Showing posts with label kehamilan. Show all posts
Showing posts with label kehamilan. Show all posts

Road To Gentle Birth: Konsultasi dengan Bidan Erie Marjoko

Hello trimester kedua! 👋

Melanjutkan cerita kehamilan saya, akhirnya dua hari yang lalu saya berkesempatan kontrol kandungan ke tempat Bidan Erie Marjoko di Citayam. Dua hari sebelum kontrol, saya menghubungi Whatsapp pribadinya. Saya kirim Whatsapp sekitar pukul 11 siang, baru dijawab pukul 11 malam. Bidan Erie yang akrab dipanggil Budhe ini menjawab Whatsapp saya dengan ramah, meskipun dia bilang hari itu pasiennya ramai sekali, pasti sebetulnya beliau udah sangat lelah. Waduh, jadi nggak enak saya. 😅 Budhe bilang kalau mau datang ke tempat praktiknya, silakan datang hari Rabu pukul 9 pagi sekalian yoga. Tapi karena usia kandungan saya masih sekitar 14 minggu, jadi saya hanya cek kandungan aja. Tadinya beliau bilang baru ada waktu sekitar jam 11.30, karena saya dan suami sama-sama bekerja, kami nggak bisa ambil jadwal kontrol yang terlalu siang. Akhirnya Budhe bilang kalau saya nggak keberatan kontrol sama tim bidannya, silakan datang pukul 9 pagi. Saya pikir, yaudah lah nggak apa-apa kontrol kandungan dengan tim bidannya, toh pasti para bidan di sana udah sesuai dengan standar Budhe kan? Saya juga pernah baca tulisan di salah satu blog pasiennya Budhe, saat dia ke sana kebetulan Budhe lagi ada pelatihan di Bogor sehingga dia ditangani oleh tim bidannya yang juga nggak kalah baik, lembut, dan supportif.

Saya dan suami tiba di lokasi sekitar pukul 9, saat itu di teras tampak beberapa ibu hamil besar yang lagi menunggu jadwal yoga. Saya disambut oleh bidan berseragam ungu yang mempersilakan masuk ke dalam ruang periksa. Tempat praktik itu sebenarnya adalah rumah tinggal biasa yang terletak di pinggiran kota Depok, nggak seberapa jauh dari stasiun Citayam, hanya berjarak 30 menit dari rumah kami. Selama berada di ruang konsultasi, sebetulnya nggak ada prosedur yang berbeda dibandingkan konsultasi sebelumnya. Seperti biasa saya diukur tensi, ditimbang berat badan, lalu ditanya ada keluhan apa, dan diedukasi mengenai hal-hal yang penting saya ketahui di usia kehamilan segini. Tapi mungkin hal-hal kecil namun berarti yang bikin saya happy, dimulai dari sambutan para tim bidan yang hangat. Selain itu juga nggak ada satu pun tim bidan yang julid pas ngecek berat badan saya. Sebelumnya saya pernah punya pengalaman kurang enak ketika kontrol di rumah sakit, susternya ngomentarin berat badan saya yang dari sebelum hamil juga emang segitu. Kontrol bulan lalu ketika bertemu dengan dokter juga lagi-lagi dia ngomentarin berat badan saya tanpa mau repot-repot mempelajari catatan dari kontrol sebelumnya. Serius deh, buat ibu hamil perkara berat badan aja bisa jadi sensitif banget. Berat badan saya jika dibandingkan dengan penampakan tubuh saya biasanya memang menipu. 😂 Seringkali orang-orang menerka berat badan saya lebih ringan dari yang sebenarnya padahal aslinya mah berat, mungkin karena tipe badan saya agak padat.

Balik lagi ke kontrol kandungan, begitu selesai mengecek suara detak jantung janin yang katanya sih udah kedengeran meskipun samar (soalnya yang saya tangkap cuma suara usus 😂), tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Budhe. Ya ampun, nggak nyangka banget bisa ketemu, mungkin ini yang namanya jodoh ya. 😍 Padahal saya udah pasrah aja nggak apa-apa kok kontrol sama tim bidannya Budhe juga, ndilalah memang udah jalannya saya ketemu sama beliau. Memang bener apa yang diceritain sama ibu-ibu hamil di blognya, Budhe itu orangnya ramah dan selalu dikelilingi aura positif, sampai-sampai kita yang ada di dekatnya pun jadi ikut kecipratan aura positif itu. Kami diberi wejangan juga tips dan trik supaya nggak baper selama proses kehamilan sampai persalinan nanti. Semua pertanyaan yang saya ajukan dijawab dengan lengkap dan jelas, nggak terkesan terburu-buru nyuruh saya keluar padahal saya tau setelah ini beliau ada jadwal yoga, tapi masih sempat-sempatnya menyapa kami. Selain kesehatan fisik ibu hamil, yang nggak kalah penting untuk dijaga adalah kesehatan jiwa dan pikirannya. Karena kalau ibu hamil udah merasa tertekan entah dari mana sumbernya, efeknya bisa meluas ke mana-mana. Makanya penting buat ibu hamil supaya selalu happy.

Hampir tiga puluh menit berada di ruang konsultasi, Budhe cuma memberikan vitamin penambah darah yang juga dilengkapi asam folat. Sebelumnya tim bidan memang menjelaskan bahwa mereka jarang meresepkan obat pada ibu hamil kecuali memang benar-benar dibutuhkan. Biaya kontrol kandungan plus vitamin hanya Rp 150.000,- saja. Lucunya, ternyata suami saya lupa belum ambil uang ke ATM. 😐😑 Saya bilang terus terang sama Budhe dan dengan santainya beliau cuma bilang, "Aduuuh gampang, udah nggak usah dibawa repot mbak, tinggal transfer aja, nanti saya kirim nomor rekeningnya lewat Whatsapp ya. Kamu habis ini mau langsung ke kantor kan? Wis nanti malah kesiangan." Okay, saya bengong. 😂

Selesai konsultasi kami berpamitan dan cipika-cipiki, Budhe bahkan mengelus-elus perut saya. Sekarang saya tau kenapa pasien-pasiennya memanggil Budhe, karena rasanya memang nggak kayak habis kontrol sama bidan, tapi kayak habis berkunjung ke rumah saudara aja. Begitu keluar dari ruang konsultasi saya langsung kirim pesan lewat Whatsapp takut Budhe lupa, dan lagi saya juga nggak enak kalau terlalu lama dibiarkan. Tunggu punya tunggu, Budhe baru balas Whatsapp saya keesokan harinya. Aduh, padahal saya yang galau seharian, apa nggak gimana-gimana nih saya udah kontrol, udah dikasih vitamin, tapi belum bayar? 😔 Ternyata seharian kemarin beliau sibuk sekali karena harus mengurus 3 orang yang melahirkan. Sulit dipercaya rasanya hari gini masih ada orang yang sesantai itu sama uang, mungkin prinsipnya rezeki nggak akan kemana, nggak akan ketuker, karena udah diatur sama Gusti Allah. Seandainya kami berniat buruk, bisa saja kami mangkir dari tanggung jawab. Tapi Budhe percaya-percaya saja. :')

Pengalaman kami kontrol di sana benar-benar makin meyakinkan saya untuk kontrol kandungan terus di sana sampai tiba saatnya persalinan. Saya bertekad akan mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya bisa bertemu dengan si Sayang yang masih di dalam perut lewat gentle birth. Suami saya pun ikut kesengsem sama pelayanan Budhe dan juga tim bidannya. Malah dia yang lebih semangat pengen cepet-cepet nemenin saya prenatal yoga. 😂

Bagi ibu-ibu hamil yang rumahnya masih di sekitar Depok-Bogor, saya rasa nggak ada salahnya lho silaturahmi ke tempat praktik Budhe. Walaupun mungkin udah merencanakan untuk melahirkan di rumah sakit, masih banyak ilmu hypnobirthing dari beliau yang bisa kita pelajari supaya bisa menghadapi persalinan dengan percaya diri. Bidan Erie bisa dihubungi di nomor 087878728444. Kalau mau menghubungi beliau harus sabar yaa, karena dibalasnya biasanya lumayan lama, apalagi pas lagi banyak pasien. Tapi selama apapun pasti dibalas kok, tenang aja. Alamat tempat praktiknya nggak jauh dari stasiun Citayam, lengkapnya di Kampung Utan Jaya No. 46, RT 008/004, Jl. Raya Citayam, Kota Depok atau bisa klik di sini untuk lokasi di Google Maps.


Tampak depan tempat praktik Bidan Erie Marjoko. Sumber foto: Google Maps.

Bagian depan tempat praktik Bidan Erie Marjoko. Sumber foto: Google Maps.

Satu hal yang saya ingat nasihat dari Budhe, ibu hamil itu orang sehat, bukan orang sakit. Jadi ibu hamil boleh makan apapun yang penting menyehatkan. Ibu hamil harus mulai mendidik anaknya untuk makan makanan sehat sejak dalam kandungan. Makanya kalau mau anak kita nanti doyan makan makanan sehat, sejak dalam kandungan jangan dijejali makanan-makanan yang nggak sehat. Duuuh, meskipun sulit, tapi pasti akan saya coba, Budhe. 😅

Sekian cerita kehamilan saya kali ini, kalau ada yang mau nanya-nanya atau sekedar berbagi pengalaman, monggo tinggalkan komentar ya! 💁
Share:

Pemeriksaan TORC(H) di RSUD Pasar Rebo, Ternyata Lebih Murah!

Disclaimer: saya bukan praktisi medis sama sekali, tulisan ini murni saya buat dari sudut pandang orang awam, mohon jangan dijadikan acuan dan tetap konsultasi ke dokter.

Beberapa bulan yang lalu sebelum menikah, saya sempat menulis tentang pemeriksaan TORCH yang sebaiknya dilakukan oleh perempuan yang hendak menikah atau merencanakan kehamilan. Well, banyak juga yang bertanya bagaimana kelanjutannya ternyata. 😅

Sumber Ilustrasi: Freepik

Tadinya sesuai rencana, saya ingin melakukan pemeriksaan TORCH sebelum menikah. Namun ternyata karena kesibukan dan masalah waktu yang sangat terbatas seiring makin dekatnya hari pernikahan, akhirnya saya menunda pemeriksaan tersebut. Saya dan suami (ciyeee suami sekarang mah 😝) baru mendatangi RSUD Pasar Rebo sekitar dua minggu setelah hari pernikahan. Sebelum pergi ke sana, saya menghubungi bagian informasi RSUD Pasar Rebo via telepon untuk menanyakan jam layanan dan tarif pemeriksaan. Petugasnya menginformasikan bahwa laboratorium melayani dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore dari hari Senin sampai Jumat. Namun sayangnya mereka hanya bisa melakukan tes untuk Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) saja, sedangkan untuk Herpes Simplex Virus (HSV) belum tersedia. Baiklah....

Kami tiba di RSUD Pasar Rebo sekitar pukul 09.00 WIB, sudah agak siang untuk ukuran calon pasien rumah sakit pemerintah ya. Kalau mau lebih cepat dilayani semestinya kami datang lebih pagi. Karena saya belum pernah berobat ke sana, di loket pendaftaran saya harus mengisi formulir pasien terlebih dulu lalu membayar biaya pendaftaran, biaya cetak kartu, dan biaya konsultasi dokter kandungan, total semuanya Rp 80.000,- saja. Yap, untuk bisa melakukan pemeriksaan di laboratorium kita nggak bisa kucluk-kucluk langsung ke sana tapi tetap harus konsultasi ke dokter dulu. Setelah menyelesaikan pembayaran dan urusan administrasi, saya mendatangi Poli Kandungan untuk pemeriksaan tensi dan berat badan. Waktu tunggu yang kami habiskan hingga akhirnya dipanggil ke ruang dokter kandungan mungkin sekitar dua jam. Kami datang jam 09.00 WIB, baru masuk ruang dokter jam 11.00 WIB, padahal konsultasinya sebentar banget bahkan nggak sampai 5 menit.
😅

Lucunya, sewaktu diperiksa tensi, perawat yang memeriksa saya menanyakan beberapa hal: "Mau cek kandungan ya?" "Engga." "Terus mau apa?" "Saya mau periksa TORCH." "Oh, sebelumnya pernah keguguran ya?" "Engga." "Hmm... Oke... Keluhannya apa?" Entah kenapa, kayaknya dia agak aneh melihat ada pasien yang sehat wal 'afiat, nggak hamil, nggak punya riwayat keguguran, tapi mau repot-repot periksa TORCH. Memangnya aneh ya kalau kita mengambil langkah antisipasi? Apa nggak boleh kalau kita lebih pilih mencegah daripada mengobati? 😌

Keluar dari ruang observasi, kami membawa beberapa berkas dokumen yang diberikan kepada perawat. Kami lalu diminta pergi ke kasir untuk membayar biaya Pemeriksaan Obstetri dan Observasi Tanda Tanda Vital, totalnya Rp 40.000,- saja. Setelah dari kasir, barulah perawat tersebut memberikan resep suplemen yang diberikan oleh dokter, serta surat rujukan dari dokter untuk pemeriksaan laboratorium. Whoaaah..... Untuk mendapatkan ini semua aja makan waktu sampai dua jam lebih. 😌 Kami yang semula berencana izin setengah hari, terpaksa izin seharian penuh karena berangkat ke kantor pun percuma pasti sudah kelewat siang.

Sebelumnya saya udah bilang kan yaa kalau saya sempat menghubungi bagian informasi RSUD Pasar Rebo untuk menanyakan biaya pemeriksaan laboratorium. Ternyata informasinya memang akurat dan kurang lebih sama dengan informasi yang saya peroleh dari blog Kiki Erviani. Untuk detail harganya, bisa dicek di gambar berikut ini ya.

Seperti yang tercantum pada gambar, hanya ada pemeriksaan Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) saja, sedangkan untuk Herpes Simplex Virus (HSV) belum tersedia. Mungkin nanti kami akan mencari laboratorium lain khusus untuk pemeriksaan ini. Total biaya yang kami keluarkan untuk pemeriksaan termasuk biaya pendaftaran dan konsultasi dokter sekitar Rp 930.000,-. Mahal nggak? Mahal atau murah relatif sih. Tapi bagi kami harga segitu jauh lebih terjangkau ketimbang harus melakukan pemeriksaan di laboratorium swasta. Di tulisan saya yang sebelumnya, saya mencantumkan daftar harga berbagai laboratorium yang melayani pemeriksaan TORCH di wilayah Jabodetabek. Mulai dari Prodia, Kimia Farma, Gunung Sahari, Primadia, Biotest, sampai Pathlab.

Untuk sementara, kami cuma bisa menunggu dan berdoa. Sample darah saya sudah diambil untuk diperiksa, hasilnya baru bisa diambil tanggal 10 September 2018 mendatang. Tulisan ini akan saya update lagi kalau nanti saya udah dapat hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Semoga semua hasilnya baik-baik aja. 😊🙏

UPDATE (12 September 2018)

Berhubung tanggal 10 September kemarin saya pulang kampung, saya dan suami baru sempat mendatangi RSUD Pasar Rebo hari ini untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium. Nggak butuh waktu lama karena kami nggak harus antre seperti pasien biasa. Lalu hasilnya bagaimana? Hasil pemeriksaannya adalah.... hampir semua indikator negatif, kecuali Anti CMV IgG yang ternyata positif. Artinya apa? Well, sejujurnya saya juga belum yakin betul apa artinya dan langkah medis apa yang selanjutnya harus saya ambil karena kami belum sempat konsultasi ke dokter. 😅

Saya baru sempat googling sedikit dan menemukan sebuah jawaban yang lumayan menenangkan dari situs Alodokter. Kurang lebih penjelasannya seperti ini:

Sumber: Alodokter
 

Tapi..... sekali lagi saya tegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium tetap harus dikonsultasikan ke dokter langsung. Jangan cuma mengandalkan jawaban yang kita peroleh dari internet. Bagi saya jawaban seperti ini sifatnya hanya sementara dan untuk menenangkan aja karena asli saya juga awam banget sama istilah-istilah medis ini. 😅

Apakah semua perempuan yang hendak menikah atau akan memiliki anak wajib melakukan pemeriksaan ini? Mungkin ada sebagian yang berpendapat, "Ah, saya nggak pakai periksa-periksa lab kayak gitu, lancar-lancar aja tuh. Setelah nikah nggak berapa lama langsung hamil dan anak saya lahir sehat." Wah, syukur alhamdulillah kalau memang ada yang jalannya dimudahkan seperti itu. Tapi kalau jawaban saya, semuanya kembali pada keyakinan dan ketenangan hati masing-masing. Kalau memang yakin tubuhnya sehat dan udah menerapkan gaya hidup sehat juga, ya monggo lakukan sesuai keyakinannya. Tapi kalau memang yakin bahwa langkah terbaik untuk mempersiapkan tubuh adalah dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin, ya silakan lakukan. Intinya, lakukan apa yang terbaik menurut kamu. 😊

Buat yang mau sharing soal pengalaman tes TORCH-nya, boleh banget tinggalkan komentar. Kalau lagi senggang insya Allah akan saya balas. 😊
Share:

Pemeriksaan TORCH Sebelum Menikah, Pentingkah?


Sumber Ilustrasi: Freepik

"Jadi, persiapan nikahannya udah berapa persen, Ni?"

Hahaduh please jangan ditanya, sekarang lagi pusing-pusingnya dan masih super ketar-ketir. Insya Allah sih sekitar 70% urusan udah hampir rampung. Masih ada beberapa urusan yang tinggal diberesin, tinggal fitting, masih harus monitoring, briefing, dll. Well, biar saya nggak melulu mikirin perintilan nikah yang lain, kali ini mau bahas sedikit tentang TORCH. Mungkin istilah ini belum  banyak diketahui orang-orang. Tapi buat pemilik kucing seperti saya yang tiap hari bergumul sama makhluk-makhluk berbulu, istilah ini udah cukup lama saya kenal lewat artikel di beberapa blog yang saya baca.

Menurut Wikipedia, TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) pada wanita hamil. Infeksi TORCH ini sering menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan ataupun terjadinya keguguguran dini. Beberapa kecacatan janin yang bisa timbul akibat TORCH yang menyerang wanita hamil antara lain kelainan pada saraf, mata, kelainan pada otak, paru-paru, mata, telinga, terganggunya fungsi motorik, hidrosepalus, dan lain sebagainya dengan tingkat kecacatan bawaan mencapai 15 persen dari yang terinfeksi. Kekurangan gizi dapat memperberat risiko infeksi perinatal.

Kok kayaknya serem sih? Tenang dulu... Sebenarnya, beberapa virus TORCH ini kalau bersemayam di tubuh orang dewasa yang sehat, nggak akan membawa dampak buruk. Bahkan sebagian besar orang nggak menyadari kalau di tubuhnya lagi ada virus-virus ini. Namun, lain lagi urusannya kalau orang dewasa yang mengidap virus tersebut adalah wanita yang sedang hamil, karena bisa membahayakan janin yang sedang dikandungnya. Lalu, siapa aja orang-orang yang berisiko terinfeksi virus TORCH? Pertama, perempuan yang doyan makan sayuran mentah seperti lalapan. Kedua, perempuan yang doyan makan daging-dagingan yang tidak dimasak sempurna. Ketiga, perempuan yang memelihara hewan peliharaan namun kurang memperhatikan kebersihannya.

Saat ini saya punya 4 kucing (tadinya 5 tapi yang satu udah mati). Tiga kucing di antaranya adalah pejantan yang kalau main lebih sering di luar rumah dan biasanya agak brutal. Satu lagi kucing betina yang nggak pernah keluar rumah sama sekali. Selama ini saya juga yang bertanggung jawab membersihkan kotoran mereka di bak pasir. Jadi saya udah kelewat sering kontak langsung sama kotoran hewan. Jelas dong saya khawatir di dalam tubuh saya terdapat virus-virus TORCH ini.

Nah, saya pun mulai survei informasi seputar pemeriksaan TORCH, paling banyak referensi yang saya dapatkan adalah pemeriksaan di Laboratorium Klinik Prodia yang harganya, aduh... mending buat beli suvenir undangan deh. #KRAY 😢😂 Kalau mau tau perkiraan biaya pemeriksaan TORCH di beberapa laboratorium, bisa cek di Pesanlab, sebuah platform online yang melayani order pemeriksaan laboratorium dan medical checkup. Saya belum pernah coba pesan lewat sini sih, tapi ada salah satu blogger yang menggunakan jasa Pesanlab dan sepertinya memang terpercaya. Berikut ini saya lampirkan daftar laboratorium klinik yang bekerja sama dengan Pesanlab beserta alamat dan biaya pemeriksaannya. Disclaimer: biaya pemeriksaan mungkin bisa lebih rendah atau lebih tinggi jika mengontak langsung ke laboratoriumnya (bukan melalui Pesanlab).


No.
Laboratorium Klinik
Alamat
Biaya Pemeriksaan TORCH
1.
Prodia
Prodia Cideng, Jl. Cideng Barat No. 36 A, Jakarta Pusat
Rp 3.179.000,-
Prodia Kramat, Jl. Kramat Raya No. 150, Prodia Tower Lt. 1-3, Jakarta Pusat
Prodia Arteri, Arteri Pondok Indah, Jl. Sultan Iskandar Muda No. 31 C , Jakarta Selatan
Prodia Bona Indah, Ruko Bona Indah Plaza A2/ Kav. C7, Jakarta Selatan
Prodia Kampung Melayu, Jl. K. H. Abdullah Syafei No. 25, Jakarta Selatan
Prodia Kebayoran, Jl. Gunawarman No. 77, Jakarta Selatan
Prodia Ps. Minggu, Jalan Raya Pasar Minggu No. 98 E, Jakarta Selatan
Prodia Kedoya, Perkantoran Tomang Tol Raya Blok A II/22, Jakarta Barat
Prodia Puri Indah, Komplek Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/28, Jakarta Barat
Prodia Kelapa Gading, Jl. Boulevar Raya Blok H4 No. 15, Jakarta Utara
Prodia Pantai Indah Kapuk, Rukan Gold Coast Blok B2-3, Jakarta Utara
Prodia Pluit, Ruko Sentra Bisnis Blok A/6, Jakarta Utara
Prodia Sunter, Jl. Danau Sunter Utara Blok C1 No. 14, Jakarta Utara
Prodia Cibubur, Jl. Alternatif Cileungsi - Cibubur No. 8D, Jakarta Timur
Prodia Bogor, Jalan Jend. Sudirman No. 38 B, Bogor
Prodia Depok, Ruko Pesona Khayangan No. 9, Jalan Margonda Raya No. 45, Depok
Prodia Bekasi, Jalan K.H. Noer Ali No. 90, Kalimalang, Bekasi Selatan, Bekasi
Prodia Bintaro, Ruko Kebayoran Arcade 2 Blok B.3 No.33-35, Tangerang Selatan
Prodia BSD, Jalan Letnan Sutopo, Ruko Golden Madrid, Blok B No. 1-2, Tangerang Selatan
Prodia Gading Serpong, Jalan Raya Boulevard Gading Serpong Blok M5 No. 63 & 65, Tangerang Selatan
Prodia Tangerang, Sutera Niaga I No. 21, Ruko Alam Sutera, Serpong, Tangerang
2.
Gunung Sahari
Gunung Sahari, Jl. Gunung Sahari Raya 51 A3, Jakarta Pusat
Rp 2.455.000,-
Gunung Sahari Ruko Citra Garden, Ruko Citra Garden II, Blok I5.3 Daan Mogot, Jakarta Barat
Gunung Sahari Gading, Jl. Klp. Gading Boulevard, Blok FV 1 No.18, Jakarta Utara
Gunung Sahari Tole Iskandar, Jl. Tole Iskandar 9A, Depok
3.
Primadia
Primadia Percetakan Negara, Jl. Percetakan Negara II No. 21-22, Jakarta Pusat
Rp 3.290.000,-
Primadia Utan Kayu, Jl. Utan Kayu Raya No. 109b, Jakarta Timur
4.
Biotest
Biotest Menteng, Jl. Sumatra No. 48 Menteng, Jakarta Pusat
Rp 2.990.000,-
Biotest Wijaya, Jl Wijaya I No. 58 Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Biotest Pluit, Biotest Jalan Pluit Sakti No.25 Pluit, Jakarta Utara
5.
Kimia Farma
Kimia Farma Cikini, Jl. Cikini Raya No. 2, Menteng Huis, Jakarta Pusat
Rp 3.060.000,-
Kimia Farma Kebayoran, Jl. Kebayoran Lama No. 50 Jakarta Selatan, Jakarta Selatan
Kimia Farma Cibubur, l. Alternatif Cibubur, Ruko City Walk III Blok CW I-II Citra Gran Cibubur, Jakarta Timur
Kimia Farma Duren Sawit, Jl. Duren Sawit Raya No. 29 Jakarta Timur
Kimia Farma Bogor Juanda, Jl. Ir. H. Juanda No. 30, Bogor
Kimia Farma Depok, Jl. Sentosa Raya No. 11, Sukmajaya, Depok
6.
Pathlab
Pathlab Muara Karang, Jalan Raya Muara Karang No. 141 Blok A-7 Utara Kav. 30, Jakarta Utara
Rp 3.290.000,-
PathLab Sunter, Jalan Griya Utama Blok A No 42 Sunter Jaya, Jl. Griya Utama Blok A No.92, Sunter Agung, Tj. Priok, Jakarta Utara
Pathlab Gading, Boulevard Raya Blok TT No. 20, Jakarta Utara


Tenang dulu, jangan buru-buru panik lantaran melihat biaya pemeriksaan yang harganya jutaan semua. 😂 Saya juga awalnya panik sih, tapi saya nggak berhenti melakukan riset hingga akhirnya saya tahu kalau di RSUD Pasar Rebo juga melayani pemeriksaan TORCH dengan biaya yang murah banget. Saya dapat informasinya dari blog Kiki Erviani, yang bersangkutan melakukan pemeriksaan TORCH di RSUD Pasar Rebo pada tahun 2017 dengan biaya Rp 800.000,- saja! 😱😱😱 Kenapa kok bisa murah banget dibanding sama laboratorium klinik swasta? Kalau saya baca di forum ibu-ibu sih, jangan khawatir dengan akurasi hasilnya, karena mau murah atau pun mahal, prosedur serta alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan TORCH itu sama aja. Yang membedakan ya fasilitas gedung, pelayanan ekstra, dan faktor-faktor lain di luar prosedur standar. Selain RSUD Pasar Rebo, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo juga melayani pemeriksaan TORCH, cuma saya belum nemu blog yang menginformasikan biaya pemeriksaan di sana. Ada juga informasi dari blog Noni Rosliyani yang melakukan pemeriksaan TORCH pada tahun 2017 di Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta dengan biaya sekitar Rp 1.200.000,-, mungkin sekarang sudah naik. Ada yang mau menambahkan informasi biaya pemeriksaan TORCH di rumah sakit atau laboratorium yang lain? Monggo tinggalkan jejak di kolom komentar ya... 😊

Jadi, kapan saya mau melakukan pemeriksaan TORCH? Mungkin nanti beberapa minggu sebelum menikah. Yang penting saya udah mengantongi berbagai informasi yang saya butuhkan untuk pemeriksaan TORCH ini. Deg-degan nggak? Pastinya. Tapi buat saya lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal di kemudian hari. Karena biaya serta beban moril yang harus ditanggung akan jauh lebih besar kalau (amit-amit ya Allah) sampai saya hamil dalam keadaan tubuh saya sedang terinfeksi virus TORCH. 😢 So, buat para bride-to-be yang juga lagi mempersiapkan pernikahan, nggak ada salahnya kok melakukan pemeriksaan kesehatan seperti ini sebelum menikah. 😉
Share: