Sometimes, The Camera Girl Wants To Be Photographed Too

Sedari dulu, saya selalu jadi camera-girl. Saya selalu jadi orang yang bertanggung jawab membuat orang lain kelihatan bagus di dalam foto dalam segala suasana. Jangan kelihatan gendut, perutnya jangan kelihatan buncit, jangan membungkuk, jangan manyun, dll dsb. Tapi, ada nggak yang repot-repot memastikan saya juga punya potret diri yang bagus? Hehehe, ndak ada. :) Kebanyakan orang terlalu sibuk mengagumi potret diri masing-masing.

"Ih, gue lucu banget!"
"Yaampun di sini gue keliatan kurus nih."
"Waaah, lucu-lucu nih, sekali lagi dong!"

Daaaan, masih banyak lagi, ehehehe....

Seiring berjalannya waktu, saya hampir lupa rasanya punya potret diri sendiri yang bagus dan representatif. Seadanya sajalah, toh saya cuma tukang foto, yang penting acara ini  terdokumentasikan dengan baik dan semua orang happy punya foto yang hasilnya bagus. Saya pun mulai terbiasa mengalah saat harus foto grup dan saya jadi satu-satunya orang yang nggak ada di foto itu. Yes, I was invisible. I was there, but nobody cares.

Sampai suatu hari, saya ketemu seseorang yang nggak cuma senang hati memotret saya diam-diam, tapi juga berkata: "Kamu lucu lho kalau di foto." Respon saya waktu itu cuma: "Uh huh? Seriously?"

Dan kurang lebih beginilah ekspresi saya tiap kali lensa kamera dihadapkan ke wajah saya.

"Jangan foto candid mulu!"

Yes, I feel uncomfortable in front of the camera. Lebih baik saya yang pegang kamera dan saya pastikan kalian punya foto yang bagus, daripada saya yang harus berdiri di depan kamera & bergaya. I didn't feel good about myself. I didn't think I am good enough to be photographed. Saya nggak masalah kok kalau saya nggak muncul di sebagian besar foto. Saya merasa cukup puas bisa merekam jalannya acara dengan kamera di tangan saya.

Tapi lagi-lagi dia bilang, "As long as you're going with me, you'll always have your own personal photographer," *tersipu-sipu* "You're my partner, and at the same time, you're my model too. Get used to it."

"Liat sini doong..."

Saya yang tadinya nggak nyaman kalau lensa kamera diarahkan ke wajah saya, lambat laun melunak. Baiklah, sesungguhnya ini bukan hal yang mudah, but he made it easier for me. He always trying to made me laugh. And suddenly, I'm a smiley girl!

Beberapa minggu kemudian, udah bisa luwes senyumnya!

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen still
Share:

Postcrossing: Turn Your Mailbox Into A Box of Surprises!

Pernah ngerasa sensasi muncul lampu di atas kepala dan langsung pengen ngomong “Eureka!” ala Archimedes? Minggu lalu saya baru aja mengalaminya. Yah, sebetulnya sih ide yang muncul di kepala saya bukan sesuatu yang amazing atau bakal membawa kemaslahatan bagi masyarakat dunia. Saya cuma terpikir, kayaknya seru kalau saya bisa kirim-kiriman kartu pos sama orang asing dari negara lain. Pertanyaan saya cuma satu: mau kirim ke siapa? Hehe…

Hal pertama yang saya lakukan adalah googling ‘komunitas kartu pos’, karena saya yakin meski jaman udah serba digital, pasti ada sekelompok orang yang masih mengapresiasi value benda fisik. Saya pun terdampar di situs Postcrossing yang ternyata udah eksis sejak tahun 2005. Wow, kemana aja saya selama ini? Hahaha… Proyek yang digagas oleh Paulo Magalhães ini memiliki slogan "send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world!". Hmm, pas banget memang ini yang saya cari.

Proses untuk bergabung dengan komunitas ini relatif gampang kok, nggak ada bedanya kayak kalau kita mau sign up di Facebook, Twitter, Instagram, maupun platform social media lainnya. Kita juga diharuskan memasukkan alamat pengiriman kartu pos. Nah, setelah akun kita berhasil dibuat, kita bisa masuk ke halaman dashboard yang tampilannya kurang lebih seperti ini. Karena saya baru banget join di Postcrossing, belum ada kartu pos yang saya kirim maupun saya terima. Hehehe...

Di bagian profil kita juga bisa memilih apakah kita bersedia melakukan direct swap atau nggak, saya pilih bersedia. Jadi direct swap ini memungkinkan kita berkirim kartu pos langsung dengan member lain tanpa melalui Postcrossing. Mungkin yang bisa kayak gini kalau sebelumnya kita udah pernah berkirim kartu pos dengan orang itu kali ya? Asyik dong kalau bisa punya sahabat pena dari luar negeri. ;)


Nah, ketika kartu pos kamu sampai di tempat tujuan (kira-kira butuh waktu sekitar 2 mingguan lah), si penerima kartu pos akan memasukkan Postcard ID yang tercantum di kartu pos kamu ke dalam akun Postcrossing-nya. Proses inilah yang akan memungkinkan kamu mendapat kartu pos dari member lain yang juga dipilih secara acak dari seluruh dunia. Seru banget kan? :D

Biasanya di profil member Postcrossing mereka suka mencantumkan pesan singkat atau informasi lain tentang diri mereka. Misalnya dari mana mereka berasal, apa pekerjaan mereka, apa hobi mereka, siapa penulis/penyanyi/bintang film favorit mereka, pokoknya apapun deh. Kadang-kadang juga mereka mencantumkan special request kartu pos seperti apa yang mereka suka, atau pesan apa yang mereka inginkan ada di dalam kartu pos itu. Ya nggak ada salahnya sih kita ngikutin permintaan mereka kalau memang nggak terlalu merepotkan. Hehe...



So, saya udah mengantongi 5 alamat yang akan saya kirimi kartu pos. Semuanya perempuan dan berasal dari negara yang berbeda: Austria, Taiwan, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat. Sebagai delegasi Indonesia (ciye gitu), saya nggak mau dong kalau ngirim kartu pos ke mereka dengan desain yang ala kadarnya banget? Cuma sayangnya saya cari kartu pos ke kantor pos di kota Bogor, ternyata harus ambil nomor antrian segala. Aduh, kok nggak asik banget sih? Macam kita mau setor tunai di bank aja. Asli deh, PT Pos Indonesia ini butuh banget refreshment dalam pelayanannya di banyak aspek. Kenapa nggak bikin pojok minimarket khusus yang menjual kartu pos, perangko, dan souvenir lainnya? Kayak gitu kan lebih asik ya ketimbang harus ngantri panjaaang cuma buat beli kartu pos, yang mana desainnya pun saya nggak yakin bagus apa enggak.

Untungnya, salah satu member Postcrossing Indonesia ada yang membaca peluang ini dan dia pun menjual kartu pos dengan desain yang super lucu. Katalog kartu posnya bisa dilihat di akun Instagram @haloposnesia. Mereka bikin desain dengan berbagai tema dan ada juga edisi khusus yang dibuat bertepatan dengan event tertentu. Misalnya ada tema makanan tradisional, jajanan pasar, baju adat, peta Indonesia, bahkan ada edisi hantu Indonesia dalam rangka Halloween. Haha... Ilustrasinya baguuuus banget, pokoknya dijamin nggak bakal malu-maluin buat dikirim ke negara lain deh.
Sebagian kartu pos yang dijual oleh @haloposnesia.

Oh iya, pas saya ke kantor pos dan menanyakan tentang kartu pos ini, beberapa kali saya malah ditanya, "Buat anak SD ya?" Eeeerr, no? Mungkin sekarang satu-satunya alasan orang mau beli kartu pos ya cuma buat memenuhi tugas sekolah aja. Duh sedih amat sih... :( Semoga member Postcrossing terus bertambah ya, dan komunitas kartu pos di Indonesia juga jalan terus, sebagai pemula di bidang kartu pos ini, saya ngarep banget proyek ini bisa berlangsung seterusnya.[]
Share:

Selamat Datang di Team Mata Empat!

Setelah 26 tahun hidup dan membangga-banggakan penglihatan saya yang sehat & tajam, akhirnya tiba juga saya nggak bisa lihat tulisan di papan tulis pas lagi meeting, padahal jaraknya cuma 4 meter ke depan. Di situ saya frustasi banget dan jadi nggak konsen sepanjang meeting. Sebetulnya gejala ini udah lumayan lama saya rasain, tapi saya mikir mungkin mata saya cuma lelah. Hari-hari biasa kalau lagi di jalan, saya masih bisa lihat tulisan jarak jauh asal ukurannya besar. Tapi efeknya kepala saya gampang pusing, mata saya kayak dipaksa bekerja lebih keras.


Oke, cukup ngalor-ngidulnya. Sebelum beli kacamata, jelas saya harus cek dulu dong ke dokter mata. Di sini saya galau, harus cek di mana? Di klinik, puskesmas, rumah sakit, atau langsung datang ke optik? Mending pakai biaya sendiri atau ngandelin BPJS? Setelah diskusi sana sini, saya akhirnya putuskan buat periksa lewat jalur non-BPJS aja, karena terus terang saya nggak ada waktu buat urus tetek bengek surat rujukan, legalisir, dan urusan ina-inu lainnya.

Dari sekian banyak opsi rumah sakit yang ada di Bogor, saya putuskan untuk menjajal poli mata di Kimia Farma Juanda. Nggak ada alasan khusus sih, simply karena temen saya ngajak meriksa bareng di situ, dan kayaknya harganya lumayan reasonable. Sebelum saya memutuskan ke sana, sebetulnya saya udah googling siapa tau ada opsi lain, tapi yaampun nyari data valid dan terkini tentang fasilitas kesehatan di Bogor tuh susahnya setengah mati. Yakali saya harus samperin satu-satu semua rumah sakit atau klinik yang punya poli mata. Ain't nobody got time for that.

Nah, supaya teman-teman nggak mengalami kesulitan yang sama dengan saya, berikut ini saya lampirkan jadwal praktik dokter di Kimia Farma Juanda, Bogor. Surprisingly, ternyata daftar dokter spesialis mereka lumayan banyak dan lengkap ya.

Spesialisasi
Nama Dokter
Jadwal Praktik
Spesialis Penyakit THT
dr. Andi Rizal Jenie
Senin – Sabtu pukul 18.00 – 21.00
(Pengambilan nomor langsung di poli)
Spesialis Penyakit Dalam
dr. Djabir Abudan
Senin, Rabu, & Sabtu pukul 15.00 – 17.30
Spesialis Bedah
dr. Agil Salim
Senin – Jumat pukul 19.00 – 21.00
Sabtu pukul 08.00 – 09.30
Spesialis Mata
dr. Indira
Senin – Kamis pukul 16.30 – 19.00
dr. Elisa
dr. Michel
dr. Ujang Yamin
Sabtu pukul 09.00 – 11.00
Spesialis Kulit & Kelamin
dr. Euis Nana Resna, SpKK
Selasa & Kamis pukul 19.00 – 21.00
dr. R.K.T.Ko.MD DV
Senin, Rabu, & Jumat pukul 16.00 – 20.00
(Daftar langsung di poli dengan asistennya)
Khusus Facial hari Kamis pukul 16.00 – 20.00
Spesialis Kandungan
dr. Farhan Djuned
Senin, Rabu, & Jumat pukul 19.00 – selesai
Spesialis Saraf
dr. Willy Wijaya, SpS
Selasa, Rabu, & Kamis pukul 17.00 – 19.00
Spesialis Anak
dr. Herman, SpA
Senin – Jumat pukul 18.30 – 20.30
Dokter Umum
dr. Renung Kastopo
Senin – Jumat
Pagi (09.30 – 12.00) & Sore (17.00 – 21.00)
dr. Wendri
Senin – Jumat pukul 13.00 – 16.00
Sabtu pukul 09.00 – 12.00
dr. Lugina Jatianita
Senin – Jumat pukul 15.30 – 18.00
dr. Handoko
Senin – Sabtu pukul 18.00 – 21.00
Klinik Gigi
drg. Andi Rahmatiah
Senin, Rabu, Jumat, Sabtu pukul 10.00 – 13.00
Senin – Jumat pukul 18.00 – 20.30
Spesialis Kedokteran Jiwa
dr. H. Amienuddin Saad
Senin – Kamis pukul 14.30 – 16.00
Jumat & Sabtu (dengan perjanjian)
Fisioterapi

Senin – Jumat pukul 10.00 – 20.00
Sabtu pukul 10.00 – 18.00
Optik

Senin – Sabtu pukul 08.00 – 21.00
Minggu pukul 09.00 – 14.00
Laboratorium

Senin – Sabtu pukul 08.00 – 21.00

Sebetulnya kalau datang langsung, di bagian depan Kimia Farma ada plang besar yang berisi jadwal praktik dokter, tapi ternyata datanya kurang update. Saya datangi loket pendaftarannya dan petugas di sana cukup kooperatif menjelaskan tentang jadwal baru ini. Oh iya kalau teman-teman mau bikin janji atau sekedar nanya-nanya lewat telepon, bisa hubungi nomor 0251-8363473 atau lewat Whatsapp di nomor 085774116313.

UPDATE:
Hari Sabtu, 4 November 2017 saya kembali lagi ke Kimia Farma Juanda. Walaupun di jadwal tertulis dr. Ujang Yamin baru mulai praktik jam 09.00, saya sudah datang sejak pukul 07.30 pagi atas saran petugas. Berhubung dr. Ujang sedang sakit, beliau membatasi hanya akan mengambil sekitar 5 pasien saja per hari jadi siapa cepat dia dapat. Saya pikir saya akan jadi pasien pertama yang daftar, ternyataaaa, saya nyaris nggak kebagian slot lantaran pasien yang daftar udah 6 orang, melebihi kapasitas. Aduh… :(

Beruntung petugas pendaftaran masih mengijinkan saya untuk daftar. Jadi, ternyata dr. Ujang Yamin ini udah lumayan sepuh. Semula beliau nggak ada jadwal praktik hari Sabtu itu, tapi mendadak beliau mengabari asistennya bahwa ia ingin praktik, sekalian melatih kakinya. Beliau baru datang sekitar pukul 10.00 dan para pasien pun mulai dipanggil ke dalam ruang pemeriksaan. Saya baru dipanggil sekitar pukul 10.50, lumayan cepat juga ya. Tadinya saya pesimis pemeriksaan ini bakal sia-sia, gimana kalau ternyata saya cuma lebay aja? Gimana kalau ternyata mata saya cuma lelah aja makanya pandangan suka agak kabur? Tapi daripada penasaran lebih baik cari tahu sendiri kan? Di dalam ruangan saya disuruh duduk dan penglihatan saya dites dengan alat khusus. Prosesnya sendiri cuma makan waktu sekitar 5 menit aja, dan ternyataaaaaa vonisnya adalah…. mata saya minus 1,25 kanan dan kiri. Ya Tuhan… :(

Sejujurnya saya agak syok sih karena nggak membayangkan minus di mata saya bakal nembus angka 1. Tadinya saya pikir paling top minus 0,5 laah, karena di luar ruangan mata saya masih cukup bisa diandalkan untuk membaca tulisan-tulisan yang jaraknya lumayan jauh. Yah, mau gimana lagi? Seenggaknya mata saya nggak silinder sama sekali. Pantesan aja kepala saya sering pusing, mungkin itu cara tubuh saya berkomunikasi bahwa ada sesuatu yang nggak beres dan harus ditangani segera. Kalau udah kayak begini sih, saya nggak bisa mengelak lagi, mau nggak mau saya harus pakai kacamata. Kecuali mau bertahan terus-terusan meeting dalam keadaan nggak tau materi apa yang lagi ditampilkan di layar monitor.

Oh iya, untuk pemeriksaan mata di Kimia Farma, saya dikenakan biaya Rp 150.000,- yang dibayarkan langsung ke asisten dr. Ujang. Tadinya saya pikir saya bakal dikenakan biaya pendaftaran juga karena itu kali pertama saya ke sana, tapi ternyata nggak ada biaya apapun lagi. Lumayan terjangkau sih, semula saya pikir biaya pemeriksaan mata ini bakal berkisar Rp 200.000,- hehehe…

Di Kimia Farma Juanda juga ada optiknya, tapi saya nggak mau nebus kacamata di sana karena harganya mahal. Memang sih ada harga ada kualitas. Sekitar tahun 2010 teman saya beli kacamata di optik Kimia Farma dikenakan biaya sekitar Rp 500.000,- tapi kacamatanya masih awet banget sampai sekarang padahal teman saya joroknya minta ampun. Kalau 7 tahun lalu aja harga kacamatanya udah segitu, bayangin aja sekarang  berapa harganya? Untuk sementara, kayaknya saya cari optik yang harga kacamatanya lebih bersahabat aja deh. Hehehe…

Well, semoga tulisan ini cukup membantu ya buat yang lagi nyari dokter spesialis mata ataupun dokter spesialis lainnya di kota Bogor. Semoga sehat selalu![]
Share:

Vespa Super Tanpa Nama

Kalau bicara tentang Vespa, saya selalu punya tempat tersendiri di hati untuk kendaraan antik dari Italia ini. Iya, itu kendaraan bermotor pertama yang dibeli ayah saya puluhan tahun lalu. Sekitar tahun 2000an, ayah saya baru pulang malam hari sambil membawa Vespa berwarna abu-abu kebiruan. Vespa Super keluaran tahun 1973 dengan mesin 2 tak, serta lampu depan yang berbentuk bulat. Sejak malam itu, hari-hari keluarga kami dipenuhi oleh bokong besar abu-abu dari Vespa yang tak sempat kami beri nama. Waktu saya masih SD, Vespa itu berjasa mengantar kami sekeluarga dari rumah ke sekolah dengan formasi saya di depan, ayah saya yang mengendarai, lalu adik saya di tengah, dan paling belakang ibu saya. Kami bukan keluarga dengan postur tubuh kecil, apalagi kalau kalian lihat ibu saya. Sampai sekarang saya nggak habis pikir, kok Vespa itu tahan ya kami dzolimi selama bertahun-tahun?


Sepanjang perjalanannya, Vespa itu sudah melewati banyak transformasi. Mulai dari stang motor yang diganti dari lampu depan bentuk bulat ke bentuk kotak, sampai penambahan ‘kumis’ di penutup ban depan yang semakin menambah ketampanannya. Dulu, saya sering kesal kalau si Vespa memutuskan untuk mogok di jam berangkat atau pulang sekolah. Saya sampai khatam step-by-step yang harus dilakukan kalau si Vespa tiba-tiba mogok. Buka kap mesin samping, lalu keluarkan businya, karena itu biasanya sumber masalah utama. Kalau businya kebanjiran, lap dengan kain lembut, lalu coba pasang lagi. Kalau belum bisa juga, keluarkan lagi, lalu gosok dengan amplas bagian ujung businya. Begitulah kira-kira yang biasa dilakukan ayah saya kalau Vespa kesayangannya mogok.

Kadang masalah mogok itu bisa selesai dalam hitungan menit, kadang bisa sampai berjam-jam. Saya biasanya cuma duduk di pinggir jalan sambil memperhatikan ayah saya bekerja. Nggak sekali dua kali ada pengendara Vespa lain yang menepi dan membantu ayah saya, padahal mereka juga nggak kenal siapa kami. Tapi memang begitulah yang saya saksikan, solidaritas pengendara Vespa itu nyata adanya, bukan bualan semata. Nggak tau tapi ya kalau pengendara Vespa matic keluaran terbaru, ehe... :p

Ayah saya & vespa kebanggaannya.

Singkat kata, semakin membesarnya keluarga kami, si Vespa ini semakin ngga mungkin buat ditumpangi berempat sekaligus. Badan saya semakin tinggi, adik saya juga udah nggak mungkin lagi digencet di tengah-tengah. Akhirnya ayah saya beli motor Honda Astrea Prima yang sayapnya warna putih. Saya nggak tau tahun berapa persisnya motor itu keluar, mungkin sekitar tahun 1990an. Beban si Vespa mulai berkurang sedikit karena biasanya ayah saya pakai motor bergantian, kadang Vespa kadang Honda. Selang beberapa tahun kemudian ayah saya beli satu motor lagi, Honda Astrea Star, masih tetap motor second, tapi tahun produksinya kalau nggak salah sih lebih baru dari Astrea Prima. Motor itu yang dipakai oleh ibu saya untuk transportasi pulang pergi dari rumah ke sekolah.

Pasca kehadiran dua motor Honda Astrea itu, si Vespa semakin jarang diajak jalan. Sehari-hari ia jadi satpam di teras rumah kami. Sesekali ayah saya masih suka mengajaknya jalan-jalan sore sambil memanaskan mesinnya. Kadang beliau jalan sendiri, kadang saya merengek ikut diajak juga. Kadang-kadang kalau lagi kumat isengnya saya duduk di boncengan tapi sambil menghadap belakang. Nggak tau maksudnya apa, mungkin cuma mau cari perhatian tetangga. Hahaha...

Ayah saya duduk di atas Honda Astrea Prima, si Vespa di belakang.

Waktu itu saya sempat membatin, saya mau belajar naik Vespa ah, soalnya jarang ada perempuan yang bisa mengendarai Vespa. Tapi nggak mungkin juga saya minta diajari oleh ayah saya. Beliau pasti mikir, gimana mau bawa Vespa, diajari bawa motor Honda yang gampang aja saya nabrak pohon mangga. Ckckck...

Sayangnya, keinginan saya itu nggak kesampaian. Dengan berat hati, pada tahun 2008 kami harus melepas si Vespa untuk menambah biaya pendaftaran kuliah saya di IPB. Saya nggak tahu ayah saya menjual si Vespa ke mana, tapi mesin tua itu cuma dihargai sekitar satu juta rupiah saja. Ah, sungguh harga yang terlalu murah untuk ditukar dengan kesetian besi tua serta kenangan bertahun-tahun. Ayah saya bukan tipe orang yang suka mengumbar perasaannya, tapi saya tau, melepas si Vespa adalah salah satu keputusan terberat yang pernah ia ambil.[]
Share:

Apa yang Harus Dipertimbangkan sebelum Membeli Kamera Pertama Kali?

Disclaimer: Saya BUKAN fotografer apalagi pakar kamera. Saya cuma photography enthusiast yang pengen sharing pengalaman membeli kamera pertamanya, jadi harap maklum kalau pembahasannya sangat dangkal.

Membeli kamera pertama selalu membawa dilema tersendiri. Bagi sebagian orang, menggelontorkan budget sekian juta untuk benda kecil ini mungkin bukan masalah. Tapi bagi sebagian yang lain pertanyaannya mungkin, ambeh naon (re: buat apa)? Kan handphone sekarang juga kameranya udah canggih-canggih nggak kalah kayak kamera DSLR. Bener juga sih... Tapi jangan lupakan bahwa setiap benda atau komoditi selalu punya nilai objektif dan nilai subjektif. Nilai objektif itu jelas, kualitas yang dilihat dari kondisi benda yang sebenarnya. Meanwhile nilai subjektif berkaitan erat dengan subjek yang menilai benda tersebut. Bagi saya, dan rekan-rekan sesama photography enthusiast, sebuah kamera nggak bisa diukur dengan label mahal dan murah aja. Sebelum menilai kamera itu mahal atau murah dan menentukan kamera apa yang cocok dengan kita, ada banyak check list yang harus dijawab. Misalnya, beli kamera tujuannya untuk apa, budget-nya berapa, objek apa yang akan sering difoto, seberapa sering frekuensi pemakaiannya, fitur apa yang kalian utamakan wajib ada di dalam sebuah kamera, dan masih banyak lagi. Pertanyaan itu pula yang saya ajukan kepada diri saya sendiri sebelum memutuskan untuk meminang si Limpy (panggilan kesayangan saya buat si Olympus, heheu ~ ).


Olympus Pen E-PL7 (Source: Instagram @olympus_pengeneration)

Well, ini jawaban saya dari daftar pertanyaan di atas ditambah pertanyaan lain yang mungkin relevan buat teman-teman. :)

1. Beli kamera tujuannya untuk apa? Kebetulan setelah sekian lama saya mulai seneng motret lagi, jadi pengen punya kamera buat belajar motret yang agak serius.
2. Objek apa yang akan sering difoto? So far, saya paling suka motret bunga, binatang, action figure, dan objek-objek random yang saya temukan. To be honest, I'm not really into portrait or street photography (ini dulu sih, sekarang udah mulai suka kok :p).
3. Seberapa sering frekuensi pemakaian kameranya? Karena cuma untuk menyalurkan hobi, mungkin 1-2 minggu sekali kalau lagi ada waktu senggang untuk motret.
4. Fitur apa yang kamu utamakan wajib ada di dalam sebuah kamera? Karena saya pengen kamera yang ringan dan ringkas, dari awal saya udah tau bakal pilih kamera mirrorless alih-alih DSLR. Saya mau kamera yang udah mendukung koneksi nirkabel supaya mempermudah transfer hasil foto. Pengennya sih yang udah support Optical Image Stabilization (OIS) karena saya belum mampu beli tripod. Terus kalau bisa yang daya tahan baterainya lumayan lama supaya nggak cepet lowbat. Saya juga mau yang review hasil videonya menurut pakar kamera udah cukup bagus. Oh saya juga mau yang layar LCD-nya bisa diputar dan touchscreen supaya lebih mudah menentukan titik fokus. Dipikir-pikir saya banyak maunya ya? Hahaha....
5. Apakah hasil fotonya akan dicetak atau hanya dipajang di galeri digital pribadi? Cuma buat dipajang di galeri pribadi, paling banter buat portofolio online. Soalnya enam bulan lalu saya nggak terpikir sama sekali akan ketemu klien yang mau pakai jasa saya. Hehehe...
6. Apakah ada keinginan untuk upgrade gear di kemudian hari atau cukup sampai sekedar punya? Ya jelas ada banget laah! Setelah mencicipi kamera sendiri untuk motret berbagai situasi, saya jadi gatel pengen nambah koleksi lensa fix. 
7. Apakah kamu tipe soliter atau punya circle yang juga suka fotografi? Kalau kamu tipe komunal, kamera apa yang paling banyak dipakai sama teman-teman kamu? Nah untuk pertanyaan pertama, saya tipe soliter; saya selalu jalan sendiri dan nggak berafiliasi dengan komunitas mana pun, jadi nggak ada istilahnya saya bisa pinjam-pinjaman gear kamera. Tapi, kalau kamu punya teman-teman komunitas sesama photography enthusiast, akan lebih bijaksana kalau kamu pertimbangkan untuk beli kamera yang satu merk dengan mereka. Hal ini akan mempermudah kamu untuk eksplor semua fitur dan fungsi kamera bersama mereka yang udah lebih berpengalaman. Selain itu juga kamu bisa saling pinjam gear dengan teman-teman yang koleksinya lebih lengkap. Mau nyoba lensa wide, macro, atau tele tapi belum ada budget buat beli sendiri? Pinjam aja dulu sama teman. Hehehe....
8. Berapa budget yang kamu punya? Saya tarik garis batas di angka 9 juta, segini aja udah bikin dompet meringis. Hiks... T^T

Sejujurnya, beberapa jawaban di atas udah ada yang mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Enam bulan berlalu, saya mulai kenal karakter kamera saya dan juga mulai memahami gaya saya sendiri. Sebelumnya saya nyaris clueless, dan itu cuma bisa dicari tahu dengan berani terjun, berani mencoba. So, dari awal saya udah tau kalau saya mau motret agak serius saya mesti punya lensa tambahan selain lensa kit. Jadi saya cari kamera yang dalam satu paket dapet 2 lensa supaya harganya lebih murah daripada beli lensa terpisah. Kandidat calon kamera pertama saya waktu itu: #1 Sony Alpha 5100 atau Sony Alpha 6000, tapi sayangnya kamera ini dua-duanya nggak ada yang dual lensa kit, jadi saya coret. Lalu kandidat kedua Fujifilm X-A3, harga masuk budget, ada versi dual lensa kit, tapi sayang menurut banyak review yang saya baca, fitur video di kamera entry level-nya Fuji itu nggak banget. Walaupun dari hasil foto, tone warna Fuji nggak perlu diragukan lagi lah, tapi saya tetap butuh kamera dengan fitur video yang reliable. #3 Panasonic Lumix GF9, sebetulnya kamera ini hampir menjawab semua keinginan saya, kecuali satu hal, daya tahan baterainya kurang lama. #4 Kandidat terakhir sekaligus yang akhirnya saya pinang: Olympus Pen E-PL7.

Waktu itu pertimbangan saya adalah review-nya Koh Alex (@aMrazing), karena dia pernah pakai Fujifilm juga Sony, tapi pada akhirnya dia berlabuh di Olympus OM-D E-M5 Mark II. Kalau dibanding sama Olympus Pen E-PL7 punya saya, kameranya Koh Alex itu flagship-nya Olympus sih, jauh banget memang kelasnya. Sebelum membeli Olympus, saya juga udah tau kekurangannya dia dari hasil research di berbagai komunitas fotografi. Di antaranya adalah Olympus itu begitu masuk Indonesia, entah kenapa harganya jadi lebih mahal ketimbang harga asli setelah dikonversi dari dolar. Udah gitu, kalau di tengah jalan mengalami kerusakan dan harus direparasi, spare part-nya Olympus agak susah didapat jadi harus nunggu agak lama bisa lebih dari sebulan. Oh ya, Olympus juga sensornya kecil, lebih kecil dari Fujifilm, Sony, Canon, atau Nikon yang kebanyakan menggunakan sensor APS-C. Hal ini penting untuk diketahui karena ukuran sensor akan berpengaruh terhadap hasil gambar, serta jenis lensa yang digunakan. Olympus dan Panasonic sama-sama menggunakan sensor Micro Four Thirds. Penjelasan soal sensor ini kayaknya lebih enak kalau teman-teman baca langsung dari website Infofotografi, soalnya di situlah saya belajar tentang dasar-dasar ilmu fotografi dari suhunya langsung. Hehehe....

Pada akhirnya, kalau budget kalian terbatas kayak saya, memang nggak ada kamera yang sempurna dan memenuhi semua keinginan kita sih. Mau nggak mau memang ada beberapa keinginan yang harus dikompromikan. Cuma kita sendiri yang tau, poin mana yang nggak terlalu penting dan bisa diabaikan, serta poin mana yang wajib banget ada bener-bener nggak bisa diganggu gugat lagi. Semua pasti butuh proses, nggak usah ngotot langsung beli kamera dengan fitur tercanggih apalagi kalau harganya di luar kemampuan kita. :)

Jadi, balik lagi ke pertanyaan sejuta umat: kamera yang bagus apa ya? Saya yakin deh, kalian mau tanya sama pakar kamera manapun, kemungkinan besar kalian malah akan ditanya balik. Hehehe... Yang perlu kita tanamkan dalam kepala, mau sebagus apapun kamera, yang menentukan kualitas foto tetap orang yang berada di balik lensa. Salam jepret! :)



PS: Kalau ada yang mau nambahin tips memilih kamera pertama, boleh banget lho share di kolom komentar. Sharing is caring![]
Share:

Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part II)

Marina Bay Skyline

Yak, sesuai janji saya di postingan sebelumnya, saya mau melanjutkan cerita trip Singapura-Malaysia bagian kedua. Salah satu keputusan yang nggak saya sesali saat trip ke Singapura kemarin adalah memilih Meadows Hostel sebagai tempat berlabuh. Hehehe... Kebetulan Nuni yang bertugas pesan hotel, kalau nggak salah dia pesan lewat Hotels.com dengan harga 95 ringgit (sekitar 150 ribu) untuk 2 orang. Sebenarnya saya anaknya nggak neko-neko dalam memilih penginapan. Apalagi waktu saya traveling sendirian di Surabaya, meskipun waktu itu difasilitasi oleh kantor, ketimbang tidur di hotel yang agak bagus saya lebih memilih tidur di hostel dorm karena saya anaknya penakut kalau harus tidur sendirian. Hahaha...

So far, udah dua kali saya menginap di hostel dorm tapi selalu yang model kapsul (bukan tempat tidur tingkat biasa, melainkan ada sekat dan tertutup tirai), alhamdulillah saya nggak pernah mengalami hal yang nggak enak. Yang penting tetap waspada terhadap barang bawaan dan manfaatkan fasilitas loker untuk menyimpan barang berharga. Meadows Hostel yang kami tempati sebenernya agak anomali, karena lingkungan sekitarnya bukan tempat lazim bagi backpacker. Kami cukup beruntung bisa dapat hostel bagus, bersih, dekat stasiun MRT, sudah termasuk sarapan pula dengan harga di bawah 15 SGD.

Bagian dalam Meadows Hostel (Source: Booking.com)

Anyway, di hari kedua ini jadwal kami agak sempit, karena jam 14.30 kami harus naik bus yang akan mengantar kami dari Singapura ke Kuala Lumpur. Niat awal, kami mau ke Merlion Park sambil mengitari Marina Bay, makan es krim di Orchard Road, lalu ke Mustofa untuk belanja oleh-oleh, baru kembali ke hostel untuk mengambil ransel dan menuju ke pool bus di Golden Mile Complex. Kenyataannya? Marina Bay ternyata terlalu luas untuk dilewati dengan berjalan kaki dan terlalu banyak spot foto cantik untuk diabaikan begitu aja. Prediksi awal paling lama cuma 1,5 jam aja kami mengitari kawasan itu termasuk foto-foto di Merlion Park, realitanya molor sampai hampir 3 jam! Hahaha...

Untuk menghemat waktu, akhirnya kami batal ke Mustofa. Dari Merlion Park kami naik MRT ke Orchard Road untuk makan es krim (ini ngidamnya Nuni lho, bukan saya, hehehe… :p), sedangkan untuk belanja oleh-oleh kami mampir ke Lucky Plaza yang masih terletak di kawasan Orchard Road. Lagi-lagi, karena keasyikan belanja akibatnya kami harus berkejaran dengan waktu saat kembali ke hostel. Sambil bawa kantong belanjaan, kami setengah berlari menyusuri jalanan. Saya yang biasanya butuh waktu lama buat mikir harus naik MRT di jalur mana, belok ke mana, turun eskalator di mana; mendadak pintar multitasking dan bisa berpikir cepat. Memang ya, kita nggak pernah tau batas kemampuan kita kecuali saat di bawah tekanan. Hahaha…

Hijab street ala-ala di Orchard Road.
Sebenarnya, jarak antara Meadows Hostel dengan Golden Mile Complex nggak terlalu jauh, cuma sekitar 1,6 km. Untuk standar di Singapura, mestinya bisa dicapai dalam waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi karena waktunya benar-benar mepet dan ransel kami lumayan berat, terpaksa kami sewa Uber. Agak nyesek sih, jarak cuma 1,6 km harus merogoh kocek 6,5 SGD (sekitar 65 ribu rupiah). Kalau di Jakarta, dengan uang segitu mungkin kita bisa naik Uber dari Jakarta Selatan sampai ke Jakarta Pusat. T^T

Sebelumnya saya udah pernah ke Kuala Lumpur, tapi menyebrang dari Singapura ke Kuala Lumpur dengan naik bus, well itu pengalaman baru buat saya. FYI, Nuni udah pesen duluan tiketnya lewat website, saya lupa apa nama website-nya. Sama halnya seperti di Indonesia, perjalanan Singapura – Kuala Lumpur dengan bus dilayani oleh beberapa perusahaan. Kita bisa memesan lewat website, mau naik bus dari perusahaan apa, jam berapa, dan durasi perjalanannya berapa lama. Di sini agak sedikit tricky, meski sama-sama jurusan Singapura – Kuala Lumpur, kayaknya tempat pemberhentian serta rute yang mereka lewati beda-beda, karena waktu tempuh setiap bus juga berbeda. Waktu tempuh tercepat sekitar 4 jam, namun ada juga yang keterangannya 5 jam, 6 jam, 8 jam, bahkan lebih dari itu. Dengan harga 18 SGD (sekitar 180 ribu rupiah), harga segitu termasuk yang termurah di antara harga bus lain. Kami agak takjub saat melihat bus yang akan kami tumpangi, karena ternyata busnya tingkat dua dengan formasi tempat duduk 2 – 1. Tempat duduknya pun dilengkapi sandaran kaki yang bisa dinaik-turunkan, dan ada mode kursi pijat walaupun pas dicoba cuma geter-geter aja. Hahaha… Sumpah saya norak banget karena ekspektasi saya paling cuma dapat bus antar kota-antar provinsi kayak di Indonesia yang duduknya sempit-sempitan formasi 3 – 2. Nggak taunya, dapat bus yang mevvah banget, alhamdulillah… :’)

Bagian dalam bus Transtar tingkat 2.
Tadinya juga saya pikir jembatan lintas laut yang menghubungkan Singapura dengan Malaysia itu kurang lebih sama seperti jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Ternyata jembatan yang dikenal sebagai Tuas Second Link ini panjangnya nggak sampai 2 km, sedangkan Suramadu panjangnya lebih dari 5 km. Tips aja sih, ada baiknya kita nggak tidur dulu sebelum sampai di daratan Malaysia, soalnya kita masih harus melewati proses imigrasi di perbatasan dan mau nggak mau harus turun dari bus. Nggak mau kan lagi enak-enak tidur, diteriakin sama kondektur gara-gara kita baru bangun dan geraknya serba lelet? Kalau udah lewat dari perbatasan sih, mau tidur sambil nyeker juga terserah.

Perjalanan lintas negara yang kami lewati makan waktu hampir 7 jam padahal seharusnya hanya sekitar 5 jam. Agak di luar dugaan sih karena ternyata di tol ada kecelakaan, akibatnya terjadi kemacetan panjang sampai berkilo-kilo meter. Kami sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 21.30 waktu setempat dan langsung meluncur ke KL Sentral dalam keadaan lapar. Iya, saya dan Nuni yang doyan makan, selama di Singapura justru malah kuat nggak makan seharian, paling cuma diganjal roti dan air putih. Makanya begitu sampai di KL Sentral yang pertama kami lakukan adalah makan besar. Lupakan sejenak deh aturan nggak boleh makan besar di atas jam malam, karena saya tau beberapa jam berikutnya akses terhadap makanan pasti susah.

Kami sampai di apartemen Nuni yang terletak di Petaling Jaya tepat jam 12 malam. Rasanya badan campur aduk; capek, ngantuk, pegal, lengket, panas, dsb. Belum lagi harus packing ulang barang-barang bawaan supaya masuk semua di ransel saya yang cuma 30 liter. Usai mandi dan packing, saya sempatkan tidur sebentar walau cuma 1 jam, karena jam 3 pagi saya harus mengejar bus pertama menuju KLIA. Meski saya udah bangun tepat waktu, pesan GrabCar di jam segitu ternyata bukan perkara gampang. Hampir 20 menit saya nunggu di lobi apartemen dan nggak ada satu pun GrabCar yang nyantol. Saya udah ketar ketir karena busnya jalan tepat jam 03.30 pagi. Kalau saya melewatkan bus yang itu, jadwal bus berikutnya baru ada jam 05.00, gimana caranya saya bisa ngejar pesawat jam 07.40?

Begitu dapat GrabCar yang mau pick-up, kami langsung minta driver-nya buat ngebut biar gimana caranya bisa sampai di Paragon Mall dalam waktu kurang dari 10 menit. Biasanya saya paling gampang panik kalau berhubungan sama ketepatan waktu, tapi entah kenapa waktu itu saya cuma bisa pasrah dan ketawa-ketawa aja, mungkin efek kurang tidur makanya pikiran agak gesrek. Hahaha…

Perjalanan menuju bandara dini hari itu relatif lancar, jadi bus yang saya naiki pertama-tama berhenti dulu di KLIA2, baru setelah itu menuju perhentian terakhir di KLIA dengan biaya 12 ringgit (sekitar 36 ribu rupiah). Saya sampai di KLIA sekitar jam 04.30, tadinya saya pikir saya bakal kecepetan dan punya sisa waktu banyak untuk leyeh-leyeh di ruang tunggu. Ternyata… antrian check in di konter singa terbang aja makan waktu 2,5 jam! Dari jam 5 saya baru bisa melewati konter imigrasi sekitar jam 7. Yang saya nggak habis pikir, kenapa sih mereka nggak memberlakukan web check in untuk meminimalisir antrian kayak gini? Dari awal saya beli tiket saya langsung ancer-ancer untuk web check in. Menurut keterangan di website resminya, check in baru bisa dilakukan 24 jam sebelum keberangkatan. Oke, saya tunggu. Tapi begitu tiba waktunya, keterangan yang saya baca ternyata penerbangan ini cuma bisa check in langsung di bandara. Astaga, kesalnya bukan main.

Antrian mengular di konter check in.
Selama mengantri berjam-jam saya udah ngobrol sama entah berapa penumpang saking bosannya. Belum lagi kelakuan khas orang Indonesia yang suka potong antrean seenaknya. Tapi kondisi antrean pun udah terlalu ruwet untuk diperbaiki tanpa bantuan petugas. Di sana saya ketemu sama pasangan suami istri TKI yang mau pulang ke Indonesia tapi beda arah. Sang suami langsung terbang ke Surabaya, sedangkan istrinya transit di Jakarta lalu terbang ke Lampung karena harus mengurus sesuatu. Mereka berbaik hati memperbolehkan saya numpang nyimpen ransel di troli mereka. Mungkin mereka kasian liat cewek sendirian bawa ransel kayak tempurung kura-kura, sedangkan antrean geraknya cuma selangkah-selangkah.

Lewat dari konter imigrasi, kami jalan bertiga sampai akhirnya berpisah karena sang suami menuju Gate C 31, sedangkan kami harus ke Gate C 13. Saya bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan lain apalagi kepo sebenernya, jadi saya agak awkward setelah pisah dari suaminya, si istri jalan tapi nggak berhenti nangis. Sedangkan waktu juga udah kelewat mepet untuk ngajak dia duduk dan menenangkan diri karena gate udah hampir ditutup. Yang ada saya malah jadi pengen ikutan nangis juga padahal saya nggak tau duduk perkaranya. :’D

Walaupun perjalanan pulang itu agak drama, alhamdulillah saya mendarat dengan selamat di Bandara Soetta sekitar jam 9.40 WIB. Dua puluh menit saya menunggu, bus Damri tujuan Lebak Bulus akhirnya datang juga dan–tanpa dikasih kendor–saya langsung meluncur ke kantor dalam keadaan masih bawa ransel isi baju kotor. Teman-teman kantor saya sampai geleng-geleng kepala, takjub sama energi saya yang pamit Jumat sore, Senin pagi udah duduk lagi di kantor siap lanjut kerja. Ya mau gimana lagi? Namanya juga darah muda yang masih berapi-api, saya kerja juga supaya bisa beli tiket liburan lagi toh? Hehehe…

Your 20's are your selfish years. Old enough to make the right decisions and young enough to make the wrong ones. Be selfish with your time; travel, explore, learn something new, fall in and out of love, be ridiculous and silly, stupid and wild. Be 20-something!
Share: