bagus. Beberapa kali kami batal foto lantaran Bogor mendadak diguyur hujan padahal pasangan saya udah jauh-jauh datang dari Depok.

    Hari Jumat minggu lalu, saya sengaja ambil cuti karena harus meeting dengan salah satu vendor yang cuma bisa ketemu pas hari kerja. Kebetulan pasangan saya juga ijin kerja karena baru pulang dari Bangkok pada dini hari. Setelah meeting selesai, kami berencana melakukan sesi foto bersama sepupu saya yang bertindak sebagai fotografer dadakan. 😂 Lokasinya nggak jauh-jauh sih, masih di daerah Bogor juga. Tapi saya belum pernah sekalipun ke sana, cuma sepupu saya yang pernah.

    Mulanya saya terinspirasi sama foto-foto di akun Instagram @dionwiyoko, ia memotret istrinya dengan latar belakang padang ilalang. Menurut pengakuannya sih foto-foto itu diambil di depan komplek rumahnya di kawasan PIK. 💆 Nggak mungkin kan kami ke sana? Malah capek di jalan yang ada. Nah kebetulan nih sepupu saya tahu tempat di Bogor yang juga dipenuhi ilalang, namanya Bukit Wangun. Sore itu, kami meluncur ke sana.

    Cantik ya istrinya @dionwiyoko ini 😍

    Perjalanan menuju Bukit Wangun makan waktu sekitar 35 menit dari pusat kota Bogor dengan mengendarai motor. Sebenarnya sih kalau nggak macet, bisa jadi cuma 20 menit aja. Kondisi jalanan yang sempit dan berkelok-kelok serta padat dengan kendaraan, bikin perjalanan ke sana jadi super tricky. Kalau kami naik mobil entah berapa lama deh baru sampai di sana. Buat yang belum tahu, Bukit Wangun ini lokasinya harus melewati jalan alternatif Sukabumi-Bogor. Iya, jalan alternatif antar kota tapi sempitnya kayak jalan komplek perumahan, cuma muat dua mobil papasan. 💆

    Begitu sampai di lokasi, whoaaaaa.... 😍 Dari atas bukit itu kita bisa melihat pemandangan kota Bogor dari ketinggian. Bukit Wangun merupakan sebidang tanah luas yang dipenuhi oleh ilalang liar. Di sisi kanan jalan dari pintu masuk, lereng bukitnya ditumbuhi oleh tanaman pertanian. Puncak bukitnya yang paling tinggi, letaknya agak jauh dari pintu masuk, dan menurut sepupu saya tempat itu yang paling bagus karena ada semacam gazebo besar. Tapi sayangnya gazebo itu udah diisi oleh sekelompok remaja lokal. Sebelum kami sampai di sana, sepupu saya sudah mewanti-wanti, "Mbak siap-siap aja kalau di sana ketemu banyak akamsi (anak kampung sini) ya. Mereka mulutnya suka jahil." Dan memang benar sih, padahal kami datang bertiga, tapi tetap aja disiul-siulin dan disorakin dari kejauhan. Karena merasa nggak nyaman, kami pindah ke sisi lain bukit yang agak jauh dari mereka supaya lebih khusyuk.

    Matahari sudah mulai turun ketika kami mulai sesi foto-foto. Karena kali ini ada sepupu saya, kami nggak repot kelamaan ngatur tripod kayak sesi foto pre wedding yang pertama. 😅 Meskipun dia sendiri juga ngakunya masih belajar motret, dengan sedikit arahan dari kami, ternyata hasil jepretannya lumayan juga kok. Taste fotonya lumayan lah, bahkan mungkin lebih bagus dari saya. 😂

    Poin minus dari Bukit Wangun selain pemandangannya yang bagus adalah: semerbak bau tak sedap. 😅 Entah apakah kami yang salah pilih lokasi, atau memang karena tempatnya semak-semak gitu jadi banyak kotoran hewan yang nggak kelihatan. Atau mungkin karena banyak lahan pertanian, makanya semerbak bau pupuk kompos. Yang jelas, di balik wajah-wajah kami yang memancarkan kebahagiaan (elah), sebenarnya kami lagi nahan napas karena bau banget. Makanya sesi pemotretan sore itu nggak berlangsung lama, hanya sekitar 1 jam begitu kami sudah mendapatkan foto yang pas, kami langsung turun gunung. Di Bukit Wangun juga nyaris nggak ada pohon rindang. Jadi kalau mau ke sana saya sarankan lebih baik pagi hari (di bawah pukul 09.00) atau sore sekalian (di atas pukul 15.00) supaya mataharinya nggak terlalu menyengat.

    Oh iya, sayang sekali spot foto yang kami pilih ternyata ilalangnya kurang rimbun. Di sisi lain Bukit Wangun ternyata ada padang ilalang yang lebih rapat dan rapi. Ah, nyesel banget kami nggak eksplor sampai ke sana. Kalau ada waktu lagi, kami mau banget kembali ke Bukit Wangun untuk melanjutkan sesi foto yang tertunda, mungkin nanti judulnya post wedding. 🙈 Mungkin foto-foto kami masih jauh kualitasnya dibandingkan jepretan @dionwiyoko, tapi setidaknya kami sudah berusaha. 😂

    Ekspresi: "Khu khu khu, sebentar lagi kamu akan masuk ke dalam perangkapku!" 😈

    Kalau saya udah ketawa lebar gitu, itu pasti lagi ngobrolin hal-hal nirfaedah 😂

    Crop aja mukanya ya, ganggu 😝
    "Because of you, I laugh a little harder, cry a little less, and smile a lot more."
    Share:

    Another DIY Projects: Pre Wedding Photoshoot


    Lets be real, foto pre wedding itu sebenarnya penting nggak penting sih. Well, malah bisa dibilang masuk ke dalam kebutuhan tersier; kalau memang ada budget berlebih ya monggo dilakukan, kalau nggak dilakukan pun nggak akan berpengaruh apa-apa terhadap berlangsungnya pernikahan. Sebetulnya, setahu saya asal muasal orang-orang mulai melakukan foto pre wedding karena di luar negeri seringkali dalam satu gedung yang sama dilangsungkan beberapa pesta pernikahan. Supaya tamu-tamu yang datang nggak salah masuk hall, maka diletakkanlah foto pasangan yang menikah di pintu masuk. Tren ini lantas terus menyebar dan akhirnya ikut diadaptasi di Indonesia, walaupun sebenarnya kita udah punya janur kuning sebagai penanda. 😂 Tapi sebagai generasi milenial, rasanya nggak lengkap kalau kami nggak punya koleksi foto pre wedding. 🙈

    Berhubung kami berdua sama-sama photography enthusiast; kami juga punya kamera yang mumpuni, dilengkapi lensa yang lumayan, dan juga dipersenjatai oleh tripod; bikin foto pre wedding sendiri sebenarnya cuma masalah mau atau enggak aja. 😅 Semakin dekat hari H, semakin kami disibukkan oleh perintilan yang tadinya nggak kelihatan tapi baru ketahuan sekarang. Jujur aja saya udah sempat bodo amat kalau pun nggak ada foto pre wedding. Sudahlah, kita punya waktu seumur hidup untuk membuat rekam jejak bukan? Tapi setelah berdiskusi dengan pasangan saya, kami memutuskan nggak ada salahnya kok bikin foto pre wedding. Alatnya ada, skill juga ada, waktu juga masih cukup leluasa, lantas mau beralasan apa lagi?

    Fotografer + calon penganten 😂
    Jadi, hari Minggu setelah libur lebaran kami menyempatkan pergi ke komplek Gelora Bung Karno. Rencana awal, kami mau melakukan pemotretan di area car free day. Ceritanya sih mau bikin foto ala-ala slow speed gitu, cuma ternyata crowd-nya kurang asyik dan lagi banyak dinding seng serta galian di beberapa titik. Jalanannya jadi nggak secantik yang kami harapkan. Akhirnya kami masuk ke dalam komplek GBK yang relatif lebih sepi. Kami membawa dua set pakaian, baju pertama yang kami pakai adalah kemeja/blus putih dan celana cream. Pasangan saya membawa kamera Sony Alpha 6000 + lensa 35 mm F1.8 serta tripod Fotopro (yang kami beli patungan waktu belum pacaran 😂), sedangkan saya membawa kamera Olympus Pen E-PL7 + lensa M.Zuiko 40-150 mm F4.0-5.6. Beban barang bawaan yang lumayan berat, jalan kaki dari stasiun ke dalam komplek GBK yang lumayan jauh, dan matahari yang lagi cantik-cantiknya, membuat kami berdua keburu matang sebelum sesi foto dimulai. 😂 Saya udah mengantisipasi hal ini, jadi saya pun mempersenjatai diri dengan alat make up lengkap + kertas minyak. Dalam sekejap, wajah kami berdua yang lusuh pun jadi ON lagi. 😂 Spot foto pertama kami sebetulnya cuma lahan parkir kosong yang dipenuhi pepohonan dengan daun yang mulai menguning. Suasananya sepiii banget cuma tampak beberapa petugas kebersihan atau pengunjung GBK yang sedang lari pagi.

    Sejak awal, saya udah punya bayangan konsep pre wedding yang saya inginkan: casually natural. Kami nggak suka foto yang menggunakan kostum heboh, properti yang ribet, apalagi gaya yang kelihatan banget dibuat-buatnya. Susah nggak buat bikin foto kayak gitu? Nggak susah kalau ada fotografernya, tapi agak tricky kalau cuma bermodalkan tripod. Saya sendiri selama ini kalau memotret pre wedding biasanya hanya mengarahkan si calon pengantin untuk mengobrol sambil bercanda, dan nggak lupa untuk mengumbar senyum. Saya senang merekam ekspresi bahagia yang tampak alami. Itu sebabnya untuk foto pre wedding saya sendiri pun, saya menginginkan konsep yang seperti itu.

    Kalau disuruh milih lebih baik jadi model atau jadi fotografer? Kami akan dengan cepat milih jadi fotografer aja. Asli ya, jadi model itu melelahkan. 😂 Belum lagi harus membangun mood dan mendapatkan ekspresi serta angle yang kami inginkan. Poin plus dari memotret dengan tripod adalah, kami nggak perlu merasa canggung bergaya di depan orang lain, karena yang terlibat hanya saya dan pasangan. Kami berdua udah sama-sama tau lah gimana meluweskan satu sama lain. Tantangan terbesarnya justru dari faktor-faktor eksternal. Ketika kami udah mendapatkan sudut pengambilan gambar yang pas, ada ada saja masalah yang muncul. Entah autofokus yang berubah-ubah seenaknya, perubahan sudut matahari yang tiba-tiba jatuh tepat di wajah kami, aplikasi remote kamera yang mendadak hang, atau tiba-tiba muncul orang lain yang lagi jalan di belakang kami. 😂
    Setelah berhasil mendapatkan foto yang lumayan di spot pertama, kami pun pindah tempat ke jajaran trotoar di dekat Jakarta Convention Center. Kami ingat beberapa bulan lalu saat mendatangi wedding expo, kami sempat foto-foto di jalanan tersebut. Suasananya sepi, pohonnya rindang, jalanan yang panjang dan luas, buat kami lokasi seperti itu sudah lebih dari cukup. Sayangnya, begitu sampai di lokasi yang kami inginkan, ternyata jalanan yang dulu ditutup sekarang sudah dibuka. Di trotoar lebar yang kami incar, sudah lebih dulu ada penjual minuman yang mangkal. Sedangkan pepohonan rimbun yang kami taksir, ternyata sebagian sudah ditebang jadi nggak serimbun sebelumnya. Huffft.... 😞 Untungnya pasangan saya nggak kehabisan akal. Setelah beberapa kali trial & error, kami bisa menemukan sudut pengambilan gambar yang pas dan meminimalisir kebocoran. 😅 Sayangnya, baru juga dapat beberapa foto yang bagus, tiba-tiba kami dihampiri oleh petugas berseragam yang menanyakan maksud dan tujuan kami foto-foto di situ. Meski sudah dijelaskan bahwa kami foto hanya untuk keperluan pre wedding dan bukan untuk komersil, si petugas tetap meminta kami untuk mengurus perizinan jika memang ingin dilanjutkan. Hmmm, baiklah.... 💆

    Akhirnya kami menyudahi sesi pemotretan hari itu dan mengemasi barang-barang. Saya juga baru tau sih kalau untuk memotret di dalam komplek GBK dengan menggunakan kamera semi profesional ternyata harus minta izin terlebih dahulu. Tadinya kami pikir petugas itu menegur kami karena kami menggunakan kamera dan tripod jadi tampak mencolok. Tapi ternyata di depan mesjid pun kami melihat ada rombongan anak muda yang lagi foto-foto santai pakai kamera Fuji meskipun tanpa tripod, tetap kena tegur. Padahal dipikir-pikir, kamera ponsel sekarang pun sudah lumayan bagus lho, bahkan kualitasnya hampir setara dengan kamera mirrorless atau DSLR. Entahlah, mungkin memang sudah peraturan dari sananya seperti itu. 😅
    It's both challenging and fun in the same time. Menurut saya, sesi foto pre wedding kayak gini fungsinya buat jadi intermezzo di tengah persiapan menuju hari H yang melelahkan baik fisik maupun psikis. Jarang-jarang 'kan bisa bikin foto berdua yang bagus dan niat banget sama pasangan? 😅 Jangankan yang nggak punya kamera, kami berdua yang sama-sama punya kamera dan bisa motret aja nggak setiap saat bisa punya foto berdua yang bagus. Lebih seringnya kami motret orang lain atau motret satu sama lain tapi cuma sendiri-sendiri.

    Foto-foto yang saya pajang di sini cuma sneak peek dari foto keseluruhan makanya di-crop secukupnya aja. 😅 Referensi foto pre wedding bisa didapatkan dari banyak sumber, kalau saya sendiri sih rajin buka Instagram dan Pinterest aja. Semoga tulisan saya ini bisa jadi masukan buat teman-teman yang juga lagi mempersiapkan pernikahan.[]
    Share:

    Pemeriksaan TORCH Sebelum Menikah, Pentingkah?


    Sumber Ilustrasi: Freepik

    "Jadi, persiapan nikahannya udah berapa persen, Ni?"

    Hahaduh please jangan ditanya, sekarang lagi pusing-pusingnya dan masih super ketar-ketir. Insya Allah sih sekitar 70% urusan udah hampir rampung. Masih ada beberapa urusan yang tinggal diberesin, tinggal fitting, masih harus monitoring, briefing, dll. Well, biar saya nggak melulu mikirin perintilan nikah yang lain, kali ini mau bahas sedikit tentang TORCH. Mungkin istilah ini belum  banyak diketahui orang-orang. Tapi buat pemilik kucing seperti saya yang tiap hari bergumul sama makhluk-makhluk berbulu, istilah ini udah cukup lama saya kenal lewat artikel di beberapa blog yang saya baca.

    Menurut Wikipedia, TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) pada wanita hamil. Infeksi TORCH ini sering menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan ataupun terjadinya keguguguran dini. Beberapa kecacatan janin yang bisa timbul akibat TORCH yang menyerang wanita hamil antara lain kelainan pada saraf, mata, kelainan pada otak, paru-paru, mata, telinga, terganggunya fungsi motorik, hidrosepalus, dan lain sebagainya dengan tingkat kecacatan bawaan mencapai 15 persen dari yang terinfeksi. Kekurangan gizi dapat memperberat risiko infeksi perinatal.

    Kok kayaknya serem sih? Tenang dulu... Sebenarnya, beberapa virus TORCH ini kalau bersemayam di tubuh orang dewasa yang sehat, nggak akan membawa dampak buruk. Bahkan sebagian besar orang nggak menyadari kalau di tubuhnya lagi ada virus-virus ini. Namun, lain lagi urusannya kalau orang dewasa yang mengidap virus tersebut adalah wanita yang sedang hamil, karena bisa membahayakan janin yang sedang dikandungnya. Lalu, siapa aja orang-orang yang berisiko terinfeksi virus TORCH? Pertama, perempuan yang doyan makan sayuran mentah seperti lalapan. Kedua, perempuan yang doyan makan daging-dagingan yang tidak dimasak sempurna. Ketiga, perempuan yang memelihara hewan peliharaan namun kurang memperhatikan kebersihannya.

    Saat ini saya punya 4 kucing (tadinya 5 tapi yang satu udah mati). Tiga kucing di antaranya adalah pejantan yang kalau main lebih sering di luar rumah dan biasanya agak brutal. Satu lagi kucing betina yang nggak pernah keluar rumah sama sekali. Selama ini saya juga yang bertanggung jawab membersihkan kotoran mereka di bak pasir. Jadi saya udah kelewat sering kontak langsung sama kotoran hewan. Jelas dong saya khawatir di dalam tubuh saya terdapat virus-virus TORCH ini.

    Nah, saya pun mulai survei informasi seputar pemeriksaan TORCH, paling banyak referensi yang saya dapatkan adalah pemeriksaan di Laboratorium Klinik Prodia yang harganya, aduh... mending buat beli suvenir undangan deh. #KRAY 😢😂 Kalau mau tau perkiraan biaya pemeriksaan TORCH di beberapa laboratorium, bisa cek di Pesanlab, sebuah platform online yang melayani order pemeriksaan laboratorium dan medical checkup. Saya belum pernah coba pesan lewat sini sih, tapi ada salah satu blogger yang menggunakan jasa Pesanlab dan sepertinya memang terpercaya. Berikut ini saya lampirkan daftar laboratorium klinik yang bekerja sama dengan Pesanlab beserta alamat dan biaya pemeriksaannya. Disclaimer: biaya pemeriksaan mungkin bisa lebih rendah atau lebih tinggi jika mengontak langsung ke laboratoriumnya (bukan melalui Pesanlab).


    No.
    Laboratorium Klinik
    Alamat
    Biaya Pemeriksaan TORCH
    1.
    Prodia
    Prodia Cideng, Jl. Cideng Barat No. 36 A, Jakarta Pusat
    Rp 3.179.000,-
    Prodia Kramat, Jl. Kramat Raya No. 150, Prodia Tower Lt. 1-3, Jakarta Pusat
    Prodia Arteri, Arteri Pondok Indah, Jl. Sultan Iskandar Muda No. 31 C , Jakarta Selatan
    Prodia Bona Indah, Ruko Bona Indah Plaza A2/ Kav. C7, Jakarta Selatan
    Prodia Kampung Melayu, Jl. K. H. Abdullah Syafei No. 25, Jakarta Selatan
    Prodia Kebayoran, Jl. Gunawarman No. 77, Jakarta Selatan
    Prodia Ps. Minggu, Jalan Raya Pasar Minggu No. 98 E, Jakarta Selatan
    Prodia Kedoya, Perkantoran Tomang Tol Raya Blok A II/22, Jakarta Barat
    Prodia Puri Indah, Komplek Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/28, Jakarta Barat
    Prodia Kelapa Gading, Jl. Boulevar Raya Blok H4 No. 15, Jakarta Utara
    Prodia Pantai Indah Kapuk, Rukan Gold Coast Blok B2-3, Jakarta Utara
    Prodia Pluit, Ruko Sentra Bisnis Blok A/6, Jakarta Utara
    Prodia Sunter, Jl. Danau Sunter Utara Blok C1 No. 14, Jakarta Utara
    Prodia Cibubur, Jl. Alternatif Cileungsi - Cibubur No. 8D, Jakarta Timur
    Prodia Bogor, Jalan Jend. Sudirman No. 38 B, Bogor
    Prodia Depok, Ruko Pesona Khayangan No. 9, Jalan Margonda Raya No. 45, Depok
    Prodia Bekasi, Jalan K.H. Noer Ali No. 90, Kalimalang, Bekasi Selatan, Bekasi
    Prodia Bintaro, Ruko Kebayoran Arcade 2 Blok B.3 No.33-35, Tangerang Selatan
    Prodia BSD, Jalan Letnan Sutopo, Ruko Golden Madrid, Blok B No. 1-2, Tangerang Selatan
    Prodia Gading Serpong, Jalan Raya Boulevard Gading Serpong Blok M5 No. 63 & 65, Tangerang Selatan
    Prodia Tangerang, Sutera Niaga I No. 21, Ruko Alam Sutera, Serpong, Tangerang
    2.
    Gunung Sahari
    Gunung Sahari, Jl. Gunung Sahari Raya 51 A3, Jakarta Pusat
    Rp 2.455.000,-
    Gunung Sahari Ruko Citra Garden, Ruko Citra Garden II, Blok I5.3 Daan Mogot, Jakarta Barat
    Gunung Sahari Gading, Jl. Klp. Gading Boulevard, Blok FV 1 No.18, Jakarta Utara
    Gunung Sahari Tole Iskandar, Jl. Tole Iskandar 9A, Depok
    3.
    Primadia
    Primadia Percetakan Negara, Jl. Percetakan Negara II No. 21-22, Jakarta Pusat
    Rp 3.290.000,-
    Primadia Utan Kayu, Jl. Utan Kayu Raya No. 109b, Jakarta Timur
    4.
    Biotest
    Biotest Menteng, Jl. Sumatra No. 48 Menteng, Jakarta Pusat
    Rp 2.990.000,-
    Biotest Wijaya, Jl Wijaya I No. 58 Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    Biotest Pluit, Biotest Jalan Pluit Sakti No.25 Pluit, Jakarta Utara
    5.
    Kimia Farma
    Kimia Farma Cikini, Jl. Cikini Raya No. 2, Menteng Huis, Jakarta Pusat
    Rp 3.060.000,-
    Kimia Farma Kebayoran, Jl. Kebayoran Lama No. 50 Jakarta Selatan, Jakarta Selatan
    Kimia Farma Cibubur, l. Alternatif Cibubur, Ruko City Walk III Blok CW I-II Citra Gran Cibubur, Jakarta Timur
    Kimia Farma Duren Sawit, Jl. Duren Sawit Raya No. 29 Jakarta Timur
    Kimia Farma Bogor Juanda, Jl. Ir. H. Juanda No. 30, Bogor
    Kimia Farma Depok, Jl. Sentosa Raya No. 11, Sukmajaya, Depok
    6.
    Pathlab
    Pathlab Muara Karang, Jalan Raya Muara Karang No. 141 Blok A-7 Utara Kav. 30, Jakarta Utara
    Rp 3.290.000,-
    PathLab Sunter, Jalan Griya Utama Blok A No 42 Sunter Jaya, Jl. Griya Utama Blok A No.92, Sunter Agung, Tj. Priok, Jakarta Utara
    Pathlab Gading, Boulevard Raya Blok TT No. 20, Jakarta Utara


    Tenang dulu, jangan buru-buru panik lantaran melihat biaya pemeriksaan yang harganya jutaan semua. 😂 Saya juga awalnya panik sih, tapi saya nggak berhenti melakukan riset hingga akhirnya saya tahu kalau di RSUD Pasar Rebo juga melayani pemeriksaan TORCH dengan biaya yang murah banget. Saya dapat informasinya dari blog Kiki Erviani, yang bersangkutan melakukan pemeriksaan TORCH di RSUD Pasar Rebo pada tahun 2017 dengan biaya Rp 800.000,- saja! 😱😱😱 Kenapa kok bisa murah banget dibanding sama laboratorium klinik swasta? Kalau saya baca di forum ibu-ibu sih, jangan khawatir dengan akurasi hasilnya, karena mau murah atau pun mahal, prosedur serta alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan TORCH itu sama aja. Yang membedakan ya fasilitas gedung, pelayanan ekstra, dan faktor-faktor lain di luar prosedur standar. Selain RSUD Pasar Rebo, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo juga melayani pemeriksaan TORCH, cuma saya belum nemu blog yang menginformasikan biaya pemeriksaan di sana. Ada juga informasi dari blog Noni Rosliyani yang melakukan pemeriksaan TORCH pada tahun 2017 di Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta dengan biaya sekitar Rp 1.200.000,-, mungkin sekarang sudah naik. Ada yang mau menambahkan informasi biaya pemeriksaan TORCH di rumah sakit atau laboratorium yang lain? Monggo tinggalkan jejak di kolom komentar ya... 😊

    Jadi, kapan saya mau melakukan pemeriksaan TORCH? Mungkin nanti beberapa minggu sebelum menikah. Yang penting saya udah mengantongi berbagai informasi yang saya butuhkan untuk pemeriksaan TORCH ini. Deg-degan nggak? Pastinya. Tapi buat saya lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal di kemudian hari. Karena biaya serta beban moril yang harus ditanggung akan jauh lebih besar kalau (amit-amit ya Allah) sampai saya hamil dalam keadaan tubuh saya sedang terinfeksi virus TORCH. 😢 So, buat para bride-to-be yang juga lagi mempersiapkan pernikahan, nggak ada salahnya kok melakukan pemeriksaan kesehatan seperti ini sebelum menikah. 😉
    Share: